Seandainya ia tidak bertindak arogan dan keterlaluan seminggu yang lalu, mungkin Kiranti masih akan menjalani kehidupannya seperti biasa. Wanita kantoran yg menjadi idola setiap pria, selalu hangout bersama teman2 kantor selesai kerja. Tapi sekarang ia terpuruk disudut, bahkan tak berani mengingat apa yang dia lakukan minggu lalu. Berkubang dalam gelapnya teror rasa takut. Walaupun cahaya dikamarnya sudah seterang mentari di musim kemarau. Walaupun temannya Nadine menemani di pinggir ranjang.
Seminggu lalu saat Kiranti hendak berangkat kerja, tetangga sebelahnya yg menganut kepercayaan berbeda sedang membakar kertas2 sembahyang krn hari itu memang tgl 15 penanggalan Lunar. Ritual seperti itu memang dilaksanakan setiap penanggalan 1 dan 15 di kalender lunar. Merasa terganggu dengan asap, Kiranti langsung marah2 menyindir, “Untuk apa sih selalu membakar uang kertas begini, apa Tuhanmu kekurangan uang kertas di alam sana ya sampe minta dikirimin.”
“Maaf mbak, ini hanya sebagai simbol persembahan tulus kepada Nya, bukan berarti Dia membutuhkan semua ini.”
Kiranti yang memang fanatik dan selalu menganggap kepercayaannya paling benar hanya mencibir sambil mengunci pintu. Saat itu ritual sudah selesai dan hanya tinggal abu bekas bakaran yg salah satunya terbang terbawa angin menempel ke blazer Kiranti. Karena jengkel blazernya kotor, iapun mengambil sapu untuk menyapu sisa abu di halaman tetangganya ke selokan. Dua detik kemudian angin kencang bertiup dan bekas bakaran yang belum sempat disapu terbang terbawa angin mengelilingi dirinya. Kiranti seperti berada ditengah pusaran angin sambil menutup matanya khawatir kemasukan debu.
Saat semua itu selesai, sebuah suara menyapanya dari samping, “kenapa disapu mbak, menurut tradisi Tionghoa kalau menginjak/menyapu abu bekas bakaran persembahan itu bakal sial loh. Karena konon itu uang milik roh2 gentayangan.”
Kiranti menatap pemuda yg menyapanya, dari atas sampai kebawah. Ah, ternyata hanya tukang koran biasa yang tiap hari rutin berkeliling mengantarkan dagangannya.
“He.. kamu sok tau aja, itu hanya tahyul omong-kosong. Itu hanya ritual sesat dari orang bodoh yang ga tau memilih agama.” Sergah Kiranti.
Pemuda itu hanya menghela nafas sambil menggeleng2kan kepalanya. Tanpa memperdulikan pemuda itu lagi ia segera menghidupkan motornya dan berangkat kerja. Kira2 pertengahan jalan ke kantornya yang berjarak 4 kilometer lebih ia melihat kerumunan orang ramai sehingga lalu lintas menjadi macet. Sambil berjalan perlahan Kiranti melongok ke tempat kejadian, ternyata korban tabrak lari. Seorang pemuda terkapar tak bernyawa dgn koran2 yang dibawanya berserak disekitar tempat kejadian, sementara sepedanya tak jelas lagi bentuknya. Sekilas tatapan Kiranti menyapu wajah pemuda yang tergeletak itu, dan seluruh tubuhnya menggigil ketakutan. Itukan pemuda yang menyapanya tadi sebelum berangkat kerja. Tak mungkin sepedanya bisa lebih cepat dari motor Kiranti. Dengan kata lain yang menyapanya tadi adalah….,
Kiranti tak berani lagi melanjutkan prasangka dalam otaknya. Pikirannya seakan membeku ketika terbayang dengan makhluk apa ia berbicara di depan pintu rumahnya tadi. Ia baru tersadar sekarang kalau pemuda pengantar koran itu memang tiba2 saja ada disamping dia tadi, tanpa sepeda usangnya. Tanpa koran-korannya. Hanya saja keganjilan itu baru Kiranti sadari sekarang. Buru-buru ia mengucapkan beberapa doa untuk menenangkan diri..
