Aku begitu menyayanginya, merasuk sampai ke urat2 darah, bahkan ke sumsum tulang yg paling dalam. Mungkin krn dia adalah sebagian diriku yg terlahir ke dunia…, dgn penderitaan yg tak seharusnya dia tanggung. Harusnya ini salahku kenapa di kehidupan sebelumnya terlalu kejam menghabisi nyawa anak2 tak berdosa, aku juga yg meminta Sang Maha segalanya utk menarik dia kembali ke sisiNya krn tak tega melihat kondisinya, sementara aku tak punya daya utk menyembuhkan dia. Saat itu aku sudah berjanji akan merelakan dia pergi, tapi sekarang sepertinya makin terasa penyesalan mendalam. Tapi selalu aku menghibur diri bahwa itu demi kebahagiaan dia, agar dia bisa terlahir kembali dgn fisik yg sehat dan di keluarga yg bahagia serta berkecukupan materi. Mungkin saat berada di “atas” nanti akan kucari dia utk melepas rindu. Seperti ratapan Eric Clapton dalam lagunya “Tears in Heaven”.
Kelahirannya adalah hal yg paling kutunggu2 lebih dari semua hal paling penting sekalipun di dunia. Sore itu di bulan September, aku bangga sekali menimang2 dia saat pertama kali dia menatapku dalam kehidupannya di dunia ini. Tapi sebulan kemudian dia harus rawat inap krn sisi sebelah kiri tubuhnya sering bergerak2 sendiri tak karuan, mungkin seperti kejang2. Dari informasi dokter merujuk hasil rontgen paru2nya ada sedikit bercak…, duh apalagi ini? Pikirku. Rawat inap 4 hari dia kembali sehat dan bisa pulang. Pulang sebulan di rumah, adikku perempuan bikin ulah. Pintu depan dibanting kuat sehingga anakku yg pas didekat pintu bersama mamanya terkejut. Adik keparat!!! Padahal dgn umurnya yg sudah 25 sudah cukup dewasa utk berfikir efeknya kalau bayi 3 bulan terkejut.
Mendengar kabar itu aku langsung telepon si adik brengsek dari kantorku, ku maki2 dia. Besoknya mamaku tidak senang aku marah ke adikku, katanya adikku tidak sengaja (padahal pintu depan itu berat lho kalau mau dibilang tidak sengaja menutup dgn keras), huh…. Ibuku apaan tuh, bukannya membela bayi yg terkejut malah membela makhluk brengsek yg sudah berumur 25.
Sejak saat itu mulailah tragedi kami, keluar masuk rumah sakit, kelenteng, dokter, sampai dukun urut dan paranormal menjadi rutinitas. Apa saja kulakukan demi dia, dia harus sehat kembali. Selama 15 bulan dia di sisiku, aku jarang tidur lebih dari 4 jam sehari. Tapi tak apalah, aku sayang banget sama dia. Sejak tragedi adik brengsekku itu, aku langsung keluar dari rumah tinggal di rumah mertuaku. Mertuaku ternyata lebih komunikatif dan lebih mau perduli atas nasib anakku. Aku benci kedua orangtuaku, namun karena mereka orangtuaku ya apaboleh buat, pasrah aja daripada berdosa.
Kedua kali dia kumat aku stress sekali, bibirnya tiba2 membiru dan dia nafasnya sesak. Mertuaku sibuk menghisap2 hidungnya utk “menghidupkan” dia kembali. Ku bersyukur pada Tuhan dia bisa tertolong, saat itu dia hampir berumur 1 tahun. Aku tak tahu apa yg menimpa kesayanganku itu, berat badannya tidak pernah lebih dari 6 kilo walaupun sudah 11 bulan, kurus sekali dan lemah. Dia hanya tertidur pasrah dan tidak bisa belajar tengkurap, lemah sekali kelihatannya (saat itu aku masih gaptek soal internet sehingga tidak tahu kalau itu adalah ciri-ciri penyakit jantung anak). Suatu hari aku melihat dadanya seperti ada tulang yg menonjol keluar, seperti bentuk piramid cuman agak rendah. Tengah malam aku menangis merenungkan hal itu, apalagi dia susah sekali minum susu. Dalam suasana ketakutan kalau dia kekurangan gizi kadang aku sering memarahi dia walaupun kemudian kusesali sambil menangis.
