Josh terbangun, rupanya kejadian itu hanya mimpi. Ia melihat Eva yang terbaring koma di sebelahnya. Ia bergidik membayangkan mimpinya barusan, apakah itu terbawa dari kehidupannya dulu? Apakah pemuda yg wajahnya mirip dengan dirinya adalah dia di kelahiran terdahulu? Kata-kata tujuh generasi mengingatkan dia kembali pada perjumpaan dgn lelaki peramal yang di depan rumah makan tahun lalu.
Sudah dua hari Josh menunggu di Shongzi road, bahkan sudah berjalan mengelilingi jalan2 disekitar sana. Namun bapak itu tak kunjung kelihatan jua. Ah.., mungkin sudah berganti profesi, pikirnya sambil berjalan pulang. Dia sudah mencari ke beberapa toko buku, perpustakaan, bahkan dgn search engine di internet. Tapi tak ada satupun informasi yang menjelaskan tentang dendam pasangan 7 generasi itu. Ia ingin tau lebih dalam tentang legenda kuno itu, karena ia punya firasat mungkin ini yang bisa menyelamatkan Eva. Tim dokter sudah angkat tangan, kalaupun ada mukjizat dan Eva bisa sadar dari komanya ia juga akan mengalami amnesia permanen karena efek kejut yang diakibatkan oleh peluru dan benturan kepala diaspal saat terjatuh. Kali ini ia tidak boleh menyerah seperti dulu, ia harus berusaha terus walaupun didepannya kini menganga jurang yang lebar, atau gunung paling tinggi. Eva harus sembuh kembali. Namun perasaan ingin menyerah pada kenyataan itu begitu kuat mengiringi setiap langkah menuju ke apartemennya.
“Maafkan saya, baru sekarang saya berani menemui anda.” Sebuah suara menyapanya saat ia hendak memasuki gedung apartemen. Josh berpaling ke arah suara itu, dan mendadak wajahnya berubah berseri-seri. Itu adalah orang yang dia cari2 selama dua hari ini, peramal tua itu. Rupanya sejak semalam bapak itu sudah menunggu di depan apartemennya, semalam Josh tidak pulang karena menjagai Eva di rumah sakit. Karena itu hari ini si bapak menunggu lagi.
“Ah, kebetulan sekali saya sedang mencari bapak. Mari kita bicara di tempat saya di lantai 3″
“Kiranya bapak berkenan menjelaskan cerita ttg dendam kekasih 7 generasi. Saya berterimakasih sekali bila bapak mau menceritakannya. Saya sudah cari hampir di semua toko buku tapi tak ada penjelasan sama sekali.” Josh membuka percakapan saat mereka sudah duduk di ruang tamunya.
“Mitos kuno itu memang sudah jarang sekali diceritakan, bahkan hampir dilupakan dijaman yang sudah semaju ini. Jadi kecil sekali kemungkinan ada bukunya. Ini kisah tentang sepasang kekasih yang dikutuk oleh ayahnya sehingga tak bisa berkumpul bersama selama 7 kelahiran walau sebesar apapun cinta mereka. Terjadinya karena salah paham sang ayah terhadap si gadis. Dan oleh kakak si pemuda yang juga mencintai gadis yang sama hal ini di jadikan alasan utk memisahkan mereka berdua. Karena si gadis tetap mencintai adiknya maka si kakak menjadi marah dan mengatur skenario utk memfitnah si gadis di depan penduduk kampung. Penduduk kampung yang marah mengikat si gadis di rumah gubuknya lalu dibakar. Sang kakak terbunuh oleh senjatanya sendiri, saat hendak membokong adiknya yg pergi menyelamatkan si gadis. Ayahnya yang sangat menyayangi kakaknya begitu terpukul hingga meneriakkan kutukan utk mereka berdua. Karena kekasihnya tak sempat di selamatkan, si pemuda pun bunuh diri dengan pedangnya sendiri. Mulai saat itu mereka berdua akan terlahir bersama dan ditakdirkan untuk saling jatuh cinta, tapi setelah itu mereka selalu akan terpisah oleh kematian salah satunya. Hal ini akan terjadi sampai 7 kali kelahiran. Sampai sekarang belum ada yang tau sudah berapa kali kelahiran yang terjadi. Hanya ada yang pernah bilang, kelahiran yang terakhir kali akan ditandai dengan kesamaan benda milik pribadi kedua pasangan ini, walau sebelumnya mereka belum pernah berjumpa atau merencanakan memiliki sesuatu yang sama. Dari cerita orang2 tua dulu, belum pernah ada yang bisa menyelesaikan dendam kutukan ini di kelahiran yang terakhir kali, selalu akan gagal dan dipisahkan kematian, kemudian akan berulang lagi dari pertama.”
