Nama Sun Go Kong bagi masyarakat kita sudah tidak asing lagi. Sebuah stasiun televisi swasta pernah menayangkan film serial “Kera Sakti” ini sampai berulang-ulang. Sun Go Kong dikenal karena kesaktiannya melawan segala jenis siluman. Selain dia, tokoh sentral lainnya dalam film ini adalah biksu Tong yang selalu mengendalikannya selama perjalanannya ke Barat mencari kitab suci.
Pertanyaannya, apakah tokoh Hsuan-tsang yang dalam cerita serial “Kera Sakti” terkenal sebagai biksu Tong itu benar-benar pernah hidup di Tiongkok? Dari beberapa literatur yang ada menunjukkan bahwa tokoh Hsuan-tsang ini adalah seorang biksu yang ditasbihkan pada umur 13 tahun dan hidup di Tiongkok sekitar tahun 602-664, dikenal juga dengan nama aslinya Chen-I, mendapatkan gelar San-Tsang atau Mu-Ch’a-T’i-P’o (Moksadeva) atau Yuan-tsang (di Jepang dikenal dengan nama Genjo). Beliau tercatat sebagai biksu dan penziarah dari Tiongkok yang terbesar sepanjang sejarah dan hidup pada masa Dinasti Tang (618-907), yang menunggang kuda melakukan perjalanan ke India melewati Himalaya selama 4 tahun perjalanan (dalam usia 23 tahun).
Beliau sempat tinggal selama 10 tahun di India untuk mempelajari dan menerjemahkan berbagai kitab Sansekerta Tripitaka ke dalam bahasa China, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 645 dengan membawa pulang 658 teks agama Buddha dan berbagai sutra Mahayana. Karya terjemahannya dan juga tulisan perjalanannya ke Asia Tengah dan India yang penuh dengan data yang akurat merupakan suatu fakta sejarah tak ternilai bagi para sejarawan dan arkeologis saat ini. Nama beliau dapat disejajarkan dengan para sesepuh Mahayana (Tripitaka Master) seperti Mahadeva, Asvaghosa, Nagarjuna, Atisa, Vasubandhu, Bodhidharma, Shanti-Deva, Asanga, Arya-Deva, Tao-An, Kumarajiva, Kobo-Daishi termasuk Buddhaghosa (Theravada).
Mengembara ke India Terlahir dalam keluarga cendekiawan turun-temurun yang menganut paham Confucianis di mana atas pengaruh kakaknya yang menyenangi agama Buddha, akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke Ch’ang-an dan kemudian ke Ssu-ch’uan (sekarang Szechwan) guna menghindari konflik politik yang terjadi. Semasa berada di Ssu-ch’uan, Hsuan-tsang mulai mempelajari filosofi Buddhis tetapi menemukan banyak sekali perbedaan dan kontradiksi dari berbagai kitab yang dibacanya. Karena tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari gurunya, akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke India.
Hsuan-tsang muda melakukan perjalanan ke utara di Padang Pasir Takla Mak’an melewati sumber mata air Turfan, Karashar, Kucha, Tashkent dan Samarkand untuk kemudian memasuki Gerbang Besi Bactria, melewati pegunungan Hindu Kush sampai ke Kapisha, Gandhara, dan Kashmir di sebelah Tenggara India. Dari sana beliau menaiki perahu menjelajahi sepanjang Sungai Gangga sampai ke Mathura, dan mencapai tanah suci agama Buddha di bagian timur Sungai Gangga pada 633. Hsuan-tsang mulai mengunjungi berbagai tempat keramat yang berkaitan dengan kehidupan sang Buddha di sepanjang sungai Timur sampai Barat.
Kemudian sebagian besar waktunya dihabiskan di Nalanda (pimpinan universitas saat itu adalah Silabhadra yang bergelar ‘Mustika Kebenaran’) yang merupakan satu-satunya pusat pengkajian Buddha yang terbesar saat itu (Nagarjuna juga mulai mempelajari Buddha dari sana). Hsuan-tsang muda mempelajari bahasa Sansekerta, filsafat Buddhis dan filsafat India. Sewaktu berada di India, Hsuan-tsang terkenal akan kecendekiawanannya, sehingga raja yang berkuasa di India bagian utara, Raja Harsa menemui secara pribadi untuk memberikan penghargaan kepadanya. Akhirnya dengan bantuan dari Raja Harsa, beliau dapat menyelesaikan tugasnya dan kembali ke Tiongkok (tahun 643) dengan fasilitas yang disediakan oleh Raja berupa 20 ekor kuda yang membawa 527 peti naskah.
