Saya berhasil menculik dgn sukses salah satu postingan dr blog lama si Rozenesia. Ini dia :
Alkisah, seorang bijak yang ruhnya nyelonong masuk raga si Mawar aka Rozenesia pernah bercerita mengenai nasib.
Di sebuah desa, hiduplah seorang petani yang mempunyai seekor kuda. Ia tinggal di sebuah peternakan kecil bersama anak laki-lakinya. Suatu hari kuda sang petani hilang. Padahal kuda tersebut merupakan salah satu sumber mata pencahariannya. Hampir semua penduduk desa datang menyatakan keprihatinan.
Seorang tetangga berujar, “Mungkin nasib buruk ya, kuda anda hilang.”
Sang petani menanggapi, “Dari mana anda tahu kalau itu nasib buruk?”
“Jelas saja sial dong, nasib buruk!” jawab tetangganya.
“….” petani diam saja, tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Seminggu kemudian, kuda petani yang hilang ternyata kembali, namun diikuti oleh 10 kuda liar. Kali ini para penduduk desa datang lagi ke peternakan sang petani. Mereka tampak gembira, dan merayakannya dengan makan-makan™.
“Nasib baik, ya! Sekarang kuda anda telah kembali, dengan membawa keberuntungan, bersamanya hadir 10 kuda lagi untuk anda.” ujar salah seorang tetangga memberi selamat.
Sang petani lagi-lagi menanggapi, “Dari mana anda tahu kalau itu nasib baik?”
Kali ini giliran sang tetangga yang terdiam. Esok lusanya anak laki-laki sang petani terjatuh dari kuda. Nampaknya ia mencoba menenangkan salah satu kuda liar yang tempo hari datang ke peternakan. Kakinya patah, serta sekujur tubuhnya mengalami lecet-lecet. Lagi-lagi, penduduk desa berkunjung, menengok anak sang petani sekaligus menyatakan keprihatinan.
Sang tetangga berkata, “Dasar nasib sial!”
Seperti biasa sang petani menanggapi dengan kalem, “Dari mana anda tahu kalau itu nasib buruk?”
Karena terus ditanggapi seperti itu, sang tetangga kesal dan membalas, “Sudah jelas ini sial namanya. Anda ini bagaimana sih?! Masa anak anda terluka anda bilang bukan nasib buruk?”
Keesokan harinya turun perintah wajib militer bagi para pemuda. Sepasukan tentara datang ke desa mereka untuk mendata dan mengumpulkan para pemuda yang harus turun ke medan perang. Anak laki-laki sang petani tentu saja tidak ikut karena kakinya patah.
Melihat hal ini, penduduk desa datang lagi dan memberi selamat.
“Nasib baik, nasib baik! Anak anda tidak ikut perang!”
Seperti biasa yang membuat tetangga kesal petani bertanya lagi,
“Dari mana kalian tahu…?”
Penduduk desa menjadi heran dengan sikap petani yang santai-santai saja. Sebulan berlalu, kaki anak sang petani mulai sembuh. Ketika hendak menyalakan kompor, ia terjatuh karena cideranya belum sembuh benar. Kompor terbalik, api menyebar, dan rumah sang petani habis terbakar. Walaupun begitu, sang petani dan anaknya selamat. Tak bisa dipungkiri lagi, semua penduduk desa menyatakan keprihatinan akan tragedi yang menimpa sang petani.
Salah seorang menyahut lagi, “Sungguh nasib yang benar-benar buruk menimpa anda dan keluarga.”
Sang petani masih tetap pada pendiriannya, yaitu menjawab dengan kalem, “Ah, darimana anda tahu kalau yang saya alami adalah nasib buruk?”
Lama-lama tetangganya geram juga karena selalu ditanggapi seperti begitu, “Anda ini kenapa? Kami menyatakan keprihatinan atas nasib buruk, anda malah ragu apakah itu nasib buruk. Kami datang memberi selamat atas nasib baik, anda juga ragu apakah itu nasib baik. Sebenarnya mau anda apa sih? Jelas-jelas kelihatan kalau itu nasib baik atau buruk.”
Besoknya diumumkan bahwa pemenang undian bernilai ratusan juta adalah sang petani. Tentu saja dengan hadiah uang tersebut, sang petani bisa membangun peternakannya kembali, bahkan kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Penduduk desa merayakannya dengan pesta semalam suntuk.
“Ahahahaaa…! Anda orang yang sangat beruntung! Nasib anda sungguh mujur!” ujar tetangganya.