Mendengar cerita itu Josh teringat kesamaan cincinnya dengan Eva, cincin yg entah kebetulan darimana bisa sama persis dari model sampai dengan warna.
“Ahh…, sungguh sebuah kutukan yang tak berujung. Kenapa harus saya yang terjebak dalam lingkaran dendam tak berkesudahan ini. Yang hanya diawali kesalahpahaman kecil karena kurangnya komunikasi?” Josh menghela nafas.
“Hei…, bahkan rasa ketertarikanmu akan pedang ini masih terbawa sampai sekarang?” kata sibapak kaget saat melihat replika pedang “kekasih 7 generasi” yang tergantung di dinding. “Dulu saat melihat kematian tragis sipemuda, seorang sahabat dekatnya diam2 menguburkannya dan mengukir puisi dibadan pedang lalu di tancapkan dikuburannya. Kuburannya tidak diberi nama karena takut diaduk2 oleh penduduk kampung yang merasa kurang senang.”
“Maafkan bapak karena baru sekarang memberitahu engkau, karena takut engkau jadi terpisah dengan kekasihmu yang sekarang. Seperti yang kamu tahu dalam tatakrama masyarakat Tionghoa, memisahkan dua orang kekasih utk alasan apapun akan berakibat karma buruk untuk si pelaku. Namun setelah pertimbangan selama setahun ini, walaupun tidak diberitahu tetap akan dipisahkan oleh kematian. Jadi saya memutuskan tidak perduli pada segala karma buruk. Oya, apa kabar teman wanitamu?”
“Hhhh…, dia masih koma di rumah sakit pak, terkena peluru nyasar sebulan yang lalu. Dan, terimakasih bapak sudah memilih memberitahu kami walaupun dengan bayang2 karma buruk.” Josh menjawab lirih.
“Ha??” hanya itu suara yang terdengar sementara pemilik suara terhenyak ke sofa dengan lemas dan wajah pucat. Mungkin ia merasa bersalah karena terlambat memberi tahu.
“Saya sebenarnya mencari-cari bapak dua hari ini. Dengan harapan bisa menemukan jalan keluar dari situasi ini, agar Eva bisa sembuh. Tolonglah pak, sekalipun harus menembus ke dunia antara tempat para arwah saya juga akan lakukan.”
“Oh, jangan.. jangan, sekalipun kamu bisa kesana hanya memperparah keadaan. Sepertinya saya terlambat memberitahu, ahh… kalau saja sebelumnya kalian berpisah kejadian ini tak pernah akan ada.” Bapak itu terlihat menyalahkan diri sendiri sambil menjambak-jambak rambutnya yang hampir memutih semua itu.
“Sekarang kita hanya bisa memohon agar Sang Raja Langit memberi kemurahan sehingga kutukan ini bisa dihapuskan, dan teman wanitamu bisa sehat kembali. Dan banyak2 lah berbuat kebaikan dikemudian hari.”
“Benarkah tak ada jalan lain selain perpisahan oleh maut? Pak?”
Bapak itu menggeleng2kan kepalanya dengan putus asa. Josh berteriak sekeras2nya ingin melepaskan semua kesedihannya tapi tak sanggup. Kedua tangannya terangkat sejajar bahu dan mengepal kuat sampai seluruh tubuhnya bergetar dan dia kehilangan suara teriakannya diakhir jeda penarikan nafas berikutnya. Tiba tiba dia merampas pedang yang dipegang oleh bapak itu, mengangkatnya keatas tinggi-tinggi. Bapak itu sampai terpelongo dengan mulut terbuka dan wajah memucat. Dengan sekuat tenaga pedang itu dihujamkan cepat kebawah…
“Brak!!!” terdengar suara keras, pedang itu tertancap hampir setengahnya ke meja kayu disamping Josh. Sementara dia terlihat berlutut lemas disamping meja dengan tangan kanan masih bertumpu pada gagang pedang. Saat itu puisi yang tertulis di badan pedang terbaca kembali olehnya.
Tujuh cinta menghampiri,
Tujuh kematian mengakhiri,
Dua kekasih tujuh tragedi,
Berpisah kini bisa bersama nanti.