Kembali ke Tiongkok Hsuan-tsang kembali ke Ch’ang-an (ibu kota negara T’ang) pada 645 setelah meninggalkan negaranya selama 16 tahun. Beliau disambut dengan meriah di ibu kota dan beberapa hari kemudian di depan khalayak ramai, Raja menawarkan posisi menteri di pemerintahan dengan pertimbangan bahwa Hsuan-tsang mempunyai pengalaman luas di berbagai negara asing. Namun terdorong oleh niatnya yang besar untuk mengabdi dalam Buddha, beliau menolak secara halus penawaran Raja tsb. Hsuan-tsang menghabiskan sisa waktunya dengan menerjemahkan sekitar 657 naskah yang dikemas dalam 520 peti (literatur lain menuturkan 527 peti) yang dibawanya kembali dari India.
Beliau menyelesaikan 73 naskah (literatur lain menyebutkan 75 naskah) yang terbagi atas 1,330 bagian, di mana sebagian besar merupakan rujukan utama dalam Tripitaka Mahayana seperti Prajnaparamita Hrdaya Sutra, naskah Yogacara, Madhyamaka dan naskah Vasubandhu yakni Trimsika atau dikenal juga dengan nama Vijnaptimatrasiddhi. Selain itu terdapat juga naskah dari sejumlah sekte lainnya seperti dari Hinayana, Theravada, Vinaya, Mahasanghika dan Risalah, termasuk naskah pengetahuan umum dan naskah tata bahasa.
Pokok-pokok Pikirannya Karya Hsuan-tsang lebih berdasarkan filsafat ajaran Yogacara (Vijnanavada/Wei-shih cung) yang dikembangkan oleh Asanga dan Vasabhandhu, di mana bersama dengan muridnya K’uei-chi (632-682) mendirikan sekte Wei-shih (Hanya Kesadaran/Vijnana) yang tertuang dalam karya Hsuan-tsang , Ch’eng-wei-shih-lun (Treatise on the Establishment of the Doctrine of Consciousness Only) yang menjelaskan bagaimana bisa terdapat suatu dunia emperikal yang umum untuk setiap individu yang memiliki badan dan penyerapan yang berbeda dapat merupakan pembentuk pikiran bersama terhadap suatu tujuan tertentu. Menurut Hsuan-tsang, benih karma universal yang tersimpan dalam gudang kesadaran (alayavijnana) merupakan pembentuk umum dan benih karma tertentu sebagai pembentuk pembeda masing-masing individu.
Pokok utama ajaran ini mengatakan bahwa seluruh dunia ini terbentuk karena pikiran. Bentuk-bentuk tampak luar adalah tidak nyata (maya), tidak ada yang nyata diluar pikiran. Pendapat umum tentang adanya bentuk luar hanyalah disebabkan konsepsi yang salah dimana dapat dihilangkan dengan proses meditasi yang menarik kembali semua bentuk luar yang bersifat maya tersebut (semacam vipassana bhavana). Benih karma merupakan pembentuk pancaskandha yang terkumpul dalam gudang kesadaran dimana membentuk pikiran atas keberadaan dunia luar berdasarkan persepsi dan cita. Gudang kesadaran inilah yang harus disucikan dari dualitas subyek-obyek dan keberadaan yang maya dengan menempatkannya pada alam kemurnian yang dapat disamakan dengan kenyataan atau kesamaan yang menunjukkan sifat dasar dari semua benda sesuai apa yang telah ditentukan (tathata). Alam kesadaran inilah yang dicapai oleh para Bodhisattva sebagaimana tercermin dari konsep Trikaya.
Perkembangan Ajaran Pokok pikiran ajaran tersebut sempat populer pada masa kehidupan Hsuan-tsang dan K’uei-chi , tetapi karena filsafat dan terminologi ajaran tersebut yang kurang dimengerti dan sulit dicerna secara umum, demikian juga bentuk pemahaman yang berkaitan dengan analisa pikiran dan perasaan merupakan suatu hal yang asing bagi tradisi di Tiongkok saat itu, maka dengan meninggalnya Hsuan-tsang dan K’uei-chi, sekte ini pun akhirnya mengalami kemerosotan. Pada saat meninggalnya Hsuan-tsang, Raja T’ang mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari guna menghormati segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh Hsuan-tsang yang ditunjukkan oleh pengabdiannya yang tanpa pamrih dalam mengembangkan Buddhisme di Tiongkok.
