Inilah kesempatan yg sudah lama ia tunggu, pindah tugas ke kantor cabang di Taipei utk menghindari Rini sekaligus menyusul Eva sang gadis impian yg muncul di tengah reruntuhan hatinya setelah kehilangan Michelle. Perkenalan dgn Eva biasa saja, dia tertarik dgn buku ttg kehidupan pasca kematian yg ditulis gadis itu dan dipromosikan lewat salah satu website. Sejak kepergian orang yang dicintainya, Josh memang selalu mencari segala tulisan ttg After death seolah2 ingin menelusuri kemana dan menjadi siapa dia terlahir kembali. Ada satu bab dari buku Eva yg dikritik oleh Josh krn tdk sesuai dgn apa yg dia tahu selama ini ttg After death. Dan entah bagaimana awalnya, perdebatan lewat email itu berubah menjadi kata-kata cinta yg mengisi hati keduanya. Jarak yang jauh ternyata tak menghalangi cinta bersemi. Josh melompat kegirangan ketika tiba2 ada tawaran utk pindah ke kantor cabang di Taipei. Pimpinan cabang disana mengundurkan diri krn ada peluang lebih menjanjikan di perusahaan lain. Krn Josh pernah tinggal di Taipei bbrp tahun, maka dialah satu2nya kandidat yg paling memenuhi syarat utk menggantikan.
Barang2 yg perlu dibawa ke Taipei sudah selesai di packing, ngantuk dan lelah membuatnya ingin lsg lelap, besok pagi2 sekali dia harus berangkat. Kota baru utk memulai kehidupan baru dgn cinta baru. Sungguh suatu hal yg bisa membuat orang tersenyum dalam tidur. Kembali ke kota indah yang dulu juga pernah menggoreskan kenangan indah bersama Michelle. Ingin rasanya menelusuri kembali Shifu road di awal musim semi, berpetualang ke Hua Lien menikmati pesona pantai di sana.
“Berjanjilah tak akan meneteskan airmata bila teringat padaku dikemudian hari, agar bisa meneruskan harimu dgn optimis.”
Suara itu seolah terdengar kembali, pesan gadis itu padanya 2 hari sebelum Josh menggendongnya ke ruang ICU krn sesak nafas yg disebabkan kebocoran jantungnya. 3 hari sebelum Michelle pergi dgn damai diiringi setetes airmata terakhir di sudut matanya. Meninggalkan tubuh rusaknya utk terlahir kembali di kehidupan yang lebih baik. Meninggalkan Josh yang lalu menghilang selama seminggu tanpa berita. Meninggalkan piring dan gelas kosong yg selalu mendampingi saat Josh makan sampai sekarang.
Bertemu Eva pertama kali dibandara merupakan hal yang selama ini hanya mimpi bagi dirinya. Duduk berdua di coffee shop Bandara Chiang Kai Sek saling memandang seakan sebentar lagi akan berpisah. Seperti sepasang kekasih yang sudah berpisah ribuan tahun. Kopi yg terhidang pun dibiarkan dingin sementara percakapan diantar mereka seakan tak kunjung kehabisan topik. Satu hal yang diluar kebiasaan… piring dan gelas kosong yang biasa harus ada, hilang entah kemana. Mungkin hilang terbawa angin dingin yg menyusup halus disela tembok bandara. Suasana coffee shop yg sudah sepi tinggal mereka berdua itulah yg menyadarkan Josh. Apalagi saat melihat waitress sedang berbenah.
“Aku antar yuk..” kata Eva sambil melambaikan tangannya ke arah waitress utk billing makanan mereka. Jemari gadis itu mengangkat gelasnya utk menghabiskan setengah kopi yg ada disana. Saat itu mata Josh terpaut pada cincin di jari manis kirinya. Ia melongo dengan seribu perasaan yg sukar dilukiskan, entah gembira atau gelisah ia tak tau. Cincin itu persis sama model, warna dan permata tunggalnya. Sama dengan yang melingkar di jemarinya. Yang beda hanya ukurannya.
“Jariku seksi ya, kok sampe melongo ngeliatnya?” celutuk Eva yg narsisnya kumat. Senyum manisnya yg bisa menjatuhkan malaikat dari langit ketujuh menyadarkan Josh.
Ia lalu meletakkan jemarinya diatas jemari Eva sehingga cincin mereka berdua bersentuhan. Sekarang senyum manis itu berganti dgn tatapan takjub.
“Jariku juga seksi kan?” Josh ganti menggoda.
“Bagaimana bisa kebetulan begitu? Padahal kita tak pernah berjumpa sebelumnya Josh…”
“Namanya juga jodoh..” jawab Josh sekenanya.
Pembicaraan mereka terputus krn slip tagihan datang.
Josh diantar ke apartment perusahaan dengan mobil Eva, sengaja ia meminta rekan dari kantor tak usah menjeput, sebenarnya sedikit memaksa sih. Soalnya sang rekan ngotot krn takut Josh nyasar.
“Pantes ga mau di jeput, rupanya ada kencan…, kami kira bener2 nyasar jam segini baru pulang, hahaha…” Pieter nyelutuk saat Josh sampai di apartemen. Pieter sengaja menunggu sampai Josh selesai baru ia kembali ke apartemennya yg persis disebelah Josh. Siapa tau Josh memerlukan sesuatu.
“Pernah tinggal 5 tahun di sini masih bisa nyasar itu sih kebangetan Piet..” kata Josh tertawa sambil menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu. Udara dingin diakhir musim dingin membuat Josh malas melangkah ke kamar mandi, tapi untung di ruangannya khusus disediakan mesin pemanas jadi acara mandi sebelum tidur terlaksana juga.