Jam makan siang akhirnya tiba juga. Kiranti dan Nadine seperti biasa keluar bersama ke tempat makan langganan mereka di sebelah kantor. Rata-rata karyawan di tempat kerja Kiranti makan di tempat itu, selain dekat menunya juga bervariasi tiap hari dan sesuai selera. Oleh sebab itu jam makan siang seperti ini bisa dipastikan penuh. Mereka berdua terpaksa mengambil tempat di sudut setelah memesan bihun kari kesukaan Kiranti. Tengah asik menikmati menu favoritnya itu tanpa sengaja matanya menatap ke lorong rumah makan itu, lorong yang menuju ke ruang belakang rumah. Seorang anak berpita merah sedang berdiri menatap Kiranti sambil tersenyum. Kiranti membalas senyumnya, setelah itu menoleh kesamping kanannya menyeruput teh manis dingin kesukaannya. Baru saja bibirnya menyentuh gelas matanya melirik ke kursi disampingnya dan seketika itu juga wajahnya pucat karena anak berpita merah tadi sudah disisinya dan bahkan wajahnya begitu dekat sehingga terlihat kulit wajahnya yang putih tanpa darah dan bola mata yang menghitam seluruhnya tanpa menyisakan putih layaknya mata manusia normal. Wajah itu begitu muram, terlihat setetes airmata darah hendak menetes keluar dari mata hitam itu. Bau busuk merasuki seluruh syaraf penciuman Kiranti. Bau busuk yang berasal dari bibir setengah terbuka memperlihatkan lidah yang tergantung keluar sedikit. Terlihat bayang-bayang hitam mengalungi leher pucat gadis kecil itu, bayang-bayang hitam bekas cekikan entah dengan apa. Setengah detik kemudian jeritan Kiranti menggema sehingga rumah makan yang ramai menjadi senyap seketika.
“Kenapa kamu Ranti?” tanya Nadine terbengong-bengong melihat temannya yang pucat pasi sambil gemetaran bibirnya dan mata terpejam rapat.
“Auh.. anu, auh…” suara yang keluar dari tenggorokan Kiranti tak beraturan. Saat Kiranti membuka matanya anak itu sudah menghilang, dan tentu saja Nadine tak melihat apa-apa saat temannya itu menunjuk-nunjuk ke kursi disebelahnya. Tergesa-gesa Kiranti mengajak Nadine pergi dari tempat itu. Ia sudah mulai panik, tadi pagi tukang koran dan sekarang gadis kecil berpita merah.
“Nad, tadi kamu lihat kan gadis kecil berpita merah yang duduk di kursi di sebelahku dirumah makan tadi?”
“Ah kamu jangan menakuti ku Ranti, kan hanya kita berdua di meja itu tadi.” Dan Kiranti makin pucat saja, namun dia hanya diam tak berkata-kata lagi.
Dan disinilah Kiranti sekarang, sudah seminggu sejak kejadian tukang koran itu dia hanya tidur beberapa jam setiap hari. Sisanya adalah melihat hal-hal yang tak mungkin dilihat oleh orang biasa, ataupun bermimpi tentang gadis kecil berpita merah itu. Bermimpi tentang kematian tragis yang dialami oleh gadis kecil itu. Mimpi yang begitu jelas seakan-akan ia berada disana menyaksikan. Pekerjaannya dikantor terbengkalai karena lebih banyak melamun. Nadine cemas melihat sahabatnya itu tapi tak tau hendak bagaimana. Ia hanya bisa menemani Kiranti setiap malam di tempat kos nya. Seperti malam ini juga, Nadine lebih dulu tertidur sementara Kiranti masih duduk di tepi tempat tidur dengan pikiran kosong. Ia bahkan tak berani menatap jendela kamarnya yang menghadap ke jalan, takut wajah seputih kertas itu kembali menyeringai. Mata sehitam langit tanpa bintang itu seakan hendak menarik kesadaran Kiranti masuk menemaninya di alam sana. Kiranti hanya menatap kosong punggung Nadine yang naik turun beraturan pertanda sedang menjelajahi sejuta keindahan alam mimpi. Ah, seandainya ia bisa ikut ke dunia mimpi itu seperti biasanya. Memikirkan tentang mimpi dia teringat Wijaya, bekas rekan kerja dari perusahaan lama dulu. Wijaya yang sering berdebat dengan Kiranti tentang mitos2 kuno. Wijaya selalu berkata bahwa mitos2 kuno perlu diikuti agar dalam dunia pergaulan tidak menyinggung teman atau rekan kerja yang lain. Seperti misalnya pelanggan mereka dulu yang orang Korea, di negara mereka ada pantangan menulis nama orang atau sesuatu hal penting dengan tinta merah. Karena itu berkaitan dengan kematian jadi kurang sopan. Biasanya hal itu berarti kita menginginkan kematian yang bersangkutan sehingga orang Korea umumnya akan marah besar bila nama mereka/perusahaan ditulis dengan tinta merah.
