Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2010

Balada di Samsat

Baru-baru ini motor tua saya tiba waktunya utk diperpanjang STNKnya. Sebab waktu beli masih nama orang lain, maka di wajibkan untuk balik nama dan sekalian mengganti BPKB-nya dgn yg baru. Seperti biasa proses berjalan hingga tiba saatnya STNK sdh bisa diambil dan BPKB sebulan kemudian baru bisa selesai.

Saat meneliti STNK ternyata ada 3 huruf dari nomor rangka yg tidak tercetak di sana. Oleh petugas di Samsat diinformasikan akan dikoreksi saat pengambilan BPKB.  Saya punya insting (dan biasanya 80% akurat),  jangan-jangan BPKB pun bakal terjadi kesalahan cetak di bagian nomor rangka-nya.  Sebab itu saya sekalian mengingatkan bapak Polisi yg bertugas di bagian tersebut agar jangan terjadi kesalahan juga di BPKB (dan ternyata peringatan tersebut percuma saja).

Saat pengambilan BPKB sebulan kemudian ternyata firasat saya benar. Nomor rangka di STNK kurang 3 huruf sedangkan yg di BPKB kurang 1 nol. Gemes sekali rasanya melihat kinerja petugas2 Samsat tersebut. Pantaslah negara ini sering dihina saudara serumpunnya Malaysia (lho kok jadi ke sana arahnya, hihihi…)

Sebagai umat Buddhis yg baik dan sekaligus ras yg sudah menjadi rahasia umum di negara ini sebagai “layak di peras karena terlahir dgn image kaya (atau bakal kaya dan sebagainya)”, saya mencoba mengurus sendiri lagi koreksi kesalahan tsb karena di sana saya lihat poster bertuliskan “CALO ?  NO WAY!!”

Hari pertama mengurus koreksi kesalahan STNK dan BPKB.

Di pagi hari yg cerah (kalau tak mau dibilang panas menyengat) saya pergi ke Samsat. Saya mendatangi dan bertanya pada Customer Service yg cakep dan manis serta putih berambut panjang (halah…) lalu diarahkan ke loket bagian BPKB. Setelah bersopan-santun sejenak saya sodorkan BPKB yg kurang nol-nya tsb. Pak polisi berseragam yg duduk di sana menelitinya kemudian meminta saya datang kembali jam 12 siang hari karena sekarang sedang ramai.

Daripada menunggu siang hari sekalian saja saya uruskan dulu koreksi yg STNK. Saya beranjak ke loket STNK lalu di arahkan oleh ibu Polwan disana ke lantai 2 bagian “filing STNK” melalui pintu yg ada secure code nya, dan harus menunggu org yg dari dalam mau keluar barulah saya bisa masuk.

Sampai di lantai 2 langsung saya cari bagian Filing STNK.

“Oh, bukan di sini pak. Untuk koreksi harus ke bagian Komputer.”

Saya pun beranjak ke bagian komputer yg pintunya terbuka sedikit. “Oh, kalo yg ini ke bagian STNK di loket bawah”, jawab bapak2 yg duduk di sana dgn ramah.

Dengan jidat yg mulai lembab saya turun kembali ke lantai dasar ke loket STNK. Di loket STNK saya informasikan pada ibu Polwan yg tadi bahwa dari atas diminta ke loket STNK utk koreksi.

“Coba kamu berikan pada CS (Customer Service) yg baju biru disana supaya STNKnya dibawa ke ruang pengetikan utk dikoreksi. “

Dengan patuh saya berjalan ke meja Customer Service yg cakep dan manis serta putih berambut panjang tadi.

“Oh, ini di loket ujung sana pak. Yang dekat pembelian formulir utk masukin STNK.”  Saya ditunjukin loket di ujung yg berlawanan dgn loket STNK tadi.

“Tapi ibu Polwan tadi minta saya ke CS supaya dibawa ke ruang pengetikan, bukan ke loket ujung sana” jawab saya.

“Kami hanya mengarahkan pak, tidak ikut membawa.”

Ya sudah, krn CS masih terlihat manis dan menggemaskan saya mengalah saja. Saya pergi ke loket ujung. Sudah saya duga pasti saya akan di “tendang” lagi ke tempat “antah berantah” tak jelas.  Saya di minta masuk kembali ke ruangan yg ada secure code-nya. Tapi kali ini ternyata di beri fasilitas kawalan oleh petugas polisi yg baik hati dan cakep (buaangett…) agar tidak tersesat lagi seperti bola. Dan sampailah di tempat yg benar.

Setelah menunggu 10 menit, STNK selesai dikoreksi. Ternyata hanya ditambahin 3 huruf di depan nomor rangka.

“Lho, bukannya diganti dgn STNK baru pak?” Saya bertanya.

“Oh bukan pak, kalo ganti STNK mesti beli formulir lagi di loket luar.”

Dalam hati saya berpikir,” Bukannya ini kesalahan kalian, masa saya yg harus beli formulir lagi keluar biaya dan waktu??”

Namun saya memilih tidak ngotot, karena menang atau kalah tetap Samsat yg menang, ngabisin waktu dan energi saja kalo ngotot minta gratis (betulkan pemirsa??). Maka utk meyakinkan legalitasnya saya minta tambah cap dari kepolisian. Dalam hati saya berpikir, “Okelah, nanti 5 tahun kemudian kan diganti lