Awal Dinasty Qing, 365 AD
Qin, menjadi negara bagian yg terisolasi dan mundur yg wilayahnya mulai digerogoti oleh tetangganya. Tanah di Sichuan, Quizhou dan Hanzhong di sebelah selatan dan wilayah yg luas disebelah barat Sungai Kuning semua diambil alih oleh negara2 bagian tetangganya. Perekonomian payah dan moral nasional rendah. Kekuasaan sang Adipati melemah seiring perilaku para bangsawan yg seenak perutnya sendiri. Hanya karena posisi geografis Qin yg baik maka ia masih selamat dari kehancuran. Pada tahun 361 AD (sebelum Masehi) pemerintahan Adipati Xiao yg muda dan handal dimulai. Tekadnya memulihkan negara bagiannya ke jaman kejayaan dulu. Untuk bisa membangun negara bagian yg kaya dan angkatan bersenjata yg kuat, dia harus menarik orang2 berbakat dan memperkenalkan kebijakan-kebijakan baru yg tidak saling bertentangan seperti yg terjadi selama ini. Adipati membuat pengumuman utk memilih orang berbakat, barang siapa yg bisa menasehati Adipati tentang bagaimana cara memperkuat negara bagiannya akan diberikan jabatan tinggi dan tanah.
Ketika Gongsun Cuo dari negara bagian Wei yg merupakan tetangga Qin sdg sakit parah, dia dikunjungi oleh adipati Wei yg mencemaskan pengganti Gongsun Cuo bila terjadi sesuatu. Gongsun Cuo mengusulkan seorang anak muda tak dikenal bernama Gongsun Yang, namun Adipati Wei keberatan.
“Kalau Yang Mulia tak berkenan menggunakannya maka bunuh saja dia, kalau sampai negara2 bagian lain memberinya jabatan tinggi maka akan berbahaya buat negara kita.”
Karena tetap ditolak maka Gongsun Cuo menyuruh Gongsun Yang melarikan diri ke negara bagian lain krn dia sudah mengusulkan Adipati Wei utk membunuh Gongsun Yang. Krn mendengar Adipati Xiao sedang mencari orang berbakat maka ia meninggalkan Wei dan pergi ke Qin.
Setelah dalam dua kali perjumpaan dia bereksperimen dgn mencobai benar tidaknya minat Adipati Qin utk mengembangkan negaranya, pada even ketiga ia langsung ke pokok persoalan.
“Seorang penguasa yg penuh kebajikan hidup menurut tradisi nenek moyang yg didasarkan pada tatanan hierarkis yg ada. Tetapi cara2 kuno belum tentu efektif dalam situasi sekarang. Sekarang akan saya paparkan pada Yang Mulia bagaimana memerintah dgn kekuatan?”
Kata2 inilah yang menyadarkan Adipati Qin dari situasi ngantuk berat mendengar kuliah Gongsun Yang selama tiga hari.
“Memerintah dgn kekuatan artinya membangun diatas kewenangan mutlak sang penguasa dan sistim hukum yg efektif, memerintah dgn tangan besi utk membangun negara yg makmur dan pasukan militer yg kuat dalam waktu singkat.”
Kata2 kunci yg membuat Gongsun Yang diberi kuasa penuh utk melaksanakan reformasi di Qin. Setelah dalam kasus “tiang setinggi 30 kaki” sukses mendapat kepercayaan rakyat akan niat pemerintah utk melaksanakan reformasi, ia memberlakukan hukum2 baru. Bahkan ketika putra sang Adipati, pangeran Si melanggar salah satu hukum baru juga dihukum berikut kedua guru sang pangeran krn dianggap tak becus mendidik sang pangeran, tentu saja semua atas ijin Adipati Qin. Rakyat makin simpati krn melihat bahwa kalangan atas sekalipun tidak kebal hukum. Mulai saat itu tak seorangpun berani menganggap remeh ketetapan-ketetapan pemerintah. Utk menegakkan reformasinya Gongsun Yang menggunakan hukuman berat. Yang melanggar dihukum berat.