Saat dia berusia 13 bulan, saat malam hari aku tidur disampingnya, ya.. aku selalu tidur disampingnya agar bisa bangun utk membuatkan susu baginya, suatu kebanggaan tersendiri bagiku, entah kenapa. Saat memandanginya dgn kondisi tulang dadanya yg menonjol itu aku tidak tega, pikiranku mulai menerawang, membayangkan sebuah permintaan pada yang Berwenang di atas sana agar menarik dia kembali ke sisiNya utk mengakhiri penderitaannya. Pertempuran itu berkecamuk di dalam hati antara kasih sayangku yg begitu besar padanya sehingga takut kehilangan dia, dgn rasa cintaku yg begitu besar sehingga tidak sanggup melihat dia menderita. Akhirnya kuputuskan, dgn setitik airmata, aku memohon pada Nya agar menarik dia kembali ke sisiNya. Agar dia bisa bereinkarnasi kembali dgn tubuh yg sehat walafiat di keluarga yg bahagia dan mapan ekonominya. Hati kecilku kembali bertanya, atau mungkin suara Tuhan yg bertanya “Lantas kamu bagaimana? Sanggup gak melanjutkan hidup setelah kehilangan anak yg paling kamu sayangi?” Dengan berat aku menyanggupi, biarlah asalkan dia bisa bahagia dan tidak menderita seperti begini. Dokter sudah mendiagnosa kalau di bilik jantungnya (atau apapun itu) terdapat lubang cukup besar yang tidak bisa menutup seiring pertumbuhannya, itulah yg disebut kelainan jantung bawaan sejak lahir. Mungkin aku kurang beriman kalau Tuhan itu Maha segalanya dan bisa menyembuhkan dia. Mata hatiku tertutup ketakutan dan kesedihan.
Beberapa saat kemudian aku terjaga karena ada elusan tangan halus di pipiku, saat kubuka mataku aku melihat dia sedang menatapku seperti orang dewasa hendak mengucapkan perpisahan. Sambil tangan mungilnya membelai pipiku sekali (sekali bagiku sangat berharga krn itu berarti dia sudah mengeluarkan segenap tenaganya utk bisa membelai), seolah2 hendak berkata “Janganlah bersedih papa, aku tidak apa2 kok, aku sayang papa.” Aku kaget setengah mati sambil berkata”Ada apa nak?” dia kembali menutup matanya dan tidur (karena dia memang belum bisa bicara krn kondisinya yg lemah).”Tidurlah kembali nak sayang, tidak ada apa2. papa disamping, jangan takut.” Aku berbisik sambil membelai rambutnya yg jarang2 itu.
Dua bulan setelah malam itu, birunya kumat kembali. Dia memang sedang menjalani terapi dari spesialist jantung anak, kata dokter dia terlalu lemah utk menjalani operasi jantung jadi harus terapi dulu agar kondisi fisiknya memungkinkan. Paginya aku masih sempat memberinya minum obat dari dokter, kuraba keningnya terasa panas, dia demam. Dia memang sering demam, aku lalu minta pengasuhnya utk menempelkan gel penyerap panas di keningnya lalu aku ke kantor.
