Medan, 1956.
Dinginnya bantalan rel kereta api di pagi yg sepi itu menyentuh tengkuk halusnya. Suara peluit kereta sayup2 dikejauhan seakan berlomba dgn aliran sungai kecil di kedua sudut matanya. Getaran roda2 kereta terasa semakin jelas seolah mengelus-elus punggungnya yg menempel ke rel. Terbaring dlm putus asa membuat semua kenangan bersama Abex melintas satu per satu, bagaimana saat pertama kata cinta terucap dahulu sampai pernyataan cerai di koran yg dicetak persis dibelakang ucapan selamat utk pernikahan Abex dgn wanita muda teman dansanya, kejam sekali kenyataan itu menyapanya. Bagaimana dia berkutat dgn kesibukan rumah tangga berbudget pas2an sehingga lupa merias wajah, sementara Abex sibuk menghadiri setiap pesta dansa dgn seribu alasan.
Suara peluit kereta makin dekat membuyarkan lamunannya, dia memejamkan mata sambil menunggu malaikat maut yg datang bersama kereta api jurusan Medan-Tebing tinggi utk menjemputnya, utk melupakan semua luka2 menganga yg tak tersembuhkan. Sesaat terlintas wajah 5 orang anak2nya yg manis, tawa ceria mereka saat menyambut dia pulang dari menjajakan kain dari rumah ke rumah utk sekedar menutup biaya hidup yg tak tertutup. Kemudian terlintas pertanyaan …
“Emmy, siapa nanti yg merawat anak2mu? Tegakah engkau melihat mereka terlantar, tersiksa lapar, terserak entah kemana? Atau mereka dibawa Abex dan hidup dibawah amarah ibu tiri?”
Sampai di situ jiwanya tersentak, tubuhnya bergetar hebat. Entah kekuatan dari mana menyentakkan seluruh otot2nya utk segera beranjak dari rel maut itu menghindari kereta api yg menghampiri utk mengoyak2 tubuhnya. Hanya beberapa detik sebelum kereta melintasi tempat dia berbaring tadi. Gemetar membayangkan tindakannya tadi ia berjalan pulang dgn lunglai.
Rasa cintanya pada anak2nya membuat dia mengurungkan niat bunuh diri itu. Rasa cinta itu pula yg memberinya kekuatan ekstra utk menjajakan kain dari rumah ke rumah dgn berjalan kaki. Jerih payahnya membuahkan hasil, dua tahun kemudian dia membeli sebuah sepeda agar lebih cepat dan lebih banyak kain yg bisa diantarkan ke pelanggan. Namun ternyata Abex masih kembali mengunjunginya, entah apa maksudnya. Yg jelas itu menimbulkan amarah dari istri muda Abex. Santet pun dikirim oleh sang istri muda, namun yg terkena malah putra Sulung Emmy. Padahal target sebenarnya adalah Abex dgn tujuan agar kembali pada istri mudanya. Dan mulailah penderitaan itu menghampiri, tiada hari tanpa diisi kecemasan akan ulah putra tersayangnya yg kurang waras. Dari memanjat pohon sampai telanjang bulat di jalan raya depan rumah, dari mengorek tong sampah sampai makan nasi basi yg dibuang orang. Setiap hari dia harus sambil mengawasi Tobby agar tidak melukai orang atau diri sendiri. Setiap malam airmata selalu mewarnai doa2 malamnya utk kesembuhan Tobby, tapi Tuhan seakan membisu, tiada jawaban. Atau mungkin Tuhan terlalu sibuk di belahan lain dunia pasca Perang Dunia II. Atau memang ini karma yg harus dibayarnya lunas dlm kehidupan ini. Entahlah… tapi dia harus tetap melangkah.
Suatu hari keajaiban datang menghampiri, seorang paranormal yg selalu membeli kain darinya merasa simpati. Simpati atas nasibnya yg begitu pahit. Ritual pun dijalankan dgn seijin Emmy, dan Tobby berhasil disembuhkan setelah therapi supranatural selama bbrp minggu. Malam itu, sebulan setelah kesembuhan Tobby airmatanya kembali mengalir, namun itu airmata bahagia. Ternyata kesibukan Tuhan dibelahan lain dunia tidak membuatNya melupakan Tobby. Ternyata doa2 bersegelkan airmata-nya selama ini masih di dengar.
Bbrp tahun kemudian ia menyewa sebuah kios kecil di pasar. Langganan-nya bertambah banyak dari hari ke hari. Kios sewaan itu akhirnya dia beli dari hasil menjual kain. Selang 2 tahun, kios di sebelahnya dia beli. Sekarang istana kain kecilnya sudah bertambah luas. Di barengi sebuah rumah sederhana milik sendiri, tempat berteduh anak2 tersayangnya dari panas dan hujan. Dan Abex sudah terlupakan, tercampakkan kesudut paling gelap dlm ingatan mereka.