Sang petani tersenyum, lalu lagi-lagi membuat orang kesal berkata,
“Ha, dari mana anda tahu kalau saya beruntung dan bernasib baik?”
Ya, kita selalu suka mengatakan, “Ini baik, itu buruk, itu jelek, ini bagus. Padahal, tak ada gunanya. Kita mengatakan sebuah kejadian sebagai ‘musibah’, atau kejadian lainnya sebagai ‘anugrah’, padahal yang kita lihat hanya satu persennya.
…apakah anda tahu anda bernasib baik atau buruk?
…jika ya, dari mana anda tahu?
Ini betul2 postingan dari blog lama si Gun Mawar yg menaikkan kadar sikap mental positif-ku sampai setaraf jurus 9 Matahari-nya Thio Bu Ki sang Kaucu Beng-kaw di Golok Pembunuh Naga & Pedang Langit. Thanks Gun…




PERTAMAX….
@Rozenesia
puas?
Puas…
Puas juga liat repost blog lama nongol di sini, jadi bisa berbagi
angpaupendapat deh.Nasib … nasib…. hiks jadi selama ini saya beruntung apa sial sih?
*liat komen atas*
wah kayanya masalahnya berat nih…
tafi ada yang benul-benul memang bernasib sial difostingan itu…
liadh aja nasib tetangganya…
nasibnya sial terus…
gimana engga coba? uda ikodh frihatin, malah ndak dihormatin…
uda gitu, malah diceramahin lage!!!
kasiannya fara tetangganya ya?
*digebukin fsangan baru blogosphere*
*manggut2*
*mata berbinar2*
*tercerahkan*
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja” — WS RENDRA
Posting ini mengingatkanku pada puisi WS Rendra :
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
(WS Rendra).
hetrix aja deh sekalian.. *ngungsi ke timbuktu*
haha keren renungannya
ah saya sudah pernah baca ini…
*log out*
wakakakak…pasangan baru blogosphere?!?
ya ya ya. tidak baik mengatakan suatu kejadian adalah nasib baik atau buruk karena kita tidak akan pernah tahu pasti akibat dari kejadian itu selanjutnya.
maafkan komen ngawur saya…
@Danalingga
ada apa bro…? anggap aja ga ada yg namanya nasib buruk ataupun baik.
@caplang
hehehe… sptnya memang iya
@Hoek
afa maksud ente? mau gw cekek dari dlm mimpi hah?
Itu krn tetangganya terlalu loso… hehehe…
“fsangan baru blogosphere??”
@Warnetubuntu
Puisi yg bagooss sangadh..
“ketika langit dan bumi bersatu..” saya lsg pesan tiket ke Mars…, brarti mo kiamat tuh
@Hariadhi
thx..
@cK
apa buktinya sdh pernah baca??
@tukangkopi
anda dimaafkan… tapi sebelumnya saya cekek dulu ya?
membuat kita sadar akan keterbatasan manusia, kita takan pernah tau apa yang akan terjadi walau hanya sedetik ke depan.
Salam kenal, izinkan saya nge-link blog ini, pasti boleh kan?
terima kasih
@Hadi arr
Silahkan di link bung…, salam kenal kembali.
Bukannya kita gak pernah tahu nasik kita akan baik dan buruk ya mas?
-Ade-
CY: …
Hetrixx lagi … BAHAGIA
-Ade-
@Ade No.16
mungkin maksudnya kita gak usah memikirkan apakah suatu kejadian itu buruk atau baik krn efek di kemudian harinya kan ga bisa kita ramalkan.
kecuali kalo kejadian-nya di sengaja, misalnya klo gw nyolek Ade kan efeknya bbrp detik kemudian pasti digampar, itu pun belom tentu kan.. hehehe…
@Ade No.17
@Ade No.18
mentang2 gw lagi sibuk dihetrix terus ya, tapi ga pa2 deh, membahagiakan org itukan salah satu amal ibadah…
[...] bukan orang bijak, bukan pula pakar atau ahli. Tapi apakah kita menilai pesan seseorang dari siapa dirinya, bukan apa [...]
artikel ini dikalimat terakhir ada kisah TO LIONG TO…… mungkin nanti saya muncul versiku III. setelah saya postingan artikel lain lsg mampir disini baca sejenak.
ok, saya skrg baru tau ada artikel judulnya NASIB BAIK / BURUK ??
senang bertukaran pikiran dengan anda…..
[...] bukan orang bijak, bukan pula pakar atau ahli. Tapi apakah kita menilai pesan seseorang dari siapa dirinya, bukan apa [...]