Dengan ragu jemari Kiranti menekan juga nomor Wijaya di telepon selularnya.
“Halo Wi, maaf malam2 mengganggu”
“Wohohoho… ada apa putri es, kok tumben malam2 begini telepon? Ga takut nyasar nanti ke alam lain?” Wijaya memang suka menggoda Kiranti yang disebutnya putri es karena tatapannya yang memang dingin membeku.
Hari ini akhirnya Kiranti bisa juga bernafas lega, waktu setengah hari terasa seperti selamanya. Dia masuk setengah hari setelah minta ijin pada atasannya dengan alasan kurang enak badan. Nadine yang tampak cemas hendak ikut menemani tapi ditolak. “Ga pa pa Nad, ada Wijaya kok. Lagian ga enak sama Pak Wiryo.” Kata Kiranti sambil bersiap2 membereskan dokumen di mejanya.
“Wi, kenapa ya seminggu ini aku selalu mengalami kejadian aneh?” Kiranti memulai saat mereka sudah duduk menikmati jus jagung kesukaan Wijaya di kios minuman di lantai atas Mall terbesar di kota mereka.
“Lha ini aja udah aneh, biasanya kan kamu lebih suka di kios es krim plaza seberang daripada disini melihat aku nyeruput jus jagung di siang bolong begini.” Wijaya nyengir sambil nyerocos.
“Aduhh…, serius nih Wi aku betul-betul takut. Melihat wajah2 seputih kertas dari makhluk yang tak bisa dilihat orang lain. Aku takut kalau memejamkan mata Wi.”
“Hmm… wajah-wajah? Kok bisa ya? Coba ingat-ingat ada kejadian ekstrim apa sebelum kamu bisa melihat semua itu.” Kata Wijaya santai tanpa mengalihkan tatapannya dari minuman kegemarannya itu.
“Rasa-rasanya tak ada kok Wi, emang ada pemicunya ?”
“Pasti ada, coba ingat2 pertama kamu melihat mereka dan sebelumnya kamu buat apa, ngelangkahin apa atau nginjek apa gitu.” Wijaya masih berbicara sambil memperhatikan jusnya yang tinggal setengah.
“Ga nginjek apa-apa kok. Hmm… kalo nyapu abu bekas bakaran kertas sembahyang termasuk ga?”
“Ha??” Wijaya melongo. “Kenapa disapu Ran, emang kamu kurang kerjaan apa gimana kok minat amat nyapu yang kek gituan.”
“Habis kotor Wi, ga tahan ngeliatnya ya saya sapu aja ke selokan. Lagian bakar-bakar uang kertas gitu kan cuman mitos, ga mungkinlah cuman abu gitu bisa celakakan kita.”
“Ranti, memang abu itu ga bisa celakakan kita. Tapi ada kepercayaan kuno bahwa menyapu atau menginjak abu bekas bakaran uang kertas akan membawa separuh dari diri kita memasuki alam roh. Sehingga yang di alam sana bisa kita lihat dan bisa berkomunikasi dengan kita.”
“Aduuh.. gimana nih Wi, udah terlanjur gitu. Apa ada cara untuk menutup semua itu?”
“Makanya dari dulu tuh aku pernah bilang, hargailah kepercayaan orang lain. Jangan selalu menganggap kepercayaan kita yang paling benar. Masih banyak misteri di dunia yang tidak kita ketahui. Kalau udah begini yang susah kan kamu sendiri.”
“Iya deh, aku kapok Wi. Tapi tolongin ya cariin caranya. Sudah seminggu aku tak bisa tidur lama, takut mimpi bertemu gadis kecil berpita merah itu.”
“Apa gadis kecil itu yang paling sering kamu lihat?” tanya Wijaya sambil berpikir.
“Iya, kenapa?” jawab Kiranti heran.