Pulang kantor, seperti biasanya aku langsung menemui matahariku tersayang. Tapi kulihat dia sgt lelah dan sesak nafasnya bbrp saat kemudian bibirnya mulai membiru lagi, aku tidak sempat bernafas lagi. Langsung ku gendong dia utk memberi pernafasan, bbrp sanak keluarga memberi bantuan, ada yg memijat2 kakinya. Dalam kegugupan melihat dia kejang2 dan takut dia tergigit lidahnya, kuselipkan jari telunjukku diantara gigi2 kecilnya. Rasa sakit ternyata tidak terasa lagi dalam kepanikanku. Beberapa menit kemudian kejangnya reda, ia terbaring lemah di pangkuanku. Airmataku tertahan tak berani kukeluarkan, agar ia tidak ikut bersedih melihatku menangis. Baru saja aku melonggarkan otot2 ku yang ketakutan, kejangnya kembali datang, kali ini kelihatan sekali dia sudah lelah.
Aku bangkit menggendong dia keluar, berlari sekuat tenaga ke dokter anak di belakang rumah utk memberikan pertolongan pertama padanya. Aku nekad menerobos antrian di ruang dokter, aku tak perduli, matahariku mesti bersinar kembali. “Kenapa dibawa kesini?” kata dokter sambil mengambil obat pereda step lalu di masukkan kedubur anakku. Dokter kemudian menulis pengantar ke rumah sakit.
Malam itu aku menjaganya terus tanpa tidur, ia kelihatan sangat lemah, dengan infus dan segala macam aksesorisnya. Nafasnya satu2, satu jam sekali aku menyuapinya susu sedikit demi sedikit walaupun dia tidak terbangun. Kulihat jam menunjukkan Jam 6 pagi, aku masih membayangkan kalau dia akan sembuh kembali seperti dulu, dan kami akan bermain2 kembali dgn boneka kelinci yg kubelikan utknya. Tiba2 aku tersentak mendengar suara “grek”, langsung mataku terarah kewajahnya. Kepalanya terkulai diam, kulihat setetes air mata mengalir keluar dari sudut matanya. Aku tak mendengar suara detak jantungnya saat kudekatkan telingaku ke dada kecilnya. Lemas seluruh diriku dari raga sampai ke jiwa, dia telah pergi meninggalkanku. Itulah tetes airmatanya yg terakhir, aku bagai orang gila berlari keluar mencari dokter jaga, tapi dimana? Aku kembali kedalam memeluknya, memberikan nafas buatan tapi tak ada hasilnya. Aku memanggil2 namanya sambil menciuminya penuh kasih sayang. Aku kemudian pasrah, teringat aku pernah meminta Tuhan menarik dia kembali krn aku tak tega melihat penderitaannya. Biarlah aku yang menderita akan selalu merindukan dia di hari2 kemudian. Biarlah dia terlahir kembali dengan fisik yg kuat dalam keluarga yg mapan dan bahagia. Aku rela….
Setelah dia dimakamkan, aku kembali kerumah orang tuaku karena istriku yg baru melahirkan perlu ditemani. Istriku tidak boleh tahu semua ini, kondisinya yg baru melahirkan akan membuat dia tidak kuat menghadapi semua ini. Anakku itu memang tidak tinggal bersama istriku krn saat dia melahirkan, anakku dititipkan utk dijaga dirumah mertuaku. Aku tidak ingin dan tidak mempercayai utk kutitipkan ke ibuku sendiri. Mertuaku lebih menyayanginya. Jadi istriku tidak tau kalau anak kesayangan kami sudah pergi. Aku ingin menunggu sampai sebulan baru memberitahunya, mengingat kondisinya yg baru melahirkan.
Begitu sulit rupanya menyembunyikan hal itu, utk menghindari pertanyaannya aku selalu beralasan akan menjenguk Michelle ku di tempat neneknya, utk memberinya obat terapi jantungnya, demikian alasanku.
Tiba2 teriakan canda kedua anakku mengagetkanku dari lamunanku ke masa lalu, ah…. Ternyata aku mengenangkan kembali tragedi Michelle ku. Ternyata sudah empat tahun kulalui sejak kematiannya. Setiap mengenangnya airmata selalu menggenang, aku termasuk orang yg tidak pernah menangis walaupun disuguhi film sesedih apapun. Tapi saat terkenang dia, aku tak sanggup menahan. Hanya adik2nyalah yg bisa menghiburku dan membuatku tersenyum, walaupun mereka tidak tau.
