Alkisah ada seorang pemuda miskin bernama Denny yg rajin dan bekerja keras utk membangun kerajaan industri miliknya sendiri mulai dari nol. Ia mulai sebagai pemulung. Setelah 3 tahun sebagai pemulung karton dan barang2 bekas, akhirnya dia memilih spesialisasi ke karton bekas. Dia mulai mendaur-ulang karton2 bekas yg dikumpulkannya dan diproduksi menjadi karton baru. Singkat cerita dia berhasil membangun bisnis kecil2an dalam industri pembungkus. Sewaktu baru memulai bisnisnya, ia ditertawakan dan diejek2 oleh tetangga-nya yg kaya yang sudah memiliki industri pembungkus dgn cabang di 3 kota besar di Indonesia. Malah ia diboikot oleh klub bisnis dimana tetangganya tersebut masuk sebagai Gold-member. Jatuh-bangun ia mencari dukungan dari berbagai pihak, yang sialnya kebanyakan adalah teman2 bisnis tetangganya. Merasa hampir putus asa ia berdoa mengadukan perkaranya pada Tuhan, tentang trik curang tetangganya yg memanfaatkan kekuatan mayoritas utk menekan dirinya yg dlm hal ini tentu pihak yg minoritas.
Tuhan mengabulkan doanya, pelanggan Deny bertambah banyak sehingga dia mulai membuka cabang di kota sebelah. Tapi tentunya sang tetangga tak tinggal diam, dia berhasil menyusupkan kekuasaannya ke pihak yg bertanggung jawab menetapkan standarisasi sebuah industri pembungkus. Maka Deny pun kembali jatuh kedalam masalah, krn standarisasi pabriknya diklaim melenceng dari yg seharusnya. Padahal bertambah banyaknya pelanggan Deny disebabkan inovasinya yg melenceng tersebut, namun terbukti inovasi tsb berdaya guna bagi pelanggan2nya baik dari segi ekonomi maupun teknis. Karena terancam dibakar dineraka hukuman penjara maka Deny kembali curhat kepada Tuhan ttg masalahnya tersebut.
“Tuhan, walaupun inovasi saya melenceng dari standarisasi yg ada tapi kan terbukti mendapat respon positif dari pelanggan. Disamping itu juga tidak menganiaya atau menipu atau mengganggu hak asasi orang lain kok.” demikian tangisnya dalam doa.
Dan Tuhan mengirimkannya seorang pengacara handal yg baru memulai karir utk memenangkan perkaranya tersebut di pengadilan. Mayoritas (klub tetangga kayanya) melawan Minoritas, dgn dimenangkan oleh Deny sebagai pihak minoritas. Dengan kemenangannya tersebut, Deny semakin berjaya dlm industri pembungkus, dan inovasi nya juga sekaligus dipatenkan sebagai standarisasi yg wajib diikuti semua pihak yg ingin berkecimpung dlm industri pembungkus.
5 tahun kemudian Deny sudah menguasai industri pembungkus di 5 kota terkenal di Indonesia. Group perusahaannya adalah platinum member yg dihormati dan menjadi panutan di dalam dunia industri pembungkus Indonesia. Setiap kata2nya merupakan fatwa yg tak terbantahkan, walaupun terkadang tak masuk akal.
Sementara itu di kota asal Deny, hanya berbeda gang ada seorang pemuda lain yg bernama Amat baru memulai dibidang yg sama, yaitu industri pembungkus. Ketika pabrik kecil Amat mulai berkembang dan membuka cabang di kota sebelah, maka Deny merasa resah melihat hal tersebut. Persis seperti tetangganya dulu, ia mulai menggunakan kuasanya sebagai mayoritas utk menekan si Amat sampai si Amat dipenjara krn melakukan inovasi yg melenceng dari standarisasi yg ada.
Dimalam sebelum pemutusan perkara yg kelihatannya bakal dimenangkan oleh Group perusahaan Deny dan konco2nya, Tuhan memanggil roh Deny keatas utk meeting sejenak.
“Deny.., tau apa kesalahanmu sehingga Aku panggil mendadak malam ini??” terdengar suara Tuhan yg mencerminkan aura kemarahan.
“Tidak Tuhan, bukankah saya selalu dermawan dan banyak berbuat baik serta menuruti segala perintah yg ditentukan agamaMu.”