Suatu kali ia mengadili kasus di tepi sungai Wei dan menghukum mati lebih dari 700 org dalam satu hari. Air sungai berubah merah darah dan ratap tangis yg berkabung terdengar sampai bermil-mil jauhnya. Tapi reformasi juga mendatangkan hasil-hasil yg baik. Selama lebih dari sepuluh tahun reformasi, tercipta keteraturan di seluruh penjuru negeri. Orang2 tak akan memungut barang2 yg jatuh di tepi jalanan dan para perampok hilang bahkan di tempat2 terpencil sekalipun. Hukuman yg berlaku saat itu adalah mentato wajah dgn jarum bertinta atau mengoyakkan seseorang dgn menyeretnya ke lima arah berlawanan dgn kereta kuda. Sistim perpajakan dan pengukuran juga dibongkar utk mendorong rakyat meningkatkan produksi dan meningkatkan kekayaan negara bagian. Ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yg pesat di Qin.
Negara bagian Wei yg adipatinya dulu menyangsikan Gongsun Yang juga direbut oleh Qin, ternyata benarlah prediksi Gongsun Cuo yg ditolak oleh Adipati Wei dulu.
Dari sebuah penjara di luar ibukota Qin, seorang pemuda bernama Lee Xiang Yin berhasil melarikan diri dan tiba di sebuah kota kecil di utara kota Shang yang, yg di pimpin oleh Gubernur Shang Yang alias Gonsun Yang.
Seminggu kemudian disuatu lorong sempit ia melihat seorang laki2 dihajar habis2an oleh 3 org pria, 2 org diantaranya berpakaian dinas. Dgn ilmu silatnya yg tinggi Lee berhasil membunuh ketiga orang tersebut dan kaget krn salah satu dari yg dibunuhnya adalah walikota yg wajahnya mirip sekali dgn Lee. Krn kesamaan wajahnya dgn walikota kota kecil tersebut, Lee menggantikan posisinya tanpa sepengetahuan siapapun. Krn sifatnya yg cenderung memihak yang lemah, maka Lee Xiang Yin menjadi terkenal. Suatu kali di masa2 reformasi Qin yg fenomenal itu, Lee pernah melihat seorang pelacur sedang jadi bulan2an para bangsawan krn menolak melayani hasrat mereka. Krn ia berpakaian biasa mereka tidak mengenalinya sebagai walikota.
“Hentikan ulah kalian yg mempermainkan yang lemah” sergahnya.
“Eh.., lihat siapa yg berani mengurusi kita, apa tidak takut mendekam di sel?”
“Kamu yg akan mendekam di sel kalau tidak segera pergi, bukan saya” kata Lee.
Seorang kepala polisi bernama Xi An kenalan para bangsawan kebetulan lewat dan menengahi.
“Apa kalian tidak bisa menghormati sedikit kata2 bpk Walikota?” kata Xi An.
Para bangsawan takut dan mulai meninggalkan si pelacur tersungkur dijalan dgn wajah kesakitan. Lee yg kontroversial dan tidak memperdulikan segala gossip itu lalu membawanya pulang kerumah dinasnya utk diobati. Dari perbincangan dgn Mei Xien pelacur itu, ternyata awalnya ia dijual utk melacur oleh suaminya dan uangnya ia kirimkan ke kota Li Yang utk biaya hidup putrinya. Suaminya berhasil mengetahui keberadaan putrinya dan hendak mengambil kembali. Krn itu Mei Xien bergegas hendak ke Li Yang utk membawa lari putrinya dan menolak melayani para bangsawan tadi.
Lee yg tergugah hatinya mencoba menolong dgn menawarkan Mei Xien tinggal di tempatnya, dan mengutus orang ke Li Yang utk menjeput putrinya. Ternyata bekas suaminya lebih dulu menculik putrinya, dan lenyap entah kemana. Utusan Lee pulang dgn tangan hampa. Selama beberapa bulan mereka mencari2 tanpa hasil.