“Mungkin ada cara supaya kamu bisa menghentikan kemampuan melihatmu itu.” Senyum Wijaya mengembang. “Cuman, perlu banyak keberanian darimu. Berusaha untuk berkomunikasi dengan roh gadis kecil itu. Saya yakin dia hendak meminta bantuanmu karena dia terus mengikutimu. Dengan menolong satu roh kembali ke alam sana bereinkarnasi maka gerbang antara di dirimu itu akan tertutup sendiri”
“Waaaa…, melihatnya saja aku udah panas dingin konon pula ngobrol sama dia. Apa ga ada cara lain ya?”
“Ada, cara kedua yaitu dengan membiasakan diri terhadap kemampuan barumu ini sepanjang hayatmu. Kalau sudah terbiasa, aku minta bantu ya tolong tanyain setiap piala Eropa siapa yang bakal masuk final dan menang.” Kata Wijaya sambil tersenyum miris.
“Huh kamu ini, emang aku dukun ya?” jawab Kiranti kesal karena diejek. “Akan ku coba, tapi temani aku ya, kita sama-sama mencari tau apa maunya gadis kecil itu.”
“Pertama-tama kita cari tau dulu karena apa dia meninggal. Kita cari tau dimana dia tinggal semasa hidupnya.” Lanjut Wijaya.
Sewaktu Nadine membawanya keluar dari rumah makan itu, sekilas Kiranti melihat foto keluarga pemilik rumah makan itu. Gadis kecil yang telihat olehnya itu ada di foto keluarga tersebut, dengan pita merah yang sama di rambutnya. Karena itu ia dan Wijaya memutuskan pergi menanyakan ke pemilik rumah makan tersebut.
Istri pemilik rumah makan itu mulai menangis kala suaminya menceritakan bahwa putri sulung mereka itu hilang dua hari setelah foto keluarga itu dibuat. Kejadian itu sudah 10 tahun yang lalu, namun masih selalu menyisakan tangis ketika dikenang. Saat semua terdiam merenungkan nasib gadis kecil yang bahkan belum ditemukan jasadnya itu, Wijaya dan suami istri itu dikejutkan oleh teriakan Kiranti yang histeris.
“Dia.. dia disana Wi,” suara Kiranti bergetar ketakutan sambil menunjuk ke lorong menuju ruang belakang. Wijaya merinding juga walaupun ia tidak melihat apapun. Kiranti menunduk tak berani melihat.
“Ranti, coba kuatkan dirimu. Lihatlah dia berjalan kemana, mungkin dia hendak menunjukkan dimana jasadnya berada. Ayo beranikan dirimu, bantulah mereka.” Kata Wijaya pelan tapi jelas.
Akhirnya Kiranti mengangkat wajahnya dan menatap kearah lorong. Gadis itu masih disana tersenyum dengan bola mata yang hitam semua. Seakan dimata itu jalan masuk menuju kegelapan abadi dimana roh-roh penasaran tinggal. Wijaya merasa kasihan melihat Kiranti yang mencoba menatap sambil menangis ketakutan.
“Dia melambaikan tangannya Wi. Gimana nih…” jemari Kiranti yang dingin menggenggam erat lengan Wijaya.
“Coba tanya padanya dengan batinmu, kemana dia hendak mengajakmu. Minta dia tunjukkan dimana jasadnya disembunyikan.”saran Wijaya.
Wijaya membimbing Kiranti berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh roh gadis kecil itu. Gadis itu tiba-tiba menghilang dibalik gorden yang membatasi ujung lorong dengan ruang belakang dimana terdapat dapur dan kamar mandi. Saat gorden disibakkan Kiranti sudah tak melihat apa-apa lagi, gadis kecil berpita merah itu sudah menghilang. Sambil menghela nafas lega Kiranti bersandar pada dinding diujung lorong, siapa sangka begitu telapak tangannya menyentuh dinding lorong dirinya seperti melihat video klip yang diputar kembali dalam pandangannya. Dalam penampakan ulang itu dia melihat si gadis kecil dihempaskan kedinding oleh seorang lelaki.
“Ampuuunn bang. Papa… Mama… ” suara teriakan gadis kecil itu seperti ada dihadapan Kiranti.