“Bukan itu.., berpikirlah dgn otak yg sudah Kuberikan kepadamu, gunakan itu krn itu adalah rancanganKu yg tercanggih diantara ras makhluk hidup.” Suara Tuhan mulai meninggi.
“Ampun Tuhan.., saya benar2 tidak mengerti. Kalo masalah si Amat itu kan saya cuman menegakkan kebenaran agar inovasi-nya yg melenceng itu tidak menyesatkan umat kalangan industri pembungkus.”
“Hohoho…, jadi kamu lupa ya?? Saat kamu baru memulai dari nol sebagai pihak minoritas kan dicap sesat juga kan oleh tetangga kayamu itu?? Setelah Aku bantu hingga kamu menjadi konglomerat industri pembungkus seperti sekarang ini. Kamu yg telah menjadi mayoritas malah mau kembali menekan dan memberangus pihak yg minoritas ya?? Lupa kacang akan kulit-nya he? he? he?“
Keringat dingin sebesar biji durian semangka mulai menetes di dahinya Deny.
“Malaikat…” demikian suara Tuhan memanggil dgn nada tinggi.
“Daulat Tuhanku Sang Pencipta segalanya di semesta ini, terpujilah Engkau, perintahMu adalah kehormatan bagi hamba.” demikian jawab malaikat.
“Panggang orang ini di atas bara neraka sampai kulitnya lepas dan otaknya meleleh, biar dia tahu bagaimana rasanya kacang yg lupa akan kulitnya.”
Deny pun menangis meraung2 sambil diseret malaikat keluar dari ruang meeting.
Anda merasa dejavu dgn cerpen diatas?? Hehehe…




Hehehe… Dejavu benar ini, memang, Bro
Mayoritas dan minoritas. Seperti pengusaha besar dan pengusaha kecil. Perputaran roda. Perputaran sejarah.
Kalo dikaitkan sama kasus yang lagi anget di Indonesia ini, saya juga bukannya tidak mengingatkan sama kawan-kawan: Apa yang kita anut hari ini dulu adalah sebuah minoritas kecil juga. Dizalimi juga. Diusir juga. Dan itu hal yang sama yang dialami kawan-kawan yang di gereja, di kuil, di wihara…
Di sisi lain, justru saya menginginkan untuk melihat minoritas yang tangguh dan ulet. Apakah pedagang beneran atau ‘pedagang dakwah’
Kenapa? Karena itu akan membuktikan seberapa eksis, tangguh dan kreatifnya minoritas melewati rintangan hidup. Saya justru tidak menyukai kalau dimanjakan dengan perlindungan, subsidi dan segala macam. Ia tidak akan tahan lama.
Cuma cara mayoritas menzalimi ini yang saya tidak suka. Tak beda dengan saya lihat perusahaan besar seperti super-mall menggusur pedagang kaki lima di kota-kota…
CY : Saya kadang suka bingung juga bro, siapa yg mencontoh siapa. Apakah pengusaha yg mencontoh strategi umat beragama ataukah sebaliknya?? Kok secara garis besar rasa2nya mirip ya alur ceritanya hehehe…
Sama-sama saling mencontoh kali, Bro
Jujur saja, bahkan sampe sekarang saya masih ada ingin utopia percaya sama lagu “Imagine”-nya John Lennon itu.
Simbiosis mutualisme antara segitiga pengusaha-agamawan-pedagang (kalo sekarang pedagang senjata) ??
Entahlah.
Itu makanya kalo di rumah saya, saya malah nekanin utk menganut agama itu eksklusif ke dalam dan inklusif keluar. Iman diyakini, cuma tidak lupa bahwa hidup dalam masyarakat dunia. Bukan malaikat.
Lebih dari itu, saya sih memandang – apapun agamanya – selama berpartisipasi pada perbaikan kehidupan sosial melalui tangan umatnya masing-masing, what’s the big deal?
Tapi punya ide begini bukannya mudah juga. Di sekitar saya sendiri bukan tidak dijudge ’sosialis-utopis-sialan’ atau ‘kiri-alike’….
Yeah, rite!
Entahlah, Bro. Yang jelas di Aceh sendiri konsepnya ya begitu itu benarnya di kalangan umat rakyat di sini. Berbeda itu biasa. Karena warisan sejarah Syiah yang justru dimusuhi sama banyak blog-blog you-know-what itu agaknya
Meski di sini muslimnya fanatik, tapi sama yang beda keyakinan gak diganggu, AFAIK. Itu sebabnya saya kadang-kadang jadi miris liat di luar sana.