Xi An, sang kepala polisi yg sudah lama hidup dari uang panas para bangsawan tidak puas kepada Lee, sebagian krn hasutan para bangsawan juga. Xi An yg dulunya pernah menjabat kepala penjara tempat Lee dijebloskan dulu merasa pernah melihat wajah Lee. Dgn diam2 ia berangkat ke penjara itu utk menyelidiki, dan ternyata benar dulu ada seorang napi berwajah mirip Lee dgn nama Lee Meng Xiu. Maka mulailah skenarionya utk menuntaskan “proyek titipan” para bangsawan yaitu menjatuhkan Lee Xiang Yin.
“he.., katanya mau belajar meditasi kok malah tidur”, suara Jane dan tepukan tangannnya di pundakku menghilangkan ngantuk yg mulai menyerang sambil mendengar cerita si guru Meditasi referensi dari Jane.
“Kalau nak Lee hendak kembali ke jaman dulu, harus menjadi diri sendiri pada jaman itu, dimana kamu saat itu bereinkarnasi sebagai Lee Meng Xiu alias Lee Xiang Yin sang walikota, demikian yg saya tahu ketika menggali ingatan dari kehidupan masa lalumu.”
“Tapi resikonya besar, kalau kamu tergoda utk mengubah hal2 ttg hidup mati yg sudah terjadi di jaman itu maka roh mu akan tersangkut diantara 2 jaman sehingga tidak bisa bereinkarnasi kembali.” Lanjut sang guru, yg langsung saja menghilangkan semua rasa kantukku, dan sekaligus memucatkan wajah Jane, Jeff terbatuk2 krn kaget berhubung saat ucapan keluar itu ia sedang minum.
Aku heran kenapa begitu tergerak utk menolong Mei Xien krn simpati pada tindakannya yg bahkan rela rohnya terpasung diantara 2 jaman demi anaknya. Ataukah memang itu sifatku yg terbawa2 dari jaman Dinasty Qin? Pribadi seorang walikota Lee Xiang Yin?
“He.. ngelamun lagi.., masih berminat? Bagusnya ga usah, daripada kamu nyangkut di sana, dan kami kehilangan kesempatan tahun depan utk menikmati Bika Ambon dan dodol Garut.”
“Dasar Jane, otaknya cuman makan doang…, sayangnya kok kerempeng terus yach?”, godaku.
“Eeehh…, udah dicemasin kok malah ngerusak image orang”, balas Jane.
“Ga usah di denger si Jane itu Lee, nanti kalo lowbat kan diam sendiri?”, Jeff nimbrung.
“Ini lagi.., bukannya bela pacar sendiri malah menjerumuskan. Awas yah, malam minggu ga boleh datang”, Jane memerah wajahnya.
“Ampun.. ampun.. Yang Mulia..” Jeff mengalah.
“Sudah sejauh ini aku datang, sudah basah sekalian nyemplung aja. Mari kita mulai guru.” Kataku pasti.
“Jane.., Jeff.. terimakasih sudah membantu. Aku pasti kembali, dan sisakan Bika Ambonnya yach.., jgn kalian embat semua”
Mulailah kami membahas apa saja yang harus kulakukan saat kembali kemasa lalu, dan berakhir dgn keputusan “hanya” menyelamatkan putri Mei Xien dari ayahnya yg bejat itu.
Dengan dipandu oleh sang Guru aku menjalankan meditasi berbahaya itu, utk melindungi diriku sang Guru memasang delapan buah lilin besar mengelilingi tubuhku yg terbaring di lantai. Utk memberiku terang katanya.
Aku terbangun didalam tubuh Walikota Lee Xiang Yin, dikamarnya.
“Siapa kamu?” terdengar sebuah suara yg kukenal akrab, suaraku sendiri.
“Walikota Lee, aku adalah reinkarnasi dirimu dimasa depan yg datang kembali utk menuntaskan suatu hal”
“Hah? Jgn bercanda, aku tidak percaya hal2 berbau mitos seperti itu.”
“Terserah mau percaya atau tidak, yg penting pesan sudah ku sampaikan. Pergilah ke kota Xian Yang utk menyelamatkan seorang anak perempuan bernama Xiao Yu. Ia tinggal bersama bibinya dirumah ketiga setelah rumah makan Xing Fu. Bergegaslah sebelum dia diculik oleh ayahnya utk dijual pada rumah bordil.”
“Kenapa aku harus repot2 menyelamatkan seorang anak kecil yg belum tentu benar informasinya?”