“Diaaammmm…” bentak lelaki yang menganiaya gadis itu. Untuk meredam suara teriakan anak itu si lelaki menyeretnya lalu membekap mulutnya dengan gorden. Gadis kecil itu meronta-ronta sekuat tenaga, tapi makin lama makin lemah karena kehabisan nafas dibekap mulut dan hidungnya dengan kain gorden. Akhirnya tubuh gadis kecil terdiam lunglai. Si lelaki kaget sambil mengguncang2 tubuh anak itu. Tapi tubuh kecil itu sudah kehilangan nyawanya. Si lelaki panik. Ia kembali ke meja dimana si gadis kecil memergoki lelaki itu sedang menguras isi laci papanya. Uang kontan beberapa juta dan kalung emas milik mamanya yang disimpan sementara di sana.
Kiranti tersadar kembali dari penampakan ulang itu, rupanya tadi ia sudah terduduk di lantai dengan tatapan seperti kesurupan sementara Wijaya sibuk menyadarkannya.
“Duuuhhh Kiranti, kamu bikin orang cemas saja. Sadar dong sadar… mengucaplah Kiranti.. ucapkan doa yang biasa kamu ucapkan.”
“Ia dibunuh diruangan ini Wi. Dicekik dengan kain gorden oleh seorang lelaki, kelihatannya seorang pekerja bangunan atau tukang karena bajunya kotor oleh pasir dan semen.”
Kedua suami istri pemilik rumah makan itu saling menatap, setelah itu suaminya berkata,”Ya, saat anak kami menghilang memang sedang ada renovasi di ruang belakang ini, dapur dan kamar mandi.”
“Sudah lah Ranti, sampai disini dulu. Besok kita baru kembali lagi. Kamu harus menenangkan diri dulu.” Kata Wijaya yang sudah mulai cemas. Khawatir karena dirinya tak punya pengetahuan apa-apa tentang hal-hal gaib bila Kiranti kesurupan atau pingsan.
“Iya Wi, aku takut sekali. Aku tak tahan lagi. Semuanya terlihat begitu nyata seakan-akan aku ada disana waktu itu” kata Kiranti pelan sambil berdiri. Kekuatannya sudah pulih kembali, ia sudah bisa berdiri dan berjalan sekarang.
“Kamu cuci muka dulu sana biar segar, aku tungguin di depan kamar mandi, pintunya jangan dikunci.” Kata Wijaya sambil membimbing Kiranti ke kamar mandi.
Sesaat terlintas sebuah kekhawatiran di benak Wijaya, seharusnya ia langsung pulang bukannya meminta Kiranti cuci muka dahulu. Tapi sudah terlambat ketika ia hendak bersuara memanggil Kiranti keluar. Begitu telapak tangan Kiranti menyentuh bak air kamar mandi yang berlapis keramik mahal itu, wajahnya langsung pucat dan bibirnya gemetaran. Tak sampai setengah detik tubuhnya sudah terjatuh lunglai. Kiranti pingsan. Untung Wijaya masih sempat menahan tubuh Kiranti sehingga kepalanya tak sampai membentur dinding kamar mandi. Ia mengguncang-guncang tubuh gadis itu untuk menyadarkannya tapi tak kunjung berhasil. Suami istri pemilik rumah makan itu pun terlihat panik. Dalam kebingungan Wijaya berlari ke ruang depan. Dalam tradisi keluarga Tionghoa altar tempat sembahyang kepada Sang Raja Langit selalu terletak di ruang depan sekitar pintu masuk utama. Wijaya berlari kesana, setelah mengangkat tangan menyembah beberapa kali jemarinya dicelupkan ke dalam cangkir teh persembahan yang ada di altar. Ia berlari cepat kembali ke belakang dengan jari yang basah oleh teh dan dioleskan ke bibir Kiranti. Beberapa detik kemudian gadis itu mulai sadar dari pingsannya. Takut ada apa-apa lagi Wijaya segera pamit pulang kepada tuan rumah sambil membimbing Kiranti yang masih lemas.
Kejadian semalam dirumah makan ternyata membuat Kiranti lebih banyak berdiam diri sambil menatap kosong dinding kamarnya. Nadine hari ini tak masuk kerja karena khawatir melihat kondisi Kiranti. Gadis itu mendekap kedua pahanya sambil jongkok disudut kamar.