Suatu hari, lima tahun setelah kematiannya, sebuah suara berbisik dalam hati, “Maukah kamu kembali ke hari2 awal dimana Michelle masih hidup dengan sebuah kesempatan utk membawanya operasi jantung?” Aku tersentak, “Mungkinkah,”aku bertanya dalam hati. “Mungkin saja, tapi pilihan ada pada dirimu. Aku akan mengembalikan kamu kemasa itu, membawanya operasi jantung, dan sembuh sehat walafiat.”
Seminggu itu aku stress berat menentukan pilihan yg sulit itu. Bila kujawab ya, maka anak2ku yg sekarang sedang bermain2 di depanku tak akan pernah terlahirkan, padahal aku sangat sayang sekali dgn mereka, mereka seperti bagian yang tak terpisahkan dariku. Bila kujawab tidak, anak2ku yang sekarang tetap ada, tapi aku kehilangan Michelle. Bila memang di dunia ada kesempatan memilih seperti itu, akan sanggupkah kita memilih kembali ke masa lalu? Ataukah memilih melanjutkan hidup dan selalu dibayangi kesedihan masa lalu?
Aku tak sanggup memilih……., aku sudah lelah….
Bersambung ke sini…




Hiks.. Hiks…
*nangis*
Ya… Tak seharusnya orangtua memakamkan anaknya… Hiks…
Ini…kisah nyata…?
Ah, jujur…saya..saya begitu tersentak mendengar nama Michelle…saya ingin…ah, tidak. Lupakan…
Ga ada judulnya????????? Kelupaan ya??
Thanks ya udah jalan jalan
Weis, masih make moderasi pula. tolong di matikan moderasinya ya
Maaf, ini kisah pribadi ya Pak?
Turut berduka…
Maaf..sampai tidak bisa berkata2…
Waduh, sorry teman2 lupa tak matiin moderasinya… hehehe.. maklum masih hijau soal blog2-an ini
@Master Li
Hanya mencoba menulis cerita yg bisa menguras airmata sekaligus membuat berpikir akan fenomena hidup ini bila kita diberi pilihan utk bisa kembali ke masa lalu.
Mungkin merupakan kisah nyata bagi org2 yg anaknya menderita cacat jantung bawaan seperti yg gw baca dari hasil googling….
Btw, ada apa ya dgn Michelle? mirip dgn nama mantan ya?
@Fourtynine
Thanks banget sarannya…
@deking
Mirip kisah pribadi ya Mas?
Saya hanya coba memposisikan diri dan membayangkan bila kisah tersebut saya alami, dan coba menuliskannya agar banyak yg tergugah utk membantu anak2 yg terlahir cacat jantung bawaan (kebanyakan meninggal krn tidak punya dana utk operasi).
ceritanya dibikin buku aja
@Mas Roffi
kalo utk buku kependek-an ceritanya mas, lagian kurang sesuai dgn misi saya. Anyway thanks sarannya
Nama target, malah.
@Master Li
Katakan cepat ama dia, sebelum engkau tidak punya waktu lagi utk mengatakannya seperti ada pepatah mengatakan “berbuatlah seakan2 tidak ada hari esok lagi”. heheheh….
Hueee… Jadi ladang OOT ya?
Nggak apa-apa deh.
Nggak bisa sekarang, Tuanku.
Orangnya lagi berjibaku dengan ujian, saya nggak mau merusak konsentrasi…
Hehehe…. mau dibilang OOT juga ndak… soale masih ada hubungan dgn cerita di atas, siapa tau bisa dijadiin ide utk cerita berikutnya. Gwa lagi mikirin mau bikin triloginya
hm.. kalo ujian emang iya…, syukur kalo dia suka bisa jadi motivasi belajar, tapi kalo gak suka bisa jadi kepikiran. Ngomong2 dari cerita di atas mana yg lebih pantas di pilih?