“Kerjakan saja, nanti kalau kamu sudah bertemu ibunya pasti akan sangat berterimakasih padaku krn sudah memberi informasi ini, ibunya punya tanda lahir warna hitam di punggung tangan kirinya.”
Lee Xiang Yin segera berangkat ke Xian Yang bersama dua orang kepercayaannya utk mengambil Xiao Yu. Sampai disana tengah malam, saat Lee hendak melewati rumah ketiga dari rumah makan yg diberitahu olehku terdengar suara jeritan anak kecil. Terlihat seorang pria lari keluar sambil menggendong seorang anak perempuan yg terikat. Lee langsung menggebrak kudanya mengejar. Ia berhasil menyambar anak tersebut dan langsung dibawa lari diikuti kedua bawahannya. Tinggal si lelaki dgn wajah terbengong2 yang akhirnya masih sempat melarikan diri dari kejaran penduduk.
“Terima kasih sudah menolong hamba yg tidak sepantasnya anda tolong”, kata Mei Xien lemah setelah diobati oleh tabib.
“Semua orang pantas saling tolong menolong, tidak terkecuali kamu,” Lee menjawab dgn bijaksana.
Aku yg melihat melalui mata Lee mengagumi kecantikan Mei Xien, yg juga sekaligus kutukan baginya krn menimbulkan berbagai masalah bagi dirinya dari org2 yg moralnya bejat. Atau mungkin kutukan buat org2 bejat krn tidak bisa menahan nafsunya, ga tau deh… itu urusan Tuhan.
“Kenapa tidak anda tempatkan hamba di tempat lain selain rumah dinas, bukankah ini akan menyulitkan anda sebagai pejabat pemerintah menerima orang yg kotor seperti hamba?”
“Yang kotor itu hanya pekerjaaanmu, kalau engkau tinggalkan maka akan jadi bersih”
Mei Xien kemudian menceritakan semuanya hingga ia bisa terjebak dalam dunia maksiat seperti ini demi membiayai putrinya.
“Hamba ingin memohon satu hal, tolonglah selamatkan putri hamba dari ayahnya. Hamba akan serahkan diri hamba utk mengabdi apapun yg tuan ingin saya lakukan.”
“Saya sebagai Walikota wajib membantu penduduk yg kesusahan, tidak perlu anda sampai harus menyerahkan diri segala. Ceritakan dimana anakmu berada.”
“Putriku tinggal bersama bibinya di rumah ketiga setelah rumah makan Xing Fu di kota Xiang Yang, namanya Xiao Yu.”
Walikota Lee kaget mendengar hal tersebut, ternyata informasiku benar adanya. Namun utk menghindari keanehan yg mungkin akan timbul, Lee tetap belum memberi tau kalau Xiao Yu sudah diselamatkan.
“Baiklah, akan saya coba.”
“Terimakasih tuan Walikota, semoga tidak memberatkan tuan.”
“Tidak akan, membantu orang itu kan harus sampai akhir, kalau setengah-setengah lebih baik tidak usah dibantu dari awal.”
Beberapa hari kemudian Mei Xien sangat gembira, sambil menangis ia berterimakasih saat Lee mengantar Xiao Yu masuk kekamarnya.
“Kalau tuan tidak keberatan dan menganggap hina, hamba bersedia membalas budi dgn bekerja disini utk mengurus rumah, tidak usah dibayar asalkan kami bisa makan saja sudah cukup.” Kata Mei Xien sambil berlutut mencium kaki Lee.
“Hahaha…, kalau saya menganggap hina sudah sejak dulu kamu saya biarkan dijalanan. Begini saja, kamu bertanggung jawab atas keberesan tugas semua pelayan2 di sini, dan akan saya bayar kamu sesuai dgn hasil pekerjaanmu.” Kata Lee sambil mengangkat lengan Mei Xien agar berdiri.