Hari pertama kerja Josh begitu bersemangat. Atau mungkin makan malam dibandara semalam menyuntikkan steroid yg bernama “gairah hidup” ke jiwanya. Bersama Pieter dia berjalan menuju ke kantor yg letaknya hanya bbrp blok dari apartemen, sepanjang jalan dia mengagumi keindahan kota Taipei yang sudah banyak berubah sejak ia tinggalkan bbrp tahun lalu. Gedung Shin Kong masih menjulang megah di kejauhan, tapi sudah tak seangkuh dulu lagi, karena sudah di saingi oleh Taipei 101. Gedung berlantai 101 itu dibangun dgn teknologi canggih tahan gempa dgn memasang tuned mass damper di dalam gedung. Dan merupakan salah satu gedung tertinggi di dunia mengalahkan Twin Tower-nya Malaysia. Taiwan memang negara rawan gempa. Josh masih ingat dulu saat pertama mencicipi gempa di Taipei, gempa ringan bbrp skala ritcher membuat Josh kaget dan terbirit2 lari turun dari kantornya dulu yg ada di lantai 3. Sementara pegawai lain yg orang lokal hanya memandang takjub pada kepanikan dirinya. Karena bagi penduduk sana, gempa skala kecil yg susul menyusul sudah biasa terjadi. Setelah itu tentunya dia harus berjuang keras mengalahkan rasa malu agar bisa masuk kembali ke ruangan diiringi senyum rekan2nya.
“Apa kabar Taipei, masih sering gempa ga setelah gempa raksasa tahun 1999?” tanyanya sambil berbelok ke Xinyi road mengikuti Pieter menuju ke kantor baru.
“Biasalah Josh, gempa2 kecil masih sering ada”
“Dimana letak kantor kita Piet?”
“Di dekat 101 tuh”
Posisi kantor memang strategis, paling ga itu menurut Josh. Krn pintu keluar masuk menghadap langsung ke kata LOVE yg dibuat di depan Taipei 101. Atau karena itu tulisan bersejarah dalam kehidupannya, entahlah. Ruangan Pieter yg selanjutnya akan ditempati Josh berada di lantai 3.
“Jadi kapan resminya akan mengundurkan diri Piet? Kalo bisa sampai gw cukup lancar dulu dgn tugas2 di sini”
“Jangan terlalu lama dong Josh, kalau bisa maksimal sebulan lah. Makanya kamu harus konsen dulu ke serah terima ini, jgn fokus dulu ke gadis cantik yg semalam itu ya.” Kata Pieter sambil bercanda.
“Dasar, kalo ngeledek lagi ntar gw perpanjang loh proses serah terimanya.”
“Haduhh.. ampun boss.., kasihanilah saya. Nanti kalo disana ditolak disini sudah keluar, anak istri makan apa??”
Dan mereka berdua pun tertawa.
Ruangan yang bakal ditempati memang membuat betah, dari jendela di samping kiri meja kerja terlihat pemandangan depan Taipei 101 dgn LOVE-nya. Sofa utk tamu ada di sebelah kanan meja, dan televisi terletak di sudut ruangan persis menghadap meja kerjanya. Koneksi Internet 1Mbps melalui WiFi yg bisa diakses seisi kantor, harus dgn password tentunya.
“Suasana enak begini kok ente ga betah Piet?”
“Kan supaya kamu bisa kesini dan ketemu gadis pujaanmu…”
“Halah dasar ada maunya kamu Piet, kalo ngangkat ya jgn kentara gitu dong”
Pieter tertawa lagi.
Dan seharian itu Josh harus konsentrasi penuh saat Pieter “menurunkan ilmu” -nya diselingi lelucon sesekali. Rasa lapar yg menyapa saat jam menunjukkan pukul 1.00 menyadarkan mereka bahwa perut sudah tak bisa diajak kompromi.
“Makan siang enaknya dimana Piet?”
“Eh, di dekat ShinKong tuh ada restoran vegetarian yg enak Josh”
“Ah hahaha.., tau aja kamu Piet, darimana tau saya vegetarian?”
“Khan udah diwanti2 dari kantor pusat, lagian kalo kamu ga betah bisa mampus aku nyari pengganti darimana”
“Halah… jgn terlalu menyanjung, kan masih banyak yg lebih pinter dari gw”
Ketika mereka sampai dan menyusuri emperan toko sepanjang Shongzi road menuju ke rumah makan tersebut, Josh berpapasan dgn seorang bapak tua berumur kira2 50-an tahun. Bapak itu mengepit tas yg sudah agak buram warnanya, pakaiannya terlihat agak kusam namun rapi. Dan wajahnya terlihat kaget saat berpapasan dgn Josh. Ketika ia memandang wajah Josh, bapak itu langsung pucat dgn bibir gemetar mengucapkan bbrp kata,
“Ah.., ada.. ada tanda di keningmu. Aura dendam kekasih 7 generasi. Apakah.. apakah orang yang engkau cintai telah meninggal?? Oh tidak, tidak, saya tidak boleh ikut campur, maaf..” dan bapak itu tergesa2 menjauhi mereka berdua.
Bersambung…





wah….. kayaknya bakal jadi cerita horror nih
*ditimpuk CY*
ditunggu ya sambungannya, paling lambat lusa
CY : Ah hahaha…, tunggu aja surprisenya…
ini nyambung sama cerita yang dulu kan? kenapa trilogi 1?
ah..piring dan gelas kosong itu dah ndak ada lagi. tanda2nya gw gak dapet jatah gratisan lagi nih..
CY : ah hahaha…, kalo ada terus rugi dong, si Joshnya ntar ga kawin2
di-tunggu lanjutan-nya bro, ntar komen-nya kalau trilogi-nya udah kelar