Mentari sedang sibuk mencubiti kulit manusia-manusia yang sibuk lalu lalang di bawahnya. Awan yang biasa bertebaran menyambut asap-asap polusi kendaraan hari ini entah kemana. Langit bersih membiru, membuat perasaan sejuk kala mata memandangnya walaupun kulit tidak merasakan hal itu karena sentuhan galak sang mentari. Tapi perasaan memang mewakili segalanya, apalah artinya rasa panas dikulit bila yang ada hanya sejuk di hati memandang langit biru. Seperti halnya Jefry yang sedang menikmati makan siangnya di sebuah rumah makan. Apalah arti masakan enak di depan matanya kalau perasaannya sepahit empedu. Dia duduk memandang keluar, menatap seorang anak yang mengemis di persimpangan. Sejenak kemudian memandang dua orang anak yang sedang bermain riang di samping kedai kopi langganannya ini.
“Seandainya Michelle masih bersamanya saat ini, pasti sudah sebesar mereka.” Jerit hatinya. Mungkin dia masih ada di antara mereka, sedang bermain di suatu tempat atau mengemis di sebuah persimpangan? Berpikir sampai di sini rasa kesal dan amarah menyeruak dalam hatinya. Kesal karena dirinya yang tak becus menjaga anak sendiri sampai bisa hilang di keramaian sebuah mal terkenal di kotanya delapan tahun lalu. Menghilang tanpa jejak hingga sekarang.
“Bang, tolong hitung bon-nya..” Jefry melambaikan tangan pada pelayan rumah makan.
“Makanan yang masih banyak ini nanti tolong berikan utk anak-anak terlantar ya, jgn dibuang” pesan Jefry pada pelayan kedai setelah menerima kembalian uangnya. Setiap makan dimana saja Jefry selalu memesan lebih dan sisa yang sengaja tak disentuhnya selalu ia wanti-wanti utk diberikan pada anak2 terlantar. Dan selesai makan ia selalu memesan satu bungkus utk dibawa pulang. Dan dalam perjalanan pulang akan ia berikan pada anak2 yang mengemis di persimpangan. Ia berharap segala perbuatan baiknya itu akan memudahkan Michelle dimanapun ia berada. Ia selalu punya pemikiran kalau anaknya yang hilang itu suatu hari lapar dan minta makanan di restoran yang pernah ia singgahi maka akan mendapat makan. Ia sering mendengar isu anak-anak yang hilang diculik sering dijadikan pengemis secara paksa, dan ia prihatin hal itu juga menimpa Michelle. Seperti itulah yang tiap hari dilakukan Jefry selama delapan tahun ini, tak ada tempat makan dikotanya yang tak pernah dia singgahi dengan pesan anehnya itu. Tak terkecuali hari ini, hari dimana rasa tak berdaya dan kecewa yang paling kuat yang pernah dia rasakan. Rasa putus asa yang luarbiasa karena belum menemukan atau bahkan sekedar tau kabar anaknya yang hilang.
Jefry berjalan kaki melalui jalan kecil, jalan pintas menuju kantornya. Mobilnya sengaja ditinggal di parkiran tempat dia makan tadi. Hari ini ia ingin berjalan kaki, menumpahkan kesal dengan menendang kerikil kecil yang ditemuinya sepanjang jalan. Sekilas matanya menatap kedalam rumah kosong yang baru setengah dibangun dan tak dilanjutkan. Terlihat seorang pemuda tanggung sedang memarahi sambil sesekali menendang seorang anak lelaki berpakaian lusuh. Sedangkan si pemuda berpakaian bagus, jadi jelas bukan saudara. Melihat itu emosinya yang sudah terlanjur naik sekarang langsung memuncak sampai ke ujung rambut.
“Hei, brengsek.. berani cuman sama anak kecil. Pergi kau sana.” Sergah Jefry sambil melotot seakan seluruh amarahnya hendak ditumpahkan pada pemuda tanggung itu.