Zaman konflik saja tidak ada gereja atau wihara dibakar di sini.
CY : Betul, sampai saat ini memang saya tak pernah dengar kalo ada kejadian membakar rumah ibadah di Aceh. Yang memusuhi warisan sejarah itu sepertinya ingin memurnikan diri tapi kebablasan dan akhirnya malah menodai image bersama yg sudah susah payah dibangun beratus2 tahun.
@ Alek dan CY Yth,
diskusi bijak. hanya tidak tepat juga sih mengibaratkan pedagang dengan katakanlah agamawan.
sepakat dengan Alek (istilah inklusif-ekslusif), Islam sebenarnya mengajarkan demikian. Tsabit=tetap hati, Murunah=toleransi. itulah yang boleh jadi tak dipahami saudara-saudara kita yang lain (baik itu muslim atau kalangan lain).
tetaphati dalam membela hal prinsip dan bertoleransi dg hal-hal yang disepakati. permasalahannya memahami prinsip ini yang penting, dan banyak dilupakan. sehingga ujung-ujungnya aplikasi yang setengah hati (juga setengah paham) dari ajaran agama/keyakinannya masing-masing.
salamhangat.
CY : Betul bang, tetap hati dan toleransi seharusnya perangkat wajib yg mesti dimiliki setiap makhluk yg mengaku dirinya manusia. Dalam hal ini bukan mengibaratkan pedagang dengan agamawan, tapi kalau dilihat dari modus operandi nya kok sepertinya sama. Tentunya yg kami lihat adalah kenyataan dilapangan (dan dari sejarah) dan bukan asal tulis.
Saya tahu ini kisah nyata … bukan cerpen kan?
@Rindu
hihihi… dek Rindu bisa aja…
Hmm, saya tambahkan prequelnya yah..
Ada seorang pemuda miskin bernama Iwan yg rajin dan mulai dari nol, yaitu sebagai penjual koran. Setelah 3 tahun sebagai penjual koran dia berpindah ke pemulung barang2 bekas. Dia mulai mendaur-ulang pembungkus yang ditemukan. Singkat cerita dia berhasil membangun bisnis kecil2an dalam industri pembungkus. Sewaktu baru memulai bisnisnya, ia ditertawakan dan diejek2 oleh majikannya yg kaya yang sudah memiliki industri dengan banyak cabang. Jatuh-bangun ia mencari dukungan dari berbagai pihak, yang sialnya kebanyakan adalah teman2 bisnis majikannnya. Merasa hampir putus asa ia berdoa mengadukan perkaranya pada Tuhan, tentang trik curang majikannya yg memanfaatkan kekuatan mayoritas utk menekan dirinya yg dlm hal ini tentu pihak yg minoritas.
Tuhan mengabulkan doanya, pelanggan Iwan bertambah banyak sehingga dia mulai membuka cabang di kota sebelah sampai akhirnya dia berhasil menjadi pemimpin industri pembungkus di tiga cabang. Kemudian dia bertemu Denny.
Kenapa Tuhan memperlakukan Denny berbeda dengan dia memperlakukan Iwan dan Amat? Apakah Tuhan lebih sayang Denny dibanding Iwan dan Amat? Atau Tuhan cuma pengen mengajarkan Denny dan kita semua, sebuah pelajaran yang diberi ketebalan yang berbeda pada posting ini?
Dan hanya karena Denny melupakan Tuhan sesaat, dia langsung masuk neraka gara-gara pilih kasih? Tuhan tidak akan seperti itu, paling tidak dalam bayangan saya.
@Koko
Pada cerita di atas kan tak disebutkan kalau Denny melupakan Tuhan, malahan dia rajin ibadah. Dia hanya “lupa kacang akan kulitnya” atau istilah kasarnya “tak tau diri”. Dan itu lebih parah daripada melupakan Tuhan, krn dlm hal ini dia menganggap diri dan tindakannya sudah benar dan di ridhoiNya. hehehe…
Btw, Iwan dlm cerita anda (setelah jadi mayoritas) tidak menekan minoritas, jadi pasti beda krn setiap orang diperlakukan sesuai karma perbuatannya. Sebab Tuhan itu tetap yg Maha Adil.
itulah yang terjadi didunia bisnis broo…kita sering berbagi sedekah atau derma kepada mereka dengan harapan kita bisa mendapat imbalan dari Nya, lebih besar dari yang kita berikan kepada mereka. Tetapi kita secara naluri tidak bisa bersedekah kesempatan dengan orang yang kita anggap sebagai kompetitor atau calon kompetitor.