“Tolong minta Wijaya ke sini Nad, ada yang mau ku ceritakan.” Kata Kiranti pelan dan masih mendekap kedua pahanya.
“Ada apa Ranti, kata Nadine kamu diam terus dari semalam ya?” tanya Wijaya saat dia tiba di kamar Kiranti.
“Jasadnya ada di sana Wi, lelaki itu menguburnya di sana, ada disana…” Kiranti mulai menangis terisak.
“Sudahlah Ranti, nanti saja kalau kamu sudah tenang. Nanti baru diceritakan, yang penting kamu harus sehat dulu.” Wijaya memotong karena takut Kiranti pingsan lagi.
“Tidak Wi, makin lama ku simpan makin berat rasanya. Lebih lega kalau sudah diceritakan. Gadis kecil berpita merah itu dikuburkan oleh tukang bangunan itu di bawah bak air kamar mandi di ruang belakang itu. Rasanya seperti aku ada disana waktu itu dan melihat sendiri.” Kiranti melanjutkan.
Dua hari kemudian …
Rumah makan itu ditutup 3 hari dimulai dari hari ini. Pagi harinya bak air di kamar mandi ruang belakang itu mulai dibongkar dengan hati-hati. Siang harinya proses pembongkaran selesai, dan memang benar jasad gadis kecil berpita merah itu terkubur disana. Pihak kepolisian juga ikut menyaksikan bersama, dengan menahan lelaki pekerja bangunan yang dijadikan status tersangka. Kiranti begitu ketakutan saat melihat wajah lelaki itu, persis sama dengan yang ada dalam kilas balik peristiwa di pikirannya. Jasad gadis kecil yang sudah tinggal tulang-belulang itu dikumpulkan kemudian dikuburkan dengan layak oleh kedua orangtuanya.
Malamnya Kiranti masih bermimpi bertemu gadis kecil itu, hanya kali ini wajahnya begitu ceria dengan senyum khas anak-anak kecil seusianya. Mata indahnya tak lagi hitam legam seperti sebelumnya, tapi terpancar kebahagiaan dan rasa terimakasih. Mata itu berbinar-binar dengan airmata yang menggenang. Kiranti memeluknya, sesaat kemudian gadis kecil itu berubah menjadi cahaya putih dan meninggalkan Kiranti sambil melambaikan tangannya. Itulah malam terakhir Kiranti berada di dua alam.
Cerpen ini saya selesaikan pas jam 12 Tengah malam sambil merinding penuh.




Gadis kecil itu saya yah? … mengkhayal
CY : Ketauan tuh belum baca sampe habis hehehe…
Tulisannya semakin bagus CY … sungguh, berarti dosen saya tidak bohong.
CY : Terimakasih atas apresiasinya, mudah2an kedepan bisa cocok dengan selera pembaca
wah, aku baca serius dulu ya. terlalu panjang…
CY, cerita seperti begini, nih, kan sering terjadi khususnya dalam kalangan kita. Jujur saja, kadang aku bingung, apa iya alam sana mengenal uang mas dan perak itu? Tapi, itulah tradisi kita. Percaya atau tidak, aku setiap ce it dan cap go, selalu berusaha membakarnya di Vihara. Terus arwah orang yang mati penasaran dan terkubur tanpa upacara biasaya memang galak-galak. Untung aku tak pernah bertemu mereka. Kalau diberi kesempatan sama loya yang bisa mengundang roh datang ke dunia, aku pun ogah melihatnya. Mudah2an aku tidak terbawa dalam mimpi ceritamu ini. Seram…
Ah, ya, ada yang mau kutanyakan, baru2 ini aku mendengar seorang teman berbicara bahwa Kwan Im tidak membutuhkan uang kertas itu(Yang emas).
Satu lagi, aku sudah mendapatkan kitab tentang neraka itu. Jadi, tak perlu merepotkan CY menulisnya untukku. Belum selesai kubaca sih. Kebetulan kemarin itu aku sembayang di Vihara yang berada di Cilincing dan mereka itu sedang membereskan buku-buku dan kitab suci. Anehnya, kitab tentang nereka itu katanya sih sisa satu2nya dan pas di depanku. Kondisinya sedikit memprihatinkan, lecek dan kertasnya sudah kekuning-kuningan.