Pilihan sulit… T____T
Ide untuk cerita berikutnya…? Bagus
post pertama?…salam kenal mas…
fenomena hidup seringkali memberikan “sesuatu” yang berharga untuk hidup kita …
btw, salam kenal …
@imcw
Iya tuh Mas/Mbak… lam kenal juga
@Joerig
Betul Mbak…, dari kisah diatas saya jadi bisa mengerti kenapa Tuhan tidak memperbolehkan kita kembali ke masa lalu. Dan supaya tidak timbul keinginan kembali ke masa lalu kita harus mempersiapkan esok hari dgn sebaik2nya. Salam kenal kembali…
mmmm….
menguras air mata malam2…
tapi kok malah ngilangin migrain ya?
so nice.
Wah, mengharukan sekali.
Sedikit saran saya pada si bapak :
Hiduplah di masa kini, sebab masa kinilah yang menjadi masa lalu dan masa depan.
Jadi pilihlah masa kini.
*hiks* terharu.. hiks..hiks..
salam kenal dari saya…liat blog saya ya pak…baru juga nih hehehehehe….
@calonorangtenarsedunia
wah.. obat migren ni yee….
@danalingga
iya betul, masa lalu hanya bisa dijadikan pelajaran utk membentuk masa depan.
@irdix
*nyodorin tisu*
@rien
menurut saya sih sah2 aja kita mikirin begaya dgn hp terbaru.., yg penting kita lebih dulu mikirin ngebantuin org sesanggup kita.
eh.. urlnya error tuh rien…
Sedih…
Hmm….dibayang – bayangi pilihan yang menyangkut hati nurani itu memang menyulitkan.
Cukup menyedihkan.
semangat!!!
Mana kisah berikutnya…. ?
@isez
mmm… semangat maksudnya?
@Master Li
masih draft Om.., jadwal2 yg padat (termasuk sesi bermalas2an sambil nonton) menyita waktu utk berkhayal. hehehe…..
Salam kenal…
Kisahnya bikin terharu, kalau enggak baca komen-komennya Mas CY, saya udah kirain itu kisah nyata pribadinya nih…
Nice… ditunggu postingan selanjutnya Mas ^^;
Glekk!
Itu serius manggil `om` ke Shan In, Mas? Shan In itu baru aja lulus SMU… (walaupun dia suka ngaku-ngaku 13 tahun)
@Jejakpena
lam kenal kembali….
hehehe… manggil “Om” sekedar panggilan hormat utk teman, maklum kebiasaan di kantor, gw tau kok si Mister itu baru lulus UAN.
Terenyuh mbaca si ceritanya sampe kelar- jadi inget keluarga di kampung.. telpon mereka dulu deh! – thanks for the inspiration!
Mami bisa aja deh.
*ditabok*
masa lalu dan masa depan kadang menjadi hantu. maka dari itu banyak orang bilang, hiduplah di hari ini dan nikmatilah…
oh.
saya pikir ini diceritakan oleh sang ibu…ternyata oleh ayahnya ya…
kasih sayang yang lembut dan menyentuh…
ternyata, kebanyakan cerpen -cerpen mas CY selalu tentang pilihan dan kesempatan/ kehidupan kedua.
Saya sendiri selalu percaya, bahwa kehidupan saya adalah yang sekarang sedang dijalani.
Jadi berusahalah yang terbaik untuk apa yang sedang dijalani saat ini. apa yang dialami sekarang adalah yang terbaik ^_^
@eMina
Karena hidup selalu akan berjumpa dgn dua pilihan utama, dan selalu kita diberi kesempatan memperbaiki. Hanya saja tak semua orang menyadarinya.