Krn banyaknya usaha utk mencelakai Walikota Lee disebabkan kecemburuan para bangsawan yg tidak bisa lagi bertindak semau mereka, termasuk meracuni makanan Walikota Lee. Maka akhirnya Mei Xien sendiri yg memasak dan menyuguhkan makanan utk Lee. Krn setiap hari berjumpa maka lama kelamaan timbul perasaan cinta antara keduanya, apalagi Lee yang masih single sehingga memerlukan seseorang tempat mencurahkan keluh kesah akibat masalah politik berkaitan dgn jabatannya, yg lebih sering dicurahkan di ruang makan. Lee merasa setiap tekanan hilang begitu saja setiap berbicara dgn Mei Xien di ruang makan. Kemudian ia merasakan bahwa bertemu Mei Xien merupakan kebutuhan rutin yg harus dipenuhi.
Sementara itu Kepala polisi Xi An berhasil mempengaruhi Gubernur Gongsun Yang utk memanggil Walikota Lee ke ibukota utk disidang masalah identitas dirinya. Dalam sidang, Lee Xiang Yin menceritakan kejadian sebenarnya dari awal hingga ia membunuh walikota yg asli. Semua pejabat yg tidak suka dgn pejabat bersih, menuntut dilaksanakannya hukum yg ada saat itu, tubuh dikoyak dgn cara ditarik ke lima arah berlawanan oleh kereta kuda.
Hal itu menjadi dilema tersendiri bagi Gubernur Gongsun Yang, dia sendiri yg memulai reformasi dgn menerapkan siapa saja tidak kebal hukum. Tapi kini kebijakan itu harus ia terapkan utk seorang walikota yg jujur dan bersih seperti Lee, dgn kesalahan awal yg juga besar yaitu membunuh pejabat pemerintah. Kalau ia biarkan maka anggapan kebal hukum akan timbul kembali, kalau ia laksanakan maka ia kehilangan salah seorang bawahan bersih yg jenius.
Dalam kebimbangannya Gongsun Yang mengirim pulang Lee Xiang Yin ke kotanya, dgn alasan kepada pengadilan bahwa ia sedang mempertimbangkan ttg hukuman Lee.
Saat Walikota Lee hampir sampai ke kotanya, Gongsung Yang mengambil keputusan yg juga disesalinya kemudian seumur hidupnya, yaitu Walikota Lee dihukum dgn lima kereta kuda. Dan sang Gubernur segera mengirimkan pasukan elit utk menangkap Lee. Mendengar kabar itu salah seorang teman dekat Lee di pemerintahan segera mengirim mata2nya utk memberitahu Lee.
Saat itulah aku melihat bayangan bahwa bekas suami Mei Xien juga sedang menuju ke kediaman Lee utk membunuhnya. Tapi aku tidak boleh mencampuri urusan yg menyangkut hidup mati seseorang di jaman itu, atau aku akan terperangkap diantara lorong waktu. Tapi perasaan cinta terhadap Mei Xien juga mendesakku dalam hati utk memberitau Lee ttg hal tersebut. Ya…, perasaan cinta kami bertiga selama ini, krn aku selalu berada di dalam tubuh Lee selama ini sehingga semua perasaannya bisa kurasakan seperti layaknya perasaanku.
Teorinya, krn aku berada didalam tubuhnya maka Lee tidak boleh mati sebelum aku sadar dari meditasi, karena ia adalah aku. Kalau ia dibunuh saat aku masih ditubuhnya maka Lee yang akan bereinkarnasi dan aku akan tersangkut di lorong waktu seperti Mei Xien. Atau kalau aku merubah takdir hidup mati seseorang dijaman itu, maka aku akan terkunci ditubuh Lee sampai orang yg aku tolong itu mati, baik krn tua atau hal2 lain.
Tapi selalu tidak ada waktu utk keputusan yg penting, selalu waktunya mepet sekali. Kalau Lee tertangkap maka habislah Mei Xien, dan ia akan tetap tersangkut di lorong waktu. Hanya ada 2 pilihan, aku atau Mei Xien yg terpasung di lorong waktu.
“Lee Xiang Yin, kamu harus cepat kembali ke rumah, Mei Xien dalam bahaya.”
Krn informasiku yg pertama dulu akurat, maka yg kedua ini tidak lagi dipertanyakan kebenarannya oleh Lee. Ia langsung memacu kudanya bersama dua orang kepercayaannya menuju rumah.