Tercatat dalam beberapa literatur bahwa pada masa kehidupan Hsuan-tsang, terdapat seorang biksu Jepang yang bernama Dosho sempat singgah ke Tiongkok pada tahun 653 dan belajar di bawah bimbingan Hsuan-tsang, di mana sesudah menyelesaikan pelajarannya, biksu Dosho kembali ke Jepang untuk mengenalkan doktrin tersebut, dan kemudian menjadi terkenal akan Vihara Gongo. Selama abad ke-7 dan ke-8, sekte ini dikenal dengan nama Hosso (Fa-hsiang) dan merupakan sekte yang paling mempengaruhi semua sekte Buddhis yang ada di Jepang sampai saat ini. Biksu Dosho merupakan biksu pertama di Jepang yang jasadnya dikremasikan secara Buddhis. Selain di Jepang, ajaran Hsuan-tsang juga menyebar ke Korea.
Selain melakukan penerjemahan naskah-naskah, Hsuan-tsang juga menulis cerita perjalanannya ke Barat (India) yang diberi judul Ta-T’ang Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan ke Barat semasa Dinasti T’ang Agung), merupakan suatu catatan dari berbagai negara yang dilewatinya sewaktu melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci.
Sumber: Koran Era Baru, Edisi 4, tahun 1




Mau ada apa nggak, yang penting hikmah yang kita dapatkan dari kisah tersebut. Saya sih mikirnya gitu bro, daripada pusing.
CY: Betul juga bro, namun ada beberapa org yg lebih memilih pusing mencari fakta hehehe…
hm..dulu saya cukup sering lho, liat kera sakti and the gank di telepisi. emang terkenal banget ya, sampe banyak dibuat berbagi versi atau dibuat semacam parodi.
malah di gensomaden saiyuki (yanga katanya adalah kisah kera sakti versi lain) itu kan go kong dipasangkan dengan pendeta cowok genjo sanjo (alias biksu tong katanya) sehingga jadi yaoi. cape de…
tapi, saya baru tau klo biksu tong itu memang pernah ada secara nyata. saya fikir betul2 tokoh fiktif
mas mas komen saya ga da
apa kena akismet ituh?? tolooooong T_T
CY : Udah di loloskan tuh…
Aku termasuk salah satu penggemar cerita Perjalanan Ke Barat ini. Ini memang cerita hebat, karya besar dari Tiongkok, sampai jadi inspirasi kan buat cerita Dragon Ball ?
Perkara benar atau tidak, isi ceritanya itu penuh pesan-pesan, itu yang penting. Pelajaran hidup dengan metafora yang bagus
CY : Betul bro, setiap kisah hidup yg manapun ataupun fiksi bisa kita ambil hikmah2 positifnya utk kehidupan kita sehari2.
Assalamualaikum Wr Wb
bisakah saya tau ciri ciri tulisan surat dari dewi Kwan in sendiri apa beliau menulis dengan tulisan sendiri atau diketik????masalahnya ada surat selembar yang isinya doa slamat dunia akherat taoi bukan obana ati fidun ya khasanah tapi……Allah …….terus saya protes dan surat itu saya kasih tetangga saya. saya minta contoh tulisan asli Dewi Kwan in.masa sih Dewi kwan in ga mau memaaafkan jika surat iu atas perintah Allah Swt yang ditugaskan ke Dewi Kwan Im untuk saya ga memaafkan sedangkan Allah Swt adalah Maha pengasih dan Penyayang.Mohon sampaikan kritikan saya demi keselamatan anak manusia.memang Dewi Kwan Im ga dikir ya????kok cepat sekali marahnya????
