Slumdog Millionaire
Mei 22, 2009 oleh CY
Pernah menikmati film yg berisi bermacam rasa? Yang membuat kita tertawa, menangis, marah, tersenyum, geram dan berbagai perasaan lain sekaligus dalam waktu bersamaan? Kalau belum, silakan nikmati “Slumdog Millionaire” besutan sutradara Danny Boyle. Film yang memenangkan 8 piala Oscar dan meraup lebih kurang 326 Juta dollar Box-Office ini menyuguhkan pemandangan yang begitu alami tentang keadaan di pemukiman kumuh di Mumbai, India. Tak lupa membanjiri kita dgn berbagai macam problema yg dialami oleh kalangan miskin disana.
Film dimulai dgn dua orang polisi yg sedang menginterogasi seorang pemuda dengan berbagai siksaan brutal sampai pingsan. Berusaha memaksa pemuda itu mengaku kalau telah melakukan penipuan. Pemuda itu bernama Jamal, kontestan “Who Wants to be A Millionaire” versi India. Jamal telah berhasil memenangkan 10 Juta Rupee ( US$200.000) dan telah tiba pada pertanyaan terakhir utk memenangkan 20 Juta Rupee yg dijadwalkan berlangsung esok harinya. Pembawa acara merasa curiga karena seorang pemuda tak bersekolah dari kawasan kumuh berhasil menjawab berbagai pertanyaan sulit di acara favorit tersebut, sehingga melaporkan pemuda tersebut ke polisi atas tuduhan penipuan. Uniknya, jawaban setiap pertanyaan dalam acara tersebut ada hubungannya dengan pengalaman masa kanak-kanak Jamal yang tak terlupakan di kawasan kumuh tempat tinggalnya. Itulah kuncinya mengapa setiap pertanyaan berhasil dijawab dengan tepat. Dari potongan kisah ini sekaligus menyadarkan bahwa dalam mengadili seseorang kita selalu hanya memandang penampilan luarnya saja. Orang miskin tak bersekolah dari kawasan kumuh “pasti” bodoh dan tak tau apa2. Begitulah skema yg sudah terpatri dlm pikiran kita.
Film ini juga menyuguhkan sebuah dilema yang selama ini mungkin tak terpikir oleh semua orang. Sebuah potret kehidupan anak2 jalanan yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang tak bertanggung-jawab. Anak-anak yg seharusnya menikmati kehangatan keluarga di usia belia tersebut di latih dan dipaksa untuk mengemis. Ada penggalan film yg membuat kita berlinang airmata sekaligus marah, adegan dimana seorang anak dilatih agar mahir bernyanyi dengan suara emasnya namun setelah pandai anak tersebut di butakan matanya dgn air keras supaya membuat orang iba dan memberi sedekah saat dia menyanyi sambil mengemis. Hal tersebut bukan sekedar cerita karangan sutradara atau penulis naskah, melainkan kisah nyata yg sering terjadi di dunia anak2 jalanan. Jadi, dimana dilemanya? Tentu saja dilemanya saat kita hendak memberi sedekah, kalau kita beri maka organisasi anak2 jalanan akan makin kokoh menancapkan kakinya. Kalau tak kita beri, berat sekali siksaan yg bakal diterima anak2 tersebut kalau setoran hariannya tak cukup. Sementara para pejabat hanya sibuk dgn targetnya utk memenangkan pemilu berikutnya serta sibuk membagi2kan jatah koalisi partai.
Bocah 10 tahun pemeran “Slumdog Millionaire” diusir dari rumah kumuhnya oleh polisi dgn tongkat bambu. Beberapa menit kemudian gubuk reot yg dia sebut “rumah” itu di buldoser berikut lusinan gubuk2 ilegal lainnya di kawasan kumuh Mumbai, India.
Anak-anak tersebut dibawa dari dunia penuh derita dan kekurangan ke dunia gemerlap dan berjalan melalui karpet merah sebagai tamu di pesta meriah piala Oscar penuh keangkuhan dunia, diberi toss oleh seluruh Hollywood, kemudian dilempar kembali ke dunia nyata dimana mereka hidup bersama keluarganya dalam kemelaratan. Istilah kasarnya “Nama begitu populer tapi kantongnya cekak”. Kalau sudah begitu “Apalah arti sebuah nama??”
Kisah-kisah dalam film ini mirip sekali dengan kawasan-kawasan kumuh di Indonesia. Setiap adegan ttg kemelaratan dan penderitaan dalam film ini selalu mengingatkan saya tentang kondisi-kondisi rakyat miskin di negara kita. Oh ya, satu lagi gambaran yg mirip yaitu agama mayoritas menindas dan melakukan penganiayaan terhadap agama / aliran minoritas. Dalam film itu bahkan anak-anak yg berbeda kepercayaan dikejar dan diburu untuk dihabisi, sebuah potret kehidupan yg layak kita renungkan untuk mengoreksi gaya hidup beragama yg seperti tidak beragama.
Kesimpulannya, film ini benar-benar menyuguhkan semua sisi kehidupan level bawah yang kompleks dan penuh hiruk pikuk. Bahkan pemeran Latika cilik sepulang dari acara penyerahan piala Oscar di Hollywood mengatakan dirinya ingin bisa keluar dari lingkungan kumuhnya yg penuh teriakan dan makian, sangat jauh dibandingkan kondisi tenang hotel tempat dia tinggal selama acara berlangsung. Semua kisah dalam kehidupan nyata kalangan miskin dan perkampungan kumuh ada disini. Dari kwalitas pendidikan yang amburadul, minus air bersih, eksploitasi kanak-kanak, pelacuran, pengangguran, konflik agama, premanisme sampai jual-beli narkoba.
Dan di akhir film, saya hanya bisa menghela nafas melihat beratnya kehidupan yang harus dilalui anak-anak terlantar dikawasan kumuh kita. Kapan ada uluran tangan dari yang namanya “wakil rakyat” yang tinggal di istana berlantai granit dan bisa tidur nyenyak di kasur lateks serta bepergian dgn “kereta kencana” keluaran terbaru, yg jauh sekali dari dan bahkan jarang sekali melihat semua ke-kumuhan tersebut. Rupanya rakyat diwakili hanya di bagian-bagian senangnya saja, sementara bagian susahnya tanggung sendiri. Masih pantaskah menyandang nama “Wakil rakyat” ?? Silahkan mencari berbagai alasan pembenaran.
Ditulis dalam Kisah, Renungan, opini | Bertanda anak jalanan, Film, Renungan | & Komentar
Tinggalkan Balasan
aku suka banget film ini
pengen ada yang lebih dasyat lagi
@CY
Selamat datang, selamat mengikuti acara Who Wants To Be A Millionaire versi blog.
Anda mempunyai 3 pilihan bantuan : Youtube/// 50:50/// Email
Pertanyaan pertama
Bagaimana seorang anak jalanan(Jamal Malik) mampu menjawab semua pertanyaan ??
A. Dia Curang
B. Dia Beruntung
C. Dia Jenius
D. Ditakdirkan
CY : Jawabnya : D . Ditakdirkan. Karena Jamal mengikuti Quiz tersebut hanya utk mencari Latika dan bukan utk memenangkan hadiahnya (itu kalo versi cerita film). Nah, kalo versi novelnya, Jamal mengikuti Quiz karena ingin memenangkan sejumlah uang untuk menebus Latika dari dunia pelacuran. hehehe… Ada lagi pertanyaannya?
B. Dia beruntung
Karena jawaban setiap pertanyaan ada hubungannya dengan pengalaman masa kanak-kanak Jamal. Benar?
CY : Jawabnya D. Ditakdirkan, krn penulis naskah maupun penulis novelnya mentakdirkan alur ceritanya harus spt itu. hehehe…
*Miris* Anak-anak yg malang, kehidupan yg sulit…
Semua dimulai dari keluarga, orangtuanya, yg paling bertanggungjawab membantu menuntun masa depan anak-anak apakah akan lebih baik atau sama busuknya
CY : Nah, apa tindak lanjut dari kita?
haduh, saya baru tahu soal hal ini. CY, ijinkan saya repost soal cerita ini. makasih infonya…
*sepak cy, kemana aja selama ini?*
CY : *Terkaget-kaget krn Chika ternyata masih muncul di sini*
Sebuah kehormatan Chika berkenan menulis ulang…
Dear Ko CY,
Aduh, sekarang blognya tambah satu tema lagi ni, “SINEMA-SINEMA” ? hehe
Thanks atas info film ini Ko, semoga saya bisa nonton nanti
Peace & Love.
http://ratnakumara.wordpress.com/2009/05/26/nafsu-indriya-penghalang-yang-harus-dilenyapkan/
CY : Yaa begitulah bro, segala sesuatu yg bisa menginspirasi utk berbuat baik layak di tuliskan tho ..
[...] mengetahui fakta ini dari postingan CY (Waduh chik, kemana aja? Kok baru tahu? ). Di berita ini terkuaklah kenyataan para pemain Slumdog [...]
yea…slumdog, baru nonton saya…bagus siii emang….
itu sudah kehendak tuhan …
salah mereka sendiri kenapa mau diperlakukan seperti itu …
coba kalo mereka dekat dengan tuhan mereka …
tentu gak mungkin terpinggirkan dan dipinggirkan …
upsss …
koq saya punya pikiran seperti itu ya ?
wah .. sok paling benar tuh …
sok paling suci … sok paling sudah berbuat yang paling baik …
cuma bisa kasih komentar namun gak punya kuasa untuk menolong mereka yg jelas-jelas sudah gak punya apa-apa lagi ..
CY : Kenapa anda yakin mereka tak dekat dgn Tuhan mereka? Mereka Muslim Minoritas loh di sana… Di Indonesia sendiri banyak yg dekat dgn Tuhannya tapi tetap kehidupannya susah, teori anda dipatahkan oleh kenyataan, apa jawaban anda?
@CY
Apakah anda yakin jawabannya D. Ditakdirkan ???
Komputer mengunci jawabannya… hhmm… iiaayaahhk.. betul… D. Ditakdirkan.
Anda telah mencapai titik aman pertama, dan meraih hadiah satu milyar dolar Zimbabwe…haha….
*** tenngg… waktu untuk iklan, dan jangan kemana-mana setelah pariwara berikut ini …***
***saat tayangan iklan, lagi diskusi sejenak di studio***
Kalo jawabannya B. Beruntung , sepertinya kurang menyentuh dalam kisah ini, lagian beruntung adalah bagian dari takdir
btw; jangan kurs kan dolar Zimbabwe ya, ntar bro tinggalkan acara kuis ini hahaha….
CY : Kalo Zimbabwe namanya bukan “Who wants to be a Millionaire” lagi tapi “Who wants to be a Giga Millionaire” hehehe…
bisa jadi kasus pengemis yg terorganisir jg terjadi di Indonesia dan praktek permafiaan jg ada di Indonesia
Dear Ko CY
Ko CY, tulisan anda yang terakhir, mengenai “APAKAH BLOGGER AUTISM?” , kenapa dihapus Ko ? Saya cari-cari kok gak ada ?
Thanks before
Peace & Love
*ngelirik atas*.. siapa yang autis brooo ???..
salam Sayang
@Ratanakumaro
Bro, ada kesalahan saya dalam menggunakan kata ‘autis’ didalam artikel saya, yang menurut saya akan menimbulkan konotasi ‘kurang positif’ terhadap kondisi autis dan akan menyinggung perasaan para penyandangnya.
Autis adalah sebutan utk salah satu penyandang cacat mental, jadi cukup sensitif. Apalagi penderitanya kebanyakan kanak-kanak. Jadi kurang tepat dijadikan istilah lucu utk menggambarkan addiksi thd dunia maya. Menurut saya sih gitu
Belum nonton, sayangnya…
wew… telat mulai nongo lagi nih. mungkin anggota dpr mesti diwajibkan punya anak angkat dari kawasan kumuh. tiap menteri dan presiden juga… eh tapi mungkin malah dijadikan sarana membangun citra ding… kasihan anaknya.
CY : Ya akhirnya nanti senasib sama bintang cilik di atas, filmnya (pejabatnya) sudah ngetop status si anak tak jelas hehehe…
hehehe.. mau bilang apa lagi yaaaa… *ngelirik atas*… memang dah kaya begini…
Salam Sayang
sayangnya film nya dah gak tayang. kemarin gak sempat nonton. mudah2an di hbo tayang dalam waktu dekat ini. Jadi penasaran…..