CY : Mungkin sebaiknya di buat copy-nya untuk disebarkan Han. Agar orang yang belum mengetahui bisa tercerahkan. Sayang banget kan kalo akhirnya hanya jadi koleksi langka di kelenteng.
@Hanna
Berdasarkan pencerahan yang saya dapat sih memang uang kertas itu tak dibutuhkan di sana, namun tujuannya meminta kita membakar uang kertas itu untuk sarana menunjukkan ketulusan dan kerajinan kita. Itu hanya sebagai simbol.
Arwah yang mati penasaran karena diantara mereka ada yang belum bisa menerima kenyataan pahit itu sehingga masih tinggal di bumi. Penjelasan ttg itu ada kok di buku-nya Michael Newton yg kemarin itu Han. Disaat mereka sudah menerima dan paham, akan naik dengan sendirinya melalui terowongan roh.
Dewi Kwan Im memang tidak pernah membutuhkan apa2 dari kita manusia, karena Beliau sudah berstatus Buddha dan sudah terlepas dari pengaruh duniawi. Persembahan yg kita berikan setiap tgl 1 dan 15 itu hanya perwujudan / simbol ketulusan hati kita dalam mengikuti ajaran2nya. Jadi walaupun uang kertas / persembahan buah dan kue yg diberikan memenuhi seluruh meja tapi kalau tak mengikuti ajaran2Nya, Sang Dewi juga ga akan berkenan. Demikian juga sebaliknya, walaupun tak mempersembahkan apa2 (dlm hal ini utk yg miskin misalnya) tapi setulus hati meminta dan mengikuti ajaranNya, Dewi Kwan Im pasti akan berkenan sekali.
Baru sekali ini saya membaca cerpenmu yang sepanjang ini, Bro. Kayanya kaya juga ini wawasan tentang kultur tionghoa.
Kalo ada e-booknya, mbok ya dikirimi kenapa?
Tapi yang boso indon kalo bisa…
*lagi males baca english*
Betewe, ndak dikorankan ini cerpen?
CY : Ebook ttg Kultur Tionghoa maksudnya Lex? kalo ttg itu memang ngga ada sih, hanya dari dengar2 cerita nenek.
Mengenai dikorankan, ngga pede Lex, apa menurutmu sudah cukup layak nih? Pengen nyoba juga sih, sekedar jajal kemampuan.
disini udah ada sponsor sebaiknya tidak membakar uang kertas(kim cua) karena mengganggu polusi,karena kadang membakar uang kertas dalam jumlah besar (banyak)penduduk tidak ada yang menghiraukannya bahkan ada yang menetang!Kamu tahukan jika dsini ada orang bakar rumput or sampah ada asap,pasti kena denda (ang tu ah)
cerita ini bagus,wah kamu benar2 punya banyak pengetahuan tentang kebudayaan Tiong hoa,apapun kepercayaan orang kita tidak boleh menghina dan menertawakan!Walaupun kadang kita anggap aneh.
Satu crita nyata,dulu ada aorang meninggal,anak cucu orang yang meninggal mesti menyematkan kain putih dibahunya,menandakan orang berkabung.Ada orang yang tidak percaya malah menertawakan kemudian kurang lebih satu minggu satu keluarga meninggal ngak tahu kebetulan or ada hubungannya?
cy dapatketerangan baru,bahwa knapa pemerintah sini pasang sponsor bahwa sebaikanya jangan bakar Kim cua(uang kertas):
1.polusi karena asap
2.mengganggu kesehatan
disetiap lembaran uang kertas ada dicap (theng) ada yang berwarna perak ada yang berwarna merah.Jika dibakar or suhu tertentu kilatan itu terbang jika masuk kebadan manusia akan membahayakan salah satu saraf(centrical bhs inggris) jika dalm bhs indo sy ngak tahu pasti apa itu.Jika terlalu banyak dalam tubuh kita dalam waktu lama paling parah adalah tubuh tidak bisa bergerak(TAN HUAN dlm bhs mandarin PARALYSIS dalam bahasa inggris).Kilatan2 or zat ini dalam tubuh kita akan tetap disana karena tidak bisa tecerna.