Melihat Jefry yang berpakaian kantoran, pemuda tanggung itu bukannya takut malah mengeluarkan pisau lipatnya. Jefry terperangah, berpura-pura mundur selangkah. “Hmm.. jadi itulah senjata saktinya untuk menakut2i anak-anak pengemis.” Pikirnya. Melihat lawannya seperti takut, pemuda tanggung itu makin menjadi-jadi.
“Baguslah bapak datang, kami lagi butuh uang jadi serahkan isi dompet …”
Belum selesai ucapan itu pisau ditangannya sudah berpindah tangan dan sekarang menempel di leher pemiliknya sendiri.
“Masih pengen dompet saya?” kata Jeffry sambil menekan pisau yang baru direbutnya ke leher pemuda tanggung itu. “Menyingkir dari sini.”
Pemuda itu lari terbirit-birit. Jefry mendekati anak lelaki kecil berpakaian lusuh itu. Tercium aroma tak sedap khas anak jalanan. “Jangan takut lagi nak, dia sudah Om usir. Sekarang kamu sudah bisa lega”
“Terimakasih Om, tapi saya takut dia kembali ke tempat kami dan menyakiti adik perempuan saya. Saya dipukuli karena diam-diam memberi makan adik saya dengan makanan sisa dari rumah makan seberang. Adik saya sakit dan tidak kuat berjalan untuk meminta-minta sehingga dihukum bang Godek tidak boleh makan.” Anak itu bercerita diselingi isak tangis ketakutan dan wajah cemas.
“Namamu siapa?” tanya Jeffry.
“Beny Om.” Tangisnya sudah mulai reda.
“Ayo, bawa Om ke tempat Beny dan adik tinggal. Nanti Om yang akan urus bila si Godek itu datang lagi.” Jeffry menawarkan dengan lembut.
Mereka berjalan bersama menuju sebuah gang kecil yang ada di kejauhan sesuai yang ditunjuk oleh Beny. Baru berjalan beberapa langkah Beny tersentak kaget, “Maaf Om, saya jadi lupa harus meminta nasi sisa di rumah makan untuk adik. Saya ke rumah makan dulu ya, Om tunggu aja disini.” Kata Beny sambil berlari kembali ke arah tadi mereka datang. Jeffry hanya melihat dari kejauhan saat anak itu diberi bungkusan makanan dari restoran tempat singgahnya barusan. Ia merasa senang ternyata ada gunanya juga makanan yang sengaja disisakannya di tiap restoran. Terlihat Beny berlari-lari kearah dia dengan wajah berseri-seri. Sampai di hadapannya Beny berhenti sejenak, diambilnya kertas kosong pembungkus nasi yang sengaja dimintanya lebih. Bungkusan besar nasi dan lauknya itu dibagi sedikit ke pembungkus kosong tadi. Bungkusan makanan yang lebih sedikit itu ditutup kembali oleh Beny sedemikian rupa sehingga terlihat besar bentuknya.
“Bungkus yang sedikit itu untuk adikmu ya?” tebak Jeffry.
“Bukan Om, ini bagian saya. Untuk adik yang lebih banyak. Cuman kalau bagian saya tak ada dia pasti tak mau makan.” Jawab Beny polos.
Hampir saja airmata Jeffry menetes karena terharu oleh pengorbanan seorang abang seperti Beny. “Kalau gitu kita cepat ke sana, nanti Om segera bawa adikmu ke dokter untuk mengobati sakitnya.”
Anak-anak jalanan itu tinggal di sebuah rumah kosong yang sudah lapuk, hanya cukup untuk berteduh dari teriknya mentari dan siraman hujan. Tanpa tempat tidur, hanya bentangan karton bekas di lantai tanah. Disudut terlihat seorang anak perempuan kurus tertidur lemah dengan wajah pucat. Beny segera membuka bekal yang dibawanya dan hendak menyuapi adiknya. Saat hendak membangunkan ternyata adiknya mengalami kejang2. Jefry segera menempelkan punggung tangan ke kening anak perempuan itu, panasnya tinggi sekali. Jefry memijit2 area sedikit dibawah mata kaki dan sesekali menekan area dibawah hidung persis diatas bibir, mencoba semaksimal mungkin untuk menyadarkan anak itu. Ketika kejang2nya berkurang ia langsung membopong anak itu berlari keluar menuju mobilnya yang diparkiran restoran.