Melihat puisi itu otaknya berputar cepat, ada sebuah cahaya kecil yang muncul dalam kegelapan samudera akalnya. Sebuah harapan yang samar tapi makin menghampiri. Untung tadi dia mengganti arah pedang tersebut sehingga meja yang menjadi sasaran dan bukan lambungnya.
“Masih sempatkah? Masih sempatkah kalau aku pergi darinya sekarang?” kata Josh setengah berbisik, tak jelas pertanyaan itu ditujukan kepada peramal tua itu atau dirinya sendiri, atau mungkin Tuhan.
“Saya belum pernah mendengarnya…, tapi tak ada salahnya utk dicoba. Toh kalau gagal hasilnya juga akan sama dengan kalau kita tak mencobanya. Kalau berhasil, mungkin akan lebih baik utk kalian berdua di kehidupan berikutnya.” Kata bapak itu mencoba bijaksana.
“Ya.., betul.. betul sekali kata2 bapak.” Ada seringai yang sulit diartikan di wajah Josh.
Berencana dan berkata2 memang mudah, tapi bila tiba2 meninggalkan Eva sendiri dalam keadaan seperti itu orang2 akan menganggap Josh takut dan memilih pergi. Orang2 akan berpikir Josh lebih memilih mencari gadis lain yang cukup sehat. Dan bisa jadi kedua orang tuanya akan beranggapan legenda dendam kekasih 7 generasi itu hanya sebagai alasan bagi Josh utk menghindari kerepotan krn harus mendampingi Eva. Dan mungkin saat dia menginjakkan kaki lagi ke Taipei, mereka terutama Eva tak akan mau bertemu dengannya lagi. Dan.., cinta memang tak selamanya harus bersama dan menikmati keindahannya. Setelah menimbang2 selama 2 hari dengan hanya bbrp jam tidur malam, ia memutuskan utk pergi. Ya, ia telah menetapkan pilihannya. Ia lebih rela nama baiknya dihadapan orang2 hancur tak bersisa, ia lebih memilih dianggap pecundang. Ia harus bisa menerima semua caci-maki teman2 dan orangtua Eva. Biarlah hanya Tuhan yang tau, karena Dia satu-satunya yang tak pernah memaki-maki manusiaNya…
Kota Taipei memasuki pertengahan musim semi, rasa beku dari 9 Celcius terkadang masih bertebaran dimana-mana. Lembayung masih mengintip di langit Timur yang temaram, tapi taxi kuning itu sudah membawa Josh meninggalkan apartment menuju airport. Meninggalkan segala kenangan yg mencoba berlari mengejar, namun dikalahkan oleh taxi yg melesat kencang dipagi yg masih sepi. Pesawat menuju Indonesia memang pagi sekali, jam 6.30. Itupun tiba di Jakarta sudah jam 12 siang. Semalam ia telah menyelipkan sebuah surat yang menjelaskan kepergiannya di genggaman Eva. Walaupun ia sadar itu tak ada gunanya, orang2 pasti akan punya seribu alasan yang lebih masuk akal. Ia juga menyalin isi surat itu ke email dan mengirimkannya ke Eva, dengan harapan gadis itu bisa sembuh dan ingat kembali hal2 sebelumnya. Dengan lembut Josh membisikkan puisi yang tertulis di surat ke telinga kekasihnya itu, kata2 yang pernah diucapkan Liang Xien kepada Kuan Jiang dulu :
Jikalau kita berpisah.
Ingatlah hari-hari ketika kita mematri kenangan indah bersama.
Jangan pernah bersedih atas kehilanganku,
karena kepergianku tidak membawa pergi duniamu…
Melintasi suka duka dunia fana
Mengembara bersamamu dengan mesra
menembus pegunungan dan sunyinya belantara
bersama mimpimu terbang menemani harumnya bunga
Dalam hidup ini tergila-gila padamu
karena mencintaimu yang tiada duanya
bayangan pedang dan riak air yang bercahaya
hanya berlalu lalang senantiasa
senantiasa…
Dalam hidup ini tergila-gila padamu
karena mencintaimu yang tiada duanya
jika masih ada petualangan yang mesra
walau wajah keriputpun sukar untuk lupa
sukar untuk lupa…
Seandainya bisa membuat langkahmu terhenti
berbalik melihat genangan di mata ini
banyak untaian kata yg tersusun dalam hati
banyak alasan kenapa hanya kamu dihati
Namun langkahku terhalang sebuah pilihan
bersua serta mengecup pipi indahmu
dan kemudian kamu pergi dibawa Nya
atau…
diam disini dan dirimu tetap didunia.