Ya untuk sekedar tahu……
CY : Menurut saya itu tergantung bagaimana kita mengatur tempat pembakaran, kalau kami bakar di tong besi / kaleng jadi ga terbang kemana2, lagian ritual bakar uang kertas itu kan sebulan cuman 2 kali, yang lebih berbahaya itu asap knalpot kendaraan yg kita isap tiap hari dan penyedap rasa yg kita makan tiap hari. Kalau di Medan yg dibakar hanya 12 lembar mewakili jumlah bulan dalam 1 tahun, jadi kalau itu dijadikan alasan kesehatan saya rasa terlalu berlebihan / norak deh…
wah..ketinggalan nih, baru tau saya klo cerpen misteri-nya udah dirilis…
nya~hahahah…komen singkat dulu, soalnya laptopnya udah disantronin sama pemiliknya nih
hm…*elus jenggot*
saat membaca ini saya serasa melihat film Sisters buatan thailand dan The Ring ituh. Bahkan, klo konsep roh kembali ke bumi untuk menyelesaikan masalah yang blm selesai, itu mah kayak The Crow…
But, surely, kurang bikin merinding mas
mungkin karena diawal terlalu cepat, trus tiba -tiba ketauan klo si anak kecil itu adalah anak pemilik cafe….
heheh, sudah dulu ya udah dimarahin ama pemilik laptop…
*kabooor*
CY : Terimakasih utk penilaiannya, akan saya coba cari ide yg lebih seram
Uhff, seru. aku tak tahu harus komen apa, tapi ada beberapa hal yang melintas di otakku saat membaca cerpen panjang ini.
* Abu pembakaran uang kertas menyentuh blazer Kiranti. Sebuah peristiwa ringan, tapi sangat pas menggambarkan watak Kiranti yang kurang bisa menghargai hal-hal lain di luar kesepahaman pikirannya. Ini sekaligus memberi nasehat, jangan pernah menyepelekan hal-hal kecil. Ups, benar ga ya. Hehe.
* Lalu ada pembelajaran menarik: tukang koran ngerti budaya Tionghoa, meskipun tukang koran itu dimunculkan sebagai ’sesuatu yang asing’. kritik bagi kaum intelek kita. tukang koran saja paham budaya, kok bapak-bapak dan ibu-ibu yang katanya intelek itu ga paham ya? kalo mereka paham, tentulah tak akan terjadi ricuh FPI dan Ahmadiyah. dll
* Apa pemicu trans? Apa pernah liat sesuatu apa atau nginjak apa? Dalam kultur Batak, saat seseorang tiba-tiba sakit, atau kesambet, pertanyaan ini juga menjadi bagian pengobatan: nginjak apa tadi? Apa ada omong jorok? Pergi ke mana tadi, jangan-jangan tingkahmu ga sopan, sehingga penghuni tanah itu marah. dll. Di sini aku menemukan persentuhan budaya yang karib.
* Saya yakin dia hendak meminta bantuanmu, kata Wijaya pada Kiranti, terkait gadis kecil berpita merah itu. aku tak hendak mengomentari ini, tapi ketika membaca bagian ini, aku tiba-tiba berpikir: siapakah aku di masa lalu, jangan-jangan ada masih banyak utang masalaku yang harus kubayar saat ini. tapi, siapa ya yang bisa mengetahui masa laluku?
* cerita horor, tapi diselipkan humor. tolong tanyain yang bakal masuk final dan menang dalam Piala Eropa? hehe. Kroasia ya?
Itu aja deh, nanti terlalu panjang, malah ga dibaca.
@Panda
Hahaha…. anda memang betul2 seperti jiplakan diri saya yang kedua, sangat bisa memahami maksud cerpen saya. Pada dasarnya kultur Batak dan Tionghoa sangat banyak kemiripannya. Kupasan anda benar2 jitu, Salut !!
Iya. Kalo ada sih
Halah… ternyata tidak ada. Eh, tapi apa ndak bisa ditulis saja, Bro?
*maksa*
Kenapa tidak?
Ndak semua cerpern yang masuk koran itu selalu layak di mata yang lain kok. Tapi setidaknya, pastinya ada juga yang suka kan?
Jajal saja. Ngapain dianggurin bakat nulis?
Yang penting jangan lupa….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
kalo dimuat traktir
CY : ohohoho… kalo dimuat pasti saya traktir, ngga dimuat juga traktir kok. Ntar kopdar di Medan kita hihihi…
Nanti saya coba tulis ttg kultur Tionghoa, mesti kumpulin data dulu.