Indahnya Cinta Kasih
Sungguh memprihatinkan keadaan manusia Indonesia akhir-akhir ini. Dalam berbagai media, hampir setiap waktu, selalu saja ada berita terjadinya berbagai bentuk tindak kriminalitas, kekerasan, perampokan, pembunuhan ( seperti misalnya yang baru saja terjadi pada keluarga pemilik toko-emas di daerah Kranggan, Semarang ), pemerkosaan, perselingkuhan, poligami ( poligami bagaimanapun manifestasi sikap batin yang serakah, mementingkan diri-sendiri,tanpa cinta-kasih dan kasih-sayang ( yang ada adalah cinta-nafsu-indria ), tanpa memikirkan perasaan makhluk lain, dalam hal ini istri terdahulu, dan tak jarang berakibat kekerasan bagi kedua belah pihak, seperti misalnya kasus Halimah dan Panji Trihatmodjo yang melabrak Bambang Trihatmodjo di rumah Mayangsari dan melakukan tindak kekerasan, sebaliknya Bambang Trihatmodjo juga melakukan kekerasan, dalam bentuk kekerasan-psikis bagi keluarganya sendiri ), penyerangan FPI terhadap kelompok-kelompok yang dianggap berseberangan dengannya, terhadap penganut Ahmadiyah misalnya, dan lain-lainnya yang tidak terhitung banyaknya contoh tindak kekerasan yang seakan sedang menjadi ‘trend’ bagi manusia Indonesia akhir-akhir ini.
Apakah yang mejadi sebab timbulnya hal-hal tersebut diatas ? Jawabannya, karena banyak orang yang telah ‘tersesat’, mempunyai pandangan salah, bahwa melakukan tindak kekerasan, demi alasan-alasan tertentu, adalah b e n a r. Pandangan-salah yang menyesatkan ini, ada yang karena pandangan yang bersifat ‘keduniawian’, yaitu masalah materi, pemenuhan kebutuhan ( sehingga menjadi pembenaran bagi tindak perampokan, pembunuhan, dll ), ada juga yang didasari atas suatu doktrin ‘kerohanian’, misalnya ; Atas-nama-Tuhan, membela-agama, ‘menaklukkan’-orang-kafir, membangun-kerajaan-surga-diatas-bumi, dan lain-lain.
Pandangan-salah yang menyesatkan tersebut diatas sesungguhnya disebabkan karena kurangnya pengertian akan suatu kebajikan yang indah nan luhur bagi semua makhluk, yaitu : CINTA-KASIH. Jika saja semua makhluk mengerti kebajikan luhur ini, maka ia akan sedikit-demi-sedikit mengikis tiap bentuk kekerasan dan kebencian, keiri-hatian, kedengkian didalam batinnya.
Cinta-Kasih yang Diajarkan Sang Buddha
Berikut ini adalah kotbah Sang Buddha yang terkenal, yang bernama “KARANIYA-METTA-SUTTA” ( Sutta tentang cinta kasih ) :
“ INILAH YANG PATUT DIKERJAKAN
OLEH IA YANG TANGKAS DALAM HAL YANG BERGUNA
YANG MENGANTAR KE JALAN KEDAMAIAN
SEBAGAI ORANG YANG CAKAP, JUJUR ( Perbuatan lurus melalui ucapan ataupun jasmani ),
TULUS ( Perbuatan lurus melalui pikiran ( tidak munafik ) )
MUDAH DINASEHATI, LEMAH-LEMBUT, TIDAK SOMBONG
MERASA PUAS ATAS YANG DIMILIKI, MUDAH DIRAWAT,
TIDAK REPOT, BERSAHAJA HIDUPNYA,
BERINDRIA TENANG, PENUH PERTIMBANGAN,
SOPAN, TAK MELEKAT PADA KELUARGA-KELUARGA
TIDAK BERBUAT KESALAHAN WALAUPUN KECIL
YANG DAPAT DICELA OLEH PARA BIJAKSANA,
SENANTIASA BERSIAGA DENGAN UJARAN CINTA KASIH :
“ SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA DAN TENTERAM
SEMOGA SEMUA MAKHLUK HIDUP BAHAGIA “
MAKHLUK HIDUP APAPUN YANG ADA
YANG GOYAH (yang gampang tergoyah oleh keinginan dan ketakutan),
DAN YANG KOKOH ( yang terkendali keinginan dan ketakutannya )
TANPA KECUALI,
YANG PANJANG ATAU YANG BESAR,
YANG SEDANG, PENDEK, KECIL, KURUS, ATAUPUN YANG GEMUK,
YANG TAMPAK ATAU PUN YANG TAK TAMPAK,
YANG BERADA JAUH ATAU PUN DEKAT,
YANG TELAH MENJADI ATAU PUN YANG BELUM MENJADI,
SEMOGA MEREKA SEMUA HIDUP BAHAGIA,
TAK SEPATUTNYA YANG SATU MENIPU YANG LAINNYA,
TIDAK MENGHINA SIAPA PUN DIMANA JUGA,
DAN, TAK SELAYAKNYA KARENA MARAH DAN BENCI
MENGHARAP YANG LAIN CELAKA.
SEBAGAIMANA SEORANG IBU MEMPERTARUHKAN JIWANYA
MELINDUNGI PUTRA TUNGGALNYA,
DEMIKIANLAH TERHADAP SEMUA MAKHLUK
KEMBANGKAN PIKIRAN CINTA KASIH TANPA BATAS.
CINTA KASIH TERHADAP MAKHLUK DI SEGENAP ALAM
KEMBANGKANLAH TANPA BATAS DALAM BATIN
BAIK KE ARAH ATAS ( alam ‘arupa’ ), BAWAH ( ‘alam-nafsu’ ),
DAN DIANTARANYA ( ‘alam-rupa’ )
TIDAK SEMPIT, TANPA KEDENGKIAN, TANPA PERMUSUHAN
SELAGI BERDIRI, BERJALAN ATAU DUDUK,
ATAUPUN BERBARING, SEMASIH TIDAK TERLELAP,
SEPATUTNYA IA MEMUSATKAN PERHATIAN INI
YANG DISEBUT SEBAGAI : ‘BERDIAM DALAM BRAHMA’.
IA YANG MENGEMBANGKAN METTA ( cinta-kasih ),
TAK BERPANDANGAN SALAH ( menganggap nama ( jiwa ) dan rupa ( tubuh ) sebagai ‘aku’, dan mengangap ada ‘aku’ yang-abadi ),
TEGUH DALAM SILA DAN BERPENGETAHUAN SEMPURNA,
DAN MELENYAPKAN KESENANGAN NAFSU INDRIA
( pencapaian sakadagami ),
TAK AKAN LAHIR DALAM RAHIM LAGI ( Pencapaian anagami ). “
Dalam ajaran Sang Buddha, cinta kasih universal tidak berbatas hanya kepada saudara-saudara seiman / seagama, tidak pula hanya berbatas kepada manusia saja, tetapi kepada semua makhluk, baik terhadap hewan/binatang, para dewa, bahkan iblis / setan sekalipun ( iblis / setan sesungguhnya patut diberi cinta dan kasih, karena kehidupannya yang sengsara, batinnya sengsara, karena penuh sifat-sifat tidak luhur, dan kehidupan ‘jasmaninya’ yang tidak luhur pula. Setan tidak hanya makhluk setan yang hidup dialam neraka, tetapi termasuk manusia yang mempunyai kondisi batin tidak-benar, tidak-baik, tidak-luhur, yaitu : suka menganiaya, melakukan tindak kekerasan dengan berbagai dalih ( termasuk dalih agama ), suka memaksakan kehendak, serakah, suka mencuri ( termasuk mencuri ide ( dalam hal kasus pembajakan karya-cipta lagu, buku, novel, dan lain-lain), juga mencuri ajaran Luhur yang diaku sebagai ajarannya atau ajaran nenek-moyangnya, padahal bukan ), mengenakan jubah, mewartakan ajaran agama, tapi bersifat rakus terhadap uang / harta dan wanita, dan lain-lainnya ).
Atas nama Cinta-Kasih, tidak akan pernah lagi ada tempat bagi pandangan-pandangan salah mengenai ‘Perang-Suci’ di jalan Tuhan, ataupun bagi pandangan-salah yang menyatakan bahwa jika ‘kepepet’, butuh makan, anak butuh biaya, maka adalah benar untuk mencuri, merampok, membunuh.
Inilah sebabnya, mengapa sejak 600 tahun Sebelum Masehi, agama Buddha berkembang ke berbagai penjuru dunia dengan damai, tanpa penggunaan pedang, penggunaan ‘wanita’ sebagai pemikat laki-laki dari agama lain, atau sebaliknya, menggunakan laki-laki sebagai pemikat perempuan dari penganut agama lain, dan lain-lain cara yang bersifat menipu, mengilusi, menjerumuskan, dan tidak luhur .
Tidak ada kekerasan, penyiksaan, atau fanatisme yang berperan dalam agama Buddha. Tidak ada setetes darahpun yang telah dicucurkan atas nama pembabaran Dhamma Sang Buddha, tidak ada panglima perang, atau Raja Diraja yang Kuat-Perkasa dan Berkuasa yang telah menggunakan pedang dan segala kekuatan tempurnya yang sangat ampuh untuk menyebarkan Dhamma, ‘meluruskan’ penganut agama-agama diluar ajaran Sang Buddha, tidak ada penghakiman ‘kafir’ / ‘iblis’ bagi penganut agama diluar agama Buddha.
Atas nama Sang Buddha tidak ada tempat keramat yang dimerahkan dengan darah para makhluk, tidak ada hewan-hewan yang dijadikan qurban bagi persembahan untuk ‘Makhluk-Adi-Kuasa’ dan juga para dewa-dewi, ataupun demi berdana bagi kaum fakir-miskin di sekitar . Asoka, Raja terbesar yang beragama Buddha, pernah menulis diatas karang monolit : “ Makhluk hidup tidak harus diberi makanan dengan makhluk hidup… .” ( dalam hal ini, makhluk hidup yang dimaksud adalah manusia dan hewan, sedangkan tumbuh-tumbuhan, seperti padi, dan lain-lain, diperbolehkan untuk dijadikan makanan. Namun, ummat Buddha tidak diperkenankan bersifat ‘angkuh’, dengan tidak mau memakan masakan daging yang disuguhkan oleh orang lain kepadanya, karena hal ini akan menyinggung perasaan orang yang berniat baik memberi makanan tersebut. Hanya, seorang pengikut Sang Buddha sangat tidak diijinkan untuk menyembelih hewan / binatang apapun dengan tangannya sendiri, untuk kemudian disantapnya. Juga tidak ada pembenaran bagi ummat Buddha untuk menyuruh tukang jagal menyembelih hewan bagi dirinya ataupun bagi makhluk lainnya. Bagaimanapun, hidup vegetarian tidaklah hal mutlak dalam ajaran Sang Buddha, seseorang boleh menempuh hidup vegetarian, tidak menempuhnya juga boleh, dengan satu syarat, tidak menumpahkan darah makhluk lainnya atas dasar niatnya sendiri, dengan tangannya sendiri, atau ‘meminjam’ tangan manusia lainnya. )
Sungguh bukan merupakan tindakan luhur jika kita berdana bagi fakir-miskin dengan jalan merenggut hak-hidup / nyawa makhluk lainnya, misalkan menyembelih kambing / sapi kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk sekitar yang dianggap hidup ‘kekurangan’ ( fakir-miskin ). Akan lebih luhur jika kita berdana semampu kita, apa yang kita miliki, kita bagikan dengan sukarela, tanpa mengambil milik makhluk lain, termasuk nyawanya. Seorang yang bertekad menjadi Buddha, yang disebut sebagai Boddhisatta, melaksanakan metta ( cinta-kasih ) sampai pada tingkat menyerahkan nyawanya sendiri demi menebus penderitaan makhluk lainnya, rela menyerahkan tubuhnya sendiri, bukan tubuh dan nyawa makhluk lain yang diambilnya lalu ia berikan pada makhluk lainnya lagi, supaya disebut sebagai ‘dermawan’. Banyak juga pengikut Sang Buddha yang dengan sukarela melepaskan kesenangan-kesenangan duniawi dengan sadar, hidup selibat, demi membabarkan Dhamma yang mulia kepada semua makhluk di segenap alam semesta, membagi-bagikan apa yang ia punya, pengetahuan maupun harta, demi kebahagiaan semua makhluk.
Atas nama agama Buddha tidak ada ilmuwan yang dibakar hidup-hidup dan tidak ada orang-orang yang dihakimi sebagai “ bid-ah “ dan kemudian digorok lehernya, dipenggal kepalanya, dicacah-cacah tubuhnya, direjam, ataupun dipanggang hidup-hidup.
Seorang Bhikkhu diharapkan untuk melatih cinta-kasih ini sampai sedemikian rupa sehingga dilarang oleh peraturan ‘vinaya’ untuk menggali tanah atau memberi alasan untuk menggali tanah ( demi tidak terenggutnya nyawa para makhluk yang hidup di tanah tersebut ); ia bahkan tidak boleh minum air tanpa disaring terlebih dahulu, mencegah tertelannya makhluk-makhluk yang berdiam dalam air yang akan diminumnya tersebut.
Jika saja semua makhluk, khususnya manusia Indonesia, mengerti dan menerapkan Cinta-Kasih universal yang demikian luhurnya ini ( bukan cinta-kasih yang sempit, cinta kasih sebangsa-setanah air saja, atau persaudaraan cinta-kasih ummat seiman / seagama, atau bahkan cinta-kasih bagi manusia saja, tapi cinta kasih universal,yaitu bagi seluruh makhluk semesta ) , maka tidak akan pernah lagi ada ‘bahaya’, tidak akan pernah lagi ada makhluk hidup yang harus merasa tidak aman dan tidak-tenteram, merasa terancam jiwanya, hak hidupnya, tidak akan pernah lagi ada ketakutan, tidak akan pernah lagi ada peperangan, pertumpahan darah, perampokan, pencurian, pemerkosaan, dan berbagai tindak criminal lainnya.
Semoga, semua makhluk, manusia Indonesia khususnya, yang membaca wacana ini, terbebas dari kegelapan batin, pandangan salah yang menyesatkan, menuju pemahaman baru akan pentingnya Cinta-Kasih bagi terciptanya kehidupan damai antara makhluk-makhluk di seluruh penjuru alam semesta. Semoga tidak ada lagi dalil-dalil pembenaran terhadap tindak kekerasan, semoga jika saja masih ada dalil tersebut, semua makhluk segera mengerti, bahwa itu adalah dalil yang tidak-benar, tidak-baik, tidak-luhur. Semoga sejarah hidup manusia tidak lagi dipenuhi dengan cerita-cerita ‘hebat’ penaklukan nenek-moyang mereka terhadap suatu bangsa, atau ‘hebat’nya pemimpin agama mereka menaklukkan suatu bangsa-manusia yang menganut ajaran agama yang dianggap ‘sesat’ karena berbeda dengan ajaran yang dianutnya, semoga sejarah manusia dan semua makhluk tidak lagi diwarnai peperangan, pertumpahan-darah, tetapi, semoga, sebagai gantinya, sejak saat ini yang ada hanyalah sejarah alam-semesta yang penuh damai dan cinta-kasih.
Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari segala bentuk penderitaan, baik penderitaan didalam batinnya ( iri , dengki, kemarahan, kebencian, dendam, tidak menyukai keberhasilan makhluk lainnya mencapai cita-cita dan ataupun kesejahteraannya, tidak menyukai para pemikir yang mempunyai sudut pandang berbeda, sehingga mengambil tindakan kekerasan terhadapnya, , dan lain-lain ), maupun penderitaan jasmaninya ( segala bentuk sakit-penyakit jasmaniah ).
Salam Damai dan Penuh Cinta Kasih… .
Dikutip dari blog penulisnya :
– RATNA KUMARA / RATANA KUMARO / RATYA MARDIKA –
Semarang-Barat, Minggu, 13 Juli 2008.




sadhu! sadhu! sadhu! anumodhana atas penulisan saudara/saudari.
dr teman dhamma mu di seberang
CY : Kiranya saudara berbahagia selalu dan terlepas dari semua bentuk penderitaan…
Dear Ko CY,
Salam Hormat untuk Anda,
Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
Terima kasih ya Ko, sudah upload tulisan ini disini, sungguh suatu kehormatan… .
Salam Damai dan Cinta Kasih,
“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”
( Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!)
CY : Terimakasih juga utk ijinnya bro, dapat berbagi informasi antar sesama manusia adalah salah satu bentuk kebahagiaan bagi saya… sadhu… sadhu… sadhu…
:Kutipan…………………………………
Tidak ada kekerasan, penyiksaan, atau fanatisme yang berperan dalam agama Buddha. Tidak ada setetes darahpun yang telah dicucurkan atas nama pembabaran Dhamma Sang Buddha, tidak ada panglima perang, atau Raja Diraja yang Kuat-Perkasa dan Berkuasa yang telah menggunakan pedang dan segala kekuatan tempurnya yang sangat ampuh untuk menyebarkan Dhamma, ‘meluruskan’ penganut agama-agama diluar ajaran Sang Buddha, tidak ada penghakiman ‘kafir’ / ‘iblis’ bagi penganut agama diluar agama Buddha.
……………………………..
Di sini saya coba tambahkan tentang Tragedi Peristiwa Bamiyan, di mana kaum Iconoclast dalam hal ini kaum biadab taliban melakukan tindakan paling tidak terpuji dalam dunia budaya dan toleransi beragama.
Tindakan biadab di lakukan maret 2001, dalam jangka waktu relatif singkat yakni sekitar oktober 2001 , kaum taliban menuai karma buruk berupa di bombardir pihak AS.
Manakala alam murka , maka karma buruk akan di dapat secara instan dan dahsyat.
Sekali lagi kaum Iconoclast selayaknya mendapat hukuman yang setimpal