Dan itu pertamakalinya sejak koma, ia melihat jemari Eva bergetar sedikit dan ada airmata yang keluar dari sudut mata gadis itu. Josh matanya mulai basah, entah sedih entah gembira sulit dipastikan.
“Mari kita mengakhiri dendam kekasih 7 generasi ini, sayang. Berjanjilah kamu harus sembuh dan hidup kembali, supaya pengorbananku ini tidak sia2.”
Di ruang tunggu bandara CKS Josh memesan sarapan pagi. Dan seperti biasa, gadis pelayan coffee shop akan memandang terheran2 saat ia juga memesan satu piring dan gelas kosong. Serpihan kenangan 3 Desember 2002 itu kembali dipertahankan, walaupun Michelle mungkin akan memandang sedih dari atas sana. Dan tentu saja gadis pelayan yg manis itu meletakkan piring dan gelas kosong disamping Josh sambil merinding. Josh hanya memandangi dgn senyum dingin kala gadis itu pergi sambil bergidik. Tak disangka dia harus meninggalkan Taipei secepat itu. Belum dua tahun waktu berjalan. Semua kenangan itu seperti terlintas kembali dihadapannya, kenangan indah di kota empat musim itu sungguh sulit dilupakan. Tapi semua itu harus ditinggalkan, harus dilupakan demi hidup gadis yang dicintainya. Harus…
.
.
.
Taipei 2012
Seorang gadis cantik dgn pakaian pengantin keluar dari mobil. Disambut wajah2 berseri orang tua dan teman2nya. Terlihat si gadis pengantin itu celingukan seperti mencari seseorang, tapi menit berikutnya terkesan kecewa, mungkin karena yang dicari tidak hadir. Pesta yg diselenggarakan besar2an itu memang membuat Linsen road sedikit macet. Wajah Eva berseri2 bahagia dalam pakaian pengantinnya, bergandengan mesra dgn suaminya memasuki tempat resepsi di restoran Vegetarian yg cukup terkenal di Taipei.
Josh tersenyum melihat semua itu dari kejauhan. Ia tahu kabar itu krn email yang dikirim Eva ke mail address lamanya, walaupun selama ini email2 dari Eva tak pernah ia balas. Ia tak ingin mampir takut mengusik Eva dgn semua kenangan yang dulu. Walaupun melihat resepsi itu menghancurkannya sampai ke tulang sumsum, namun ia bahagia krn Eva masih hidup. Josh menggandeng lengan Rini yang menyandarkan kepala ke bahunya dan berjalan pelan menyusuri Xinyi Road mungkin utk yg terakhir kalinya, menikmati hamburan cahaya ditengah perayaan Musim semi.
Dialam antara nanti aku bersumpah
Tak akan meminum air pelupa cinta
Agar tak kulupakan indahnya cintamu selamanya
Yang telah mengembalikan hidupku ke dunia
Sampai jumpa di kelahiran berikutnya kekasih…
.
.
.
Dan… dendam kekasih 7 generasi itu tuntaslah sudah.
Selesai.
NB: Puisi di edit dan dibajak semena2 dari Lirik lagu ROCH2006 – Tian Xia Wu Shuang (Pasangan yang tiada duanya dikaki langit) – Jane Zhang Liang Ying, maap ya Jane hihihi…




Langsung bengong kecapean setelah posting hihihi…
jadi terharu……..
tapi memang berat buat merelakan orang yang kita cintai
*kehilangan fokus*
CY : bantuin nyari “fokus” itikkecil yang hilang
waduh.. mesti baca dari awal nih
Wew… permisi dulu, kudu baca yang sebelumnya ya? biar nyambung…
@tony, @cabe rawit
Hehehe… silahkan. Pilih aja di side bar sebelah kanan
akhirnya gw selesei juga bacanya. dan gw masih heran, terinspirasi darimana cerita ini bro?
@tukangkopi
Terinspirasi dari serial kesayanganku Chinese Ghost Story -nya Barbie Hsu, kenapa bro??
BERTEMU BUKAN UNTUK BERSATU
MENCINTAI BUKAN UNTUK MEMILIKI
DIPISAH OLEH RUANG DAN WAKTU
TAPI CINTA TAK PERNAH MATI
CY … PANJANG BANGET CERITANYA SEPANJANG TEMBOK CINA HE..HE..TAPI SERU! BACA SAMPAI HABIS.UNTUNG NGAK KETIDURAN .
CY : Hehehe.. lagi maniak bikin cerita sih makanya panjang. Tapi kalo bisa ketiduran berarti ga seru dong