Melihat bekas suaminya berhasil memasuki kediamannya, Mei Xien segera berlari ke kamar putrinya. Sambil menggendong putrinya ia berlari menghindari kejaran bekas suaminya. Tapi ia terjatuh, dan tanpa menunggu lagi lelaki bejat itu mengayunkan pedangnya ke leher Mei Xien. Suara beradunya pedang memekakan telinga, seiring terpentalnya tubuh lelaki bejat itu dgn pedang yg patah di tangannya. Lee Xiang Yin berdiri kokoh diantara Mei Xien dan lelaki itu.
Saat itu prajurit istana mulai memasuki kediaman Walikota Lee dipimpin kepala polisi Xi An. Melihat kondisi yg tidak memungkinkan utk menang lagi, Lee memerintahkan kedua orang kepercayaannya utk membawa lari Mei Xien dan putrinya. Sementara Lee sendiri mengejar bekas suami Mei Xien utk menghabisinya. Krn harus menghadapi sekaligus prajurit dan Xi An maka bekas suami Mei Xien akhirnya bisa lolos dari Lee walaupun dgn luka cukup serius.
Lee Xiang Ying akhirnya berhasil ditangkap dan dibawa keibukota utk dijatuhi hukuman 5 kereta kuda. Saat hari hukuman, Gongsun Yang tidak hadir dgn alasan sakit. Aku pun pasrah berdiri bersama Lee Xiang Yin saat kuda2 sedang dipersiapkan utk merobek tubuh kami. Saat genderang berbunyi Lee tersenyum memandang langit, sikap gagah seorang ksatria yg bersedia membayar kebenaran dgn kematiannya, kalau dulu dia tidak punya visi menolong kaum lemah dgn menyamar jadi walikota mungkin sekarang ia masih hidup, siapa sih yg tahu kalau ia yg membunuh walikota bejat itu? Aku bangga bisa merasakan kematian seorang ksatria yg punya pilihan sama denganku, demi orang yang kucintai walau baru bbrp saat kukenal melalui Lee. Orang yg juga dicintai Lee, krn aku adalah Lee dan Lee adalah aku. Aku memilih terkunci dilorong waktu utk membebaskan Mei Xien dari sana, dgn pertimbangan kalau putrinya selamat ia tentu tidak akan melakukan meditasi maut tersebut. Dan sekarang ia dan putrinya aman bersama kedua orang kepercayaan Walikota Lee di negara bagian Qiao.
Saat genderang selesai berbunyi, aku merasakan sakit luar biasa saat kedua tangan dan kaki terpisah dari tubuh Lee, tubuh kami terobek2 ke lima arah berlawanan. Semuanya tiba2 jadi gelap ketika riuh rendah suara orang makin lama makin tak terdengar, kemudian aku tak ingat apa2 lagi. Sepi….
.
.
.
Jakarta, 3 September 2025.
Tiba2 suara pesan Messenger masuk membuyarkan konsentrasiku dari berkas2 yg sedang kupelajari. Mataku tertuju ke layar laptop di meja kerjaku.
“Hi, boleh kenalan gak, namaku Michelle, teman2 memanggilku Mei Xien”
Langsung kutinggalkan berkas2 penting tadi dan bergegas ke laptop ku.
“Boleh, namaku Lee Chan Yong, eh…, kalo boleh tau kamu ada tanda lahir warna hitam ya di punggung tangan kirimu?”
“Wah…, kamu hebat sekali bisa menebak setepat itu. Padahal ga ada webcam. Kok bisa tau ya? Kamu sudah kenal aku sebelumnya ya?”
Ahh…, dia sudah terlahir kembali. Aku tersenyum.
Tamat !!




kok ndak ada cerita yg saya jadi jagoannya?
bentar, ini lee xiang yin yang mana ya??? lee xiang yin yang ini bukan???
@Joe
Huehehe…, mau? Ntar ta’ buatin. Mau jadi objek penderita atau subjek penderita?
@cK
Menurut mbak Seleb?
subyek penderita aja. gue banget! kekekekeke…
[...] Bersambung ke sini… [...]
hahahahahahahahahahaha…….,
hayal