Medan 1990
“Ma, saya dan anak2 duluan ke Melbourne ya… Nanti Elina dgn mama nyusul biar saya bisa jemput”
Suara itu mengakhiri lamunannya ttg masa lalu. Ya, suara putra bungsunya Berry, pemilik perusahaan alat rumah tangga, pemilik 2 ruko di Medan, 3 rumah mewah di Jakarta, dan 1 apartemen di kawasan elit Melbourne, Australia.
Jalan panjang yg ditempuhnya sudah hampir berakhir, butir2 airmata tiap malam dulu sudah terangkai menjadi mutiara indah bagi anak2nya. Pilihannya di rel kereta api dulu sudah benar.
Dipersembahkan utk seorang ibu yg rela melanjutkan penderitaan demi anak2nya.
Mama
sebatang jarum sehelai benang sutra
dijahitkan utk ku dgn sepenuh jiwa
setetes keringat dan setetes airmata
teriring harapan agar anak jadi org berguna
ah.. siapakah dia
yg jasanya begitu besar bagi beta
rela menghadang badai kehidupan penuh siksa
kupanggil namanya… mama…
namamu teringat selamanya
In Memoriam - Emmy Liany (1926 – 1992)
The most wonderful woman I`ve ever known




…
Perjuangan seorang Ibu demi anak2 nya…
Hmmmm…. sungguh hebat Ibu itu yach…
Merinding Bro
Ini cerpen apa kisah nyata yaks? Bener-bener menyentuh, dan membuat aku semakin percaya kalau:
“Segala Sesuatu-nya Itu Indah Pada Waktu-nya”
Serius…sama dengan Bro Ext-Mil
Saya merinding membaca cerita tsb …
Ibu … ibu … ibu … ibu … ibu …
Ah semangat dan kasih yang maha dahsyat …
Idem aja dulu. Nanti dimaknai lagi. *baca pas lagi laper berat*
Intinya (buatku): Jgn pernah bunuh diri…
@Extremusmilitis & deKing
Kisah nyata kok …
“In Memoriam – Emmy Liany (1926 – 1992)”
@Jensen99
Secara teori memang spt itu, tapi pada prakteknya tidak semua orang (apalagi wanita) sekuat itu mentalnya. Apalagi pernyataan cerai itu dibuat persis dibalik pengumuman pernikahan sang suami di koran terkemuka, siapa sih yg ga hancur lebur hatinya…?
Oh i c. Jadi, Bu Emmy Liani ini siapa bro?
CY :
Uuu… Kangen mama di rumah T_T
AYo tanggung jawabbb!!!
Aih… DI sini jadi makin.. T_T
@Rozenesia
Baca komen ente, gw jadi mikir2 ntar ada org yg bilang blog ku cemen & menye2 trus bentuk tim utk nyelidikin posting di atas hoax apa beneran kisah nyata, trus ada yg merasa cucu-nya dateng minta royalty.
Mas, kalau Ade pulang nanti.. buatkan satu puisi di blog ini untuk Ade… JANJI
-Ade-
CY : Janji juga klo pulangnya 2028 ya…, mesti optimis dong…, manusia diciptakan utk menaklukkan bukan ditaklukkan… (itu pesan dariNya lho, bukan dariku)
Cerita yang menyentuh. Pengorbanan seorang Ibu yang tidak sia-sia.
@ CY: Hush… Hush…
hiks…..
saia jadi kangen ibu saya juga…………
pengen pulang
ciwai,
ini cerita tentang nenekmu ya?
CY :
ketularan Siwi manggil gw ciwai…
JUARA !!!
huahahaha…
*sengaja ketawa keras2, takut nangis*
CY : nyang lomba mana ya?? kok ada juara??
*angguk-angguk
jadi kalo bgitu bunuh diri hanya ada di pikiran
ah…saya spicles…
salam kenal,
Ibu yaa….. jadi kangen juga sama sosok wanita yang satu ini, tapi entah kangenku bakal terbayar dengan apa?
Ibu yang berbahagia, eh benar bahagia nggak tuh bro?
CY: Yup.., benar bahagia bro…
seneng bisa ikutan mengenal wonderful woman kyk ibu emmy … btw, Tuhan memang maha adil dengan memberikan cinta ibu yg built-in untuk anak dengan tanpa pamrih… (tidak peduli anaknya mempunyai kekurangan.. dimata ibu pasti kelihatan cantik dan ganteng)
CY : Thanks bro…
wah keren sekali…..
happy ending memang selalu membikin semua orang puas.
[...] Tapi kalau mau bilang Bu Ayi tak sekolah sehingga tak tau hukum ekonomi, bagaimana dengan Bu Emmy Liani?? Bu Emmy bahkan tak bisa membaca, tapi ia mengerti yang namanya ilmu pelayanan dan rendah hati [...]
thanks