Karyawan Rumah Sakit terlihat agak ragu saat melihat seorang anak berpakaian lusuh dibopong oleh seorang berpakaian kantoran yang rapi.
“Bapak ini familinya, atau siapa ya?” tanya seorang perawat.
“Prosedur tanya jawab itu nanti saja, ini darurat perlu ditolong segera. Biaya nanti saya yang bayar.” Protes Jefry melihat keraguan si perawat. Mendapat protes seperti itu si perawat terdiam dan membawa mereka menuju ruang UGD. Saat itu kondisi anak itu sudah lemah, semua perawat sibuk memberikan pertolongan pertama sesuai arahan dokter yang bertugas saat itu. Beberapa saat kemudian mereka kehilangan detak jantung, tak ada tanda-tanda pernafasan. Saat itu Jefry sudah panik, dalam bayangannya itu adalah anak perempuannya Michelle. Dokter menyiapkan alat pompa utk nafas buatan dan menangkupkannya ke wajah anak itu. Dan Jefry mencium kening anak itu sambil berbisik ,” Nak, bangunlah… lihat papa disini. Papa rindu melihatmu menari dan menyanyi. Jangan tinggalkan kami. Tuhan apapun akan saya lakukan tapi jangan bawa dia pergi.” Bisikan itu ternyata punya pengaruh luarbiasa walaupun sebenarnya dalam angan-angan Jefry itu ditujukan utk Michelle. Anak itu terbatuk-batuk di sela2 pompa nafas buatan dan menangis.
Infus dipasang setelah pertolongan darurat itu berhasil. Saat hendak mengganti baju lusuhnya dengan baju rumah sakit itulah Jefry tersentak kaget. Matanya tak lepas dari tanda hitam bawaan lahir di bawah dada kiri anak perempuan itu. Tanda yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Tanda lahir anak kandungnya Michelle. Delapan tahun pencarian itu berakhir hari ini.
= CY =




he.he..he..
kalau berjodoh tak akan kemana.suatu saat tetap dipertemukan,cuma kita ngak tahu bahgaimana caranya,hanya yang diatas yang tahu….
Kehilangan memang menyakitkan,penatian memang memelukan pengorbanan hati,kadang kita tidak tahu ada atau tidaknya sebuah pertemuan itu.Biarlah waktu yang bicara,menceritakan semua yang ada menjadikannya sebuah legenda.
Sukses ya!!!!!
so sweet…..
tapi kebetulan yang seperti itu jarang sekali terjadi…
CY : Delapan tahun bersabar sambil beramal rasa2nya yang jarang pun mungkin terjadi kok Ra.
Gile … gile … gile …
Baru kali ini saya nganga kalo baca cerpen …
Bravo ….
CY : Makasih utk apresiasinya bro
**ngeliat CY lg sms-an dijalan**
ehem…
halooo… CY — halo cakeeeepp..
**jalan jalan, naek motor*
~~SambilMelambaikanTanganEkspresiGanjen~~
^Fuhrer^
http://galeter.wordpress.com
CY : Apa-an ini wakakaka…
Berarti itu CY palesu, kalo yg asli ga mungkin sms-an dijalan.
[...] Original post: Pelangi di batas Penantian [...]
I love CY …. *terharu*
CY : Halah… wakakaka…
numpang lewat … ngiup diblog ini, panas diluar
hmmm… mestinya dikirim ke koran atau majalah nih. mantap!
CY : Makasih utk pujiannya
Huhuhuhuuu…..
*terharu, menangis lagi*
Cerpen terbaru ya?? hihihi
CY : Iya bro
Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
Salam kenal dari saya saudara CY…
Semoga anda senantiasa berbahagia dan terbebas dari segala bentuk penderitaan… .
Salam Damai dan Cinta Kasih… .
CY : Sadhu… sadhu… sadhu…
nice posting