Dalam hal ini sangatlah penting pemahaman tentang etika bisnis yang elegan serta supremasi hukum dan aturan tata niaga yang adil, yang berpihak diatas semua golongan, bukan cuma memihak pada golongan lemah dan mengabaikan yang kuat atau sebaliknya. melindungi kesempatan bagi mereka yang sedang tumbuh tetapi juga sekaligus melindungi kepentingan mereka yang telah besar.
Pengalam pribadi saya,,saya harus dengan susah payah mematikan nurani ketika berhadapan dengan kompetitor, walaupun secara yuridiksi dan perundangan yang ada sala d benarkan melakukan itu, tetapi ketika kompetitor telah tersudut saya terus saja menekannya sampai tak tersisa, dengan atas nama kompetisin yang sehat (mentang-mentang saya saat tersebut lebih efisien) tetapi say baru sadar ternya semua itu hanya sia-sia belaka, karena berjuta-juta calon kompetitor yang baru telah siap muncul, dan sangat mungkin diantara mereka ada ada banyak yang lebih efisien atau lebih baik dari saya sekarang.
Pertanyaanya adalah sampai kapan ini akan berakhir,,,???
Seperti apa saya harus bersikap ? mungkin suatu saat Tuhan akan membrikan kepada saya satu jawaban yang sangat memuaskan,,mungkin ketika saya telah bisa bersikap “memberi tetapi tidak pernah merasa kehilangan”
Sungguh suatu perjalan pencarian makna hidup yang panjang dan melelahkan.
@Stanilaus Kostka
Kalo prinsip saya sih, Kalau sudah tak sanggup dijadikan lawan, kita jadikan kawan saja hehehe…
wah tulisan ini kok bisa jadi kemana-mana ya ….??
berarti apakah itu bisnis maupun agama …. kalau dasarnya adalah welas asih …. pasti hasilnya jauh dari kesan menekan / mematikan, tetapi justru bisa saling support.
eh kok jadi sok tahu ya …. kabur dulu.
CY : Hehe.. tulisanku yg satu ini memang panahnya dirancang utk nyasar kemana-mana. Yep, memang dasarnya harus welas asih dan bijaksana. Jaman sekarang ini memang harus mengandalkan persahabatan, bukan melulu persaingan. Seperti teman saya bilang, ” Kalau tak sanggup lagi dijadikan lawan, jadikan kawan aja”
Dalam Keluarga Miskin, Kerap Muncul Anak Yang Berbakti
Dalam situasi seorang terpuruk, akan pernah muncul KEBERUNTUNGAN YANG DITAKDIRKAN , buat kesempatan
untuk bangkit..
Cerita yg bagus, cuma akhir yg kurang jelas. Wa ada cerita nyata yg terjadi pd diri sy sendiri. Jauh2 wa merantau seorg diri dr s.panjang(kepri) & memulai bisnis dr 0. Waktu memulai usaha sy ditindas&dikerjain habis2an oleh kompetitor sy yg menurut sy sangat khawatir sy bisa bangun & menyaingi dia. Yg parahnya adalah kompetitor itu adlh famili(sepupu 1*sy). Bentuk nyata kecurangan dua adlh memanggil jasa inteligen & preman utk mengobok-obok bisnis yg ingin sy bangun. & berkat petunjuk Tuhan & Dewi welas asih sy menjadikan itu sebagai cambuk& pendorong semangat dlm menjalani bisnus dan kehidupan saya. Dan hari ini sejalan tdk sampai 5 tahun bisnis sy malah benar2 menbesar & mempekerjakan 80 org krywn jg mendapat penghargaan sbgi wirausaha muda mandiri wlyh klmantan. Terima kasih Utk Berkatmu Tuhan dan Dewi walaupun sampai hari ini sy msh berkompetisi dgn famili sy ini, sy berharap dgn cara yg Fair sy bisa mengalahkan dia. Karna dunia ini nyata apalagi dlm bisnis, bukan dia yg jatuh maka sebaliknya. Minta masukan teman2. Thx