Waalaikumsalam wr wb
Assalamualaikum Wr Wb
bisakah saya tau ciri ciri tulisan surat dari dewi Kwan im sendiri apa beliau menulis dengan tulisan sendiri atau diketik????masalahnya ada surat selembar yang isinya doa slamat dunia akherat tapi bukan robana atina fidun ya khasanah tapi……Allah …….terus saya protes dan surat itu saya kasih tetangga saya. saya minta contoh tulisan asli Dewi Kwan in.masa sih Dewi kwan in ga mau memaaafkan jika surat itu atas perintah Allah Swt yang ditugaskan ke Dewi Kwan Im untuk saya dan beliau ga memaafkan sedangkan Allah Swt adalah Maha pengasih dan Penyayang.Mohon sampaikan kritikan saya demi keselamatan anak manusia.memang Dewi Kwan Im ga dikir tauhih/asmaul husna jadi capek,kesel kan malaikat juga dikir ya????kok cepat sekali marahnya????atik takut dong kalo salah sedikit hukum salah dikit hukum namanya aja kekuatan para Dewa yang lebih kuat para Dewa daripada manusia yang cepat lelah karena banyak yang harus dipertanggung jawabkan dalam kehidupan yang benar
Wasalamualaikum wr wb
CY : Ttg surat2 berantai itu semua adalah omong kosong, walaupun isi suratnya mengatakan dari nabi agama tertentu ataupun langsung dari Allah. Demikian juga dgn surat berantai yg katanya tulisan “Dewi Kwan Im”, selama perbuatan baik dan karma baik kita terus dipupuk dan menghindari perbuatan buruk niscaya akan terhindar dari karma buruk. Disamping itu seorang Avalokitesvara (dlm hal ini Dewi Kwan Im) adalah calon Buddha dan sudah berada diluar lingkaran emosi yg namanya marah, susah, sedih, ataupun senang dan kenikmatan duniawi. Jadi omong kosong kalau Dewi Kwan Im marah. Setiap akibat buruk yg kita terima adalah krn perbuatan dan karma buruk kita sebelumnya, jadi bukan krn amarah Dewa-Dewi atau Entitas tertentu.
**Kiranya Atik senantiasa berbahagia dan terlepas dari semua bentuk penderitaan… sadhu.. sadhu.. sadhu..**
bagus neh, termasuk artikel sejarah yang hilang
engga banyak yang tahu, termasuk gw
thanks ya, kebetulan gw juga penggemar cerita sejarah.
CY, saya menulis sesuatu sebagai ucapan terima kasih saya ke CY di blog saya … kalau sempat dibaca yah
CY : Terimakasih De, kiranya engkau berbahagia selalu dan terlepas dari setiap ikatan penderitaan.
Dear Ko CY,
Apa kabar Ko ??
Lama tidak berjumpa…
Ko, aku punya oleh2 dari Palembang untuk anda dan semua rekan2, tolong sempatkan mampir ke blog saya ya Ko!!
Thank you Ko
!
http://ratnakumara.wordpress.com/2009/03/19/tamasya-ke-palembang/
CY : Baik2 aja bro, terimakasih utk oleh2nya…
Sun Go Kong, ada apa tidak ?? Ada gak ya ??
Hayoooooo!!!!
May All Beings Attain Enlightenment!!
http://ratnakumara.wordpress.com/2009/03/19/tamasya-ke-palembang/
Legenda Kera Sakti yang menyertai perjalanan Biksu Tong ketika mengambil kitab suci ke barat (India) mungkin saja berkembang dari kisah-kisah yang hidup di masyarakat. Pemikiran masyarakat yang masih sederhana kala itu berpikir bahwa seorang biksu Tong tidak mungkin melakukan perjalanan seorang diri, untuk itulah mereka beranggapan ada beberapa ’sahabat’ yang membantunya.
Tapi apakah Sun Go Kong itu merupakan perwujudan dari Dewa Hanoman karena katanya sama-sama berwujud kera dan memiliki kemampuan beladiri (perang) yang tinggi?
legenda sun go kong hanya mengambarkan ciri dan sifat manusia ada rakus,mata keranjang,iri,dengki kayak cu pat kai ( muka Babi ),liar,keras kepala,malas tahu,egois kaya sun go kong,bodoh,dungu,bloon kayak Bu ji.semua yang ada di Legenda Sun go kong hanyalah legenda belaka.jaman dulu Bhikku Huan Tsang alias Tong Sam Cong pergi kearah barat untuk mengambil Tripitaka ( Kitab Suci Buddha terdiri dari tiga bagian )dalam perjalanan Bhiku banyak mengalami kesusahan dan penderitaan selama pencariaan Kitab Suci.ketemu banyak suku,bangsa,dan ras.kisah Sun Go Kong sebenarnya dari Jaman Dinasty Tang yang merupakan Dinasty yang penuh dengan filsafat dan kesenian…masyarakatnya penuh jiwa seni.sehingga terciptalah legenda2 yang menurut kita gak masuk akal ,bukan hanya legenda Sun Go Kong masih banyak legenda2 Dewa – Dewi Lain yang dijadikan Legenda Tiongkok.(sekarang Dataran China )
wah, nemu juga artikel menarik
perjalanan ke barat, ato Saiyuuki ya kalo istilah Jepangnya?
setau saya memang pas jaman Dinasti Tang Budhha menjadi agama besar di China dan memulai pengaruhnya ke Korea dan Jepang
btw dah nemu jawabannya belum??
halo Ko CY, salam kenal
sun go kong dengan temannya yang menyertai sang biksu mungkin gambaran nafsu yang selalu menyertai manusia
entah di Budha ada pemahaman ini nggak ya,
cuma dari pengalaman saya sun go kong , ti pat kai, sam ceng bisa diakses beberapa orang bersamaan, jadi itu mungkin bagian dari diri tiap manusia
mungkin seperti tuhan, malaikat ataupun setan sesungguhnya adalah gambaran (ada dalam) diri kita
dalam bahasa jawanya :
isining donya
ginambar ing angganira
…
isi dunia tergambar pada dirimu
hehe maaf saya mungkin termasuk mokaw partai sesat
CY : Salam kenal kembal. Wah, bisa diterima juga pendapat seperti itu Tom. Mokaw partai sesat atau bukan tergantung dari perbuatan sehari2nya kok. Kalo penuh kebaikan dan kasih, sesat juga gpp. Intinya kan perbuatan dan hati bukan label, hehehe…
Salam ..
baru berkunjung.
Goo Kong ..
itu “mungkin” betul..
atau saya berharap itu betul .
..
BTW mudah mudahan ..bro masih kenal saya
galeter.wordpress.com
CY : Masih kenal dong…, eh, itu blog kok dibiarin terlantar bro hehehe…
pagi banag
wah blue datang ke tempat abang nich setelah lama abang tak mampir ke blue hehe..
salam hangat selalu
selamat liburan ya bang
CY : Terimakasih berkenan mampir blue, nanti saya sempatkan bertamu setelah tugas2 kantor terkendali
wah salah satu pilem sukaan saya neh
Salam Kenal.
Dari aspek penulusuran cerita perjalan panjang menuju India, tentu Biksu Tong membutuhkan rekan-rekan yang mendampinginya. Saya pikir, para tokoh tersebut memang ada, namun tidak sedramatisir seperti dalam film.
Saya sependapat jika penokohan ketiga orang tersebut lebih menunjukkan karakter utama yang buruk yang selalu muncul. Sun Go Kong penuh kemarahan dan kebencian dengan “mental” liarnya. Tii Pa Kai merefer tokoh yang penuh keserakahan, dan Sam Ceng merefer tokoh “kebodohan”. Berbicara ketiga tokoh tersebut, berarti berbicara dengan diri kita sendiri.
Berbicara “mediator”, banyak aspek yang perlu ditinjau dan telaah. Dan saya pikir, tidak setiap saat sang mediator dapat menjadi perantara. Ada waktu dan momen tertentu (Sikon).
Ada begitu banyak “deities” yg memiliki motivasi untuk melakukan hal yang baik. Sehingga jika ada kesempatan dan kondisi yang tepat, “deities” yang “berjodoh” dapat memasuki entitas yang mana saja, asalkan ada karmic link dengan entitasnya.
Tentunya, “pasien” juga harus memiliki karmic link yang baik dengan “deities” agar memiliki “power” yang kuat.
Just opinion..Not a truth.
wah dulu aku juga suka menikmati film ini…
banyak hikmah yang bisa kita pelajari…
“berbuat baikpun , banyak orang yang berniat jahat”
eh…tunggu dulu wajah biksu itu, ada dikit2 mirip Ratnakumara ya ?
CY : Hehehe.. itu kan aktor yg memerankan di film. Kalo aslinya kan belum pernah ngeliat
Hayo yaaaa.., pada ngomongin aku nih,
Hmmmm… tak baik …, tak baik
Ko, itu ada diskusi menarik dari Brother kita, Wen Lung Shan , yang mempermasalahkan patung Maitreya.
Mungkin Ko CY mempunyai pandangan , sudut-pandang tertentu ?? Silakan berbagi Ko…
Tenang saja, dia orang Buddhis, jadi tidak akan ada debat agama seperti kalau kita berdiskusi dengan kaum barbar lah
Kasih koment ya Ko!!
Thank you so much
CY : Semalam sdh saya samperin kesana bro, cuman blm sempet komen aja hehe…
oh…, di ilhami dari kisah nyata yak ?
baru tau gw
bukan cuma sejarah tapi ada perguruannya, pusatnya di madiun. di jakarta ada latihannya setiap hari minggu jam 7 pagi, datang aja liat. gerakannya kayak kera ada tenaga dalamnya jadi sangat berguna untuk pengobatan.
salam kenal dari agil 081586484610 more infomasi
seandainya sekarang ada seseorang mendapat petujuk dari dewi kwam im apakah kita percaya?
seandainya saja dewi kwan im mengutus sun go kong untuk melindungi kita apakah kita percaya?
nyatakah wujudnya ?
saya yakin hanya kita yang nyata, dan keyakinan kitalah yang membuatnya nyata.
kadang alam misteri bekerja tanpa sepengetahuan siapapun, hanya orang orang tertentu saja yg mengetahuinya.
kadang mahluk jahat menyamar jadi seperti malaikat membodohi kita.
yang penting bukan siapa dia, tapi apa yg dia perintahkan.
maksud saya bhiksu tong nyata di dunia nyata.
sun go kong cs nyata di alam misteri.
dan jangan mudah percaya alam misteri, karna kata teman aku banyak mahluk jahat menyamar .
saya fenss berat gokong hahahhhaahaha.
Bangsa Yahudi berasal dari kera. Kemungkinan Sun Go Kong adalah bangsa Yahudi yang dikutuk Allah menjadi kera, karena mereka ingkar pada Allah.
Sumber http://haniifa.wordpress.com
gini loh kata orang tua saya…..
jaman dahulu kala ada pemerintahan yamg amat sangat korup….pejabat pemerintah korup…masyarakat bobrok moralnya…udah ga ada takutnya ama tuhan…
trus….
lahir lah karya sastra…di beri judul kera sakti….
kera sakti(sun go kong) saking pinter nya bisa mengacak acak khayangan tidak ada yang bisa menghalanginya…sampai akhirnya sang budha turun tangan sendiri menghukumnya….(ini melambangkan seseorang yang memiliki kepintaran yang luar biasa….. yg pada jaman ini seperti penjahat berkerah putih dengan kepintaran nya dia bisa mengacak acak negara yang menyebabkan negara tsb krismon )
cu pat kay (siluman babi) : Melambangkan orang biasa yang memiliki hawa nafsu yang berlebihan (tukang kawin hehehe) di lambang kan oleh siluman babi …kita bisa lihat sendiri karakter cu pat kay ini kalo liat wanita….tidak memliki moral….(adakah orang seperti itu dijaman sekarang ??? coba lihat di sekeliling anda masih banyak oarng orang seperti siluman babi…
sa ceng ….sebenarnya dia melambangkan tokoh agama yang tidak memiliki kebajikan…semuanya di terima mentah mentah tidak di pikirkan doloe….benar ga benar agama gua yang bener ..hajar… banyak ga sekarang yg seperti itu…
sedabgkan biksu tong melambangkan agama….jadi ketiga hal tsb hanya bisa di kontrol oleh agama ….
jadi kesimpulan nya…kita harus selalu rajin beribadah…ingat tuhan….jangan mau menjadi ke 3 siluman diatas,,,
jadi menurut orang tua saya ,,,cerita tsb di bikin pada jaman pemerintahan yang kacau balau…dimaksud untuk menyinggung pemerintah dan masyarakat pada jaman itu…bahkan pemerintah pada jaman itu bermaksud untuk memusnahkan karya sastra tsb…tapi sudah menjadi legenda/cerita rakyat cerita nya pun makin tersebar….
sooo….ada atau tidak ??tergantung penafsiran anda..hehehe
Aku jg sk bngt dngt crtx kera sakti.crtx bgus bngt.ohx aq jg mau cari tmn ni hbngi aqx dsni.081355592455.aq tnggx
hai….
nE aq kHuzNI,, ,Aq mW kOmEntR,!
kNpA cE FiLM KERAKSATI di tanyngin jam 03.30 Tu kN tRlLu sOre ,KnP Nda Jam 12.30
Gue baru tau bahwa sun GO KONG pengawal mencari kitab suci haaaaaaaaaa ………………………………………
gue memang suka bangetttttttt ama filim ini meman kera sakti jago bisa ngumpuli kera kera mantap…………………………