Sebagaimana layaknya kita bertamasya ke suatu tempat nan indah. Ditempat tersebut akan kita temui pemandangan2 dan kejadian2 yg cukup berbekas dalam ingatan kita. Pemandangan yg indah kan membuat kita terkagum2 dan selalu terkenang dlm hati kita. Sepanjang hari dlm tamasya tentu ada kejadian2 baik yg manis ataupun pahit, namun kedua2nya akan diukir dalam ingatan kita sepanjang hidup.
Anak-anak juga bertamasya dalam kehidupan kanak2nya, mereka melihat dgn mengamati lingkungannya seiring pertumbuhan mereka. Dalam perjalanan tamasya mereka itu kita akan terkaget2 mendengar berita “Reza Fadhillah meninggal krn di smackdown teman2nya” atau “seorang anak yg memukul hingga mati teman sebayanya”. Dan tentunya objek wisata tempat mereka bertamasya merupakan andil utama terjadinya berita2 seperti tersebut di atas.
Anak-anak belajar banyak dari “sekolah hidup”. Sekolah itu bisa bernama rumah, sekolah, mobil, jalan raya, televisi, koran dsb. Mereka juga belajar dari Papa-mamanya, kakak, paman, bibi, neneknya, pembantu rumah tangga, sopir dan juga tetangga.
Di mobil anak2 belajar mereaksi lampu merah dari orangtuanya sebagai pengemudi. Anak bisa belajar bahwa lampu merah tanda kendaraan berhenti, tapi mereka juga bisa belajar bahwa tanda itu tanda yg sah-sah saja utk diterobos bila ada keperluan mendesak. Di mobil anak juga bisa belajar dari mendengar sumpah serapah orangtuanya. Mereka juga bisa belajar bahwa segala pelanggaran rambu lalulintas dgn polisi terkadang bisa diselesaikan dgn rupiah dari dompet.
Anak-anak juga belajar bahwa papa-mamanya saling menyayangi, tapi mereka juga bisa belajar bahwa saat papa-mama bertengkar, papa sah-sah saja melempar mama dengan benda-benda yg terjangkau dgn tangan, atau menerapkan gaya tinju Mike Tyson pada mama, dan sebaliknya mama juga boleh menampar papa sekuat-kuatnya, sambil memaki-maki dgn sejumlah nama2 binatang yg pernah diajarkan ibu guru di sekolah.
Di televisi anak2 belajar ttg smackdown, belajar bagaimana melecehkan guru lewat “Extravaganza”, bagaimana mengakali guru lewat “kecil-kecil ngobjek”. Dari sinetron2 di televisi, anak-anak juga bisa belajar bhw pelaku kejahatan sdh sepantasnya dihukum dgn jotosan dan bogem sekuat2nya, bila perlu dilakukan dgn keroyokan. Anak-anak belajar bahwa ternyata setan/jin/iblis itu ada yg baik dan cantik juga dari “Jinny oh Jinny”, “Si Manis jembatan Ancol”. Anak2 juga bisa belajar mengobjekkan orang lain lewat “cek dan ricek”, “insert”.
Jadi, terbukti media bukan satu2nya yg berperan dalam mengisi partisi2 dalam otak anak-anak, walaupun lebih dominan.
Tapi seperti layaknya kita bertamasya, pulang kerumah kita akan merasa lelah krn berjalan seharian. Dan segala macam objek wisata yg kita temui dan kejadian yg kita alami akan larut begitu saja dalam tidur kita dimalam hari.
Benarkah?? Seberapa dalam kasih sayang kita pada anak-anak??
*Prihatin*
*Postingan ini gw buat sekedar meneruskan pesan dari sebuah majalah dinding di sebuah TK di kotaku, yg cukup menggugahku sampai ke tulang sumsum.*




saat ini memang agak riskan kalau seandainya anak dibiarkan sendiri, menikmati berbagai tayangan televisi.. mulai dari sinetron hingga tayangan gosip yang sepertinya sudah terlalu banyak porsinya dan “keterlaluan”. Bahkan sinetron ‘anak’ atau lebih tepatnya ‘anak’ yang terlalu dewasa juga hadir sebagai bagian dari konsumsi masa kecil anak2 saat ini. Sangat disayangkan.. dan ironi memang..
efek media memang sangat terasa dan berperan besar. untuk itu, tentu orang tua harus lebih berusaha keras untuk membentengi sang anak dan memberikan pendidikan yang tepat bagi seumuran mereka yang dapat membentuk sang anak menjadi pribadi yang baik pula.
regards,
single, masih belom punya anak..
jadi maaf kalo komentarnya sok tau..
@rickisaputra
Ga masalah bung Ricki, kan ga mesti punya anak dulu baru care dgn masa depan mereka, kita masih punya keponakan, adik, ataupun sepupu dll. yg bisa kita bantu perhatikan. Kita harus punya jurus2 antisipasi kalau2 nanti sudah punya anak.
Waduh berat amat ya ternyata untuk memberikan pengajaran yang benar ke anak. Harus mengasah kepekaan nih, agar selalu melakukan tindakan yang mengajarkan anak dengan tepat.
@Danalingga
Memang berat bung, karena itu harus dilatih sejak kita masih jomblo, supaya kalo sdh punya anak nanti ga kaget krn sudah terbiasa.
karena seringnya saya ngelihat orang tua yang terlihat “tidak siap” dan “sangat ngasal” dalam mendidik anaknya, saya malah sempet kepikiran kalo pemerintah perlu bikin peraturan dan menerbitkan semacam SIMA, surat ijin membuat anak, untuk screening, biar hanya orang tua yang qualified aja yang boleh punya anak. Lalu orang-orang tua yang tidak bermutu dan berbahaya bagi anak, tapi nekat punya anak dihukum, dikebiri atau rahimnya di segel dan anaknya disita untuk dibesarkan negara. Trus media sampai rokok juga di beri aturan ultra tegas…. ah.. maaf numpang menghayal
dikebiri atau rahimnya di segel
huehehehe…, sadis banget Guh…..
Tapi kalo ga sadis org ga bakal takut tuh…
Ga pa2 mengkhayal, dulu org juga mengkhayal utk naik ke bulan.
Cemas dengan masa depan anak saya….
Jadi bagaimana dunk bu? Harus ikut saran teguh? Membredel rahim??
Hehehe… ya nggak dong. Minimal kita harus menjaga tingkah laku kita sbg org tua shg bisa menjadi teladan yg baik utk anak. Kan udah di contohin di postingan ini…
wah, udah siap jadi orang tua ya?
@Mrs. 049
belum sempurna betul sih.., masih harus diberesin dibagian sumpah serapah -nya hehehe…
Kalau saya berpendapat…. kayanya perlu Puput Novel atau Joshua baru.. juga acara anak anak yang kalau perlu kekanak kanakan. sehingga anak anak tidak perlu mengenal apa yang belum waktunya mereka kenal.
Seperti misalnya sekarang, ada setantron yang menampilkan anak SD cinta cintaan…..
Harusnyakan cerita tentang anak anak yang sedang kerjakan PE ER bareng, dsb dsb…….
Bisa gak ya jd Ortu yg baik…?
Kayaknya memang harus belajar nich…
emang bener banget, acara tv sekarang udah kelewat batas. Tapi kita cuma bisa protes. Tuhannya stasiun TV kan rating, sayangnya ratingnya cuma dari satu lembaga. Bisa aja si empunya acara kongkalikong sama empunya rating. Tauk ah, gelap. Mari sama-sama lindungi keluarga kita dari dari vitus berbahaya bernama acara televisi
@Novri
Bung Nov, dari postingan di atas, ga hanya acara TV yg bisa meracuni. Kalo TV kan bisa dimatiin, diganti jadi Barney, Dora dll. Yg paling parah teladan dari org dewasa (ayah-ibu) yg tingkah lakunya ga bener…
Bener banget. Kasian anak kecil yang dicekoki acara televisi dan orang tua yang gak ngeh hal kaya beginian gak bagus buat anak-anak. -__-`
mungkin harus didampingi n disortir yah.. tp kita juga harus ‘membiarkan’ anak tau, bahwa orangtuanya tidak sempurna.. bahwa dunia tidak sempurna… jangan kayak ortu jaman dulu, kalo ga ngerti pasti jawabnya ‘pokoknya pamali, ora ilok..’ qeqeq…
)
(“sok tau mode on”, masih nyari bapaknya anak2…
aha… ide yg bagus bhita, memang anak harus dibritau kalo ortunya ga sempurna banget, tapi ortu juga harus kelihatan dong mau berusaha menuju kesempurnaan
numpang cerita.
saya pernah mengadakan
terapiasosiasi bebas dengan beberapa anak usia 4-5 tahun. waktu itu saya meminta mereka untuk menuliskan apa saja mengenai ‘televisi’.Mereka menuliskan hal-hal lumrah mengenai televisi. Kartun lah, sponge bob lah, bangun tidur siang lah *hehe47x*. Namun ada seorang anak yang mengidentifikasi ‘televisi’ sebagai kekerasan. *bagus betul anak ini linguistiknya*
Saya lantas bertanya, kenapa televisi kok dikenali sebagai ‘kekerasan’?
Dia menjawab
Saya? Terdiam. Lalu tersenyum saja. Setelah berpikir sejenak lantas saya berkata:
Kesimpulan saya? Yang merusak ga cuma konten acara televisi, tetapi perilaku orang tua juga.
*sorry kalo agak OOT*
Ga OOT kok, masih sejalur…
berantem gara2 rebutan remote? akh… itu sih keterlaluan kyk anak kecil
dan seperti isi postingan di atas bahwa org tua juga berperan penting dlm merusak akhlak anak2
Yah gimana lagi. Tipi emang guru utama dan bangsal benut eh bangsat betul. Mbok semua minim kaya metro tipi.
btw.
tuker link donk, bole?
aku di innerpower.wordpress.com
ini pilihan dah masuk di blog ku
CY : Dgn senang hati…
mas, ini cerpen?
apa tak salah kategori nih?
well, anak adalah intisari kehidupan. Apa yang dipelajarinya sedari kecil akan mengubah hidupnya kelak setelah ia dewasa. Apa yang dipilihnya saat dewasa, selalu dipengaruhi oleh masa kanak -kanaknya.
CY : Huehehe… gpp dipaksakan aja masuk kategori cerpen, soalnya ini kan penting banget *ngeles tingkat 10*
Bagus juga ya posting ini memikirkan masa depan tunas bangsa.(anak2)
Baik tidaknya seorang anak orang tua memiliki perananan terpenting.Tapi kebanyakan orang tua sekarang lebih disibukin oleh kerjaan daripada mendapingi anak.ya anak cuma punya orang tua + sahabat yang namanya televisi,Barney dll saat orang tuanya sibuk,anak2 melihat,melakukan seperti apa yang dilihat tanpa ada penyaringan dari orang tua.
Kasihan anak2 jaman2 sekarang!!!
susah ya jadi orang tua? He he he
@lovepassword
Kok lama enggak berkunjung ke blog saya lagi?
@CY
Tolong bantu saya undang ratanakumaro ke blog saya. Biar masalahnya segera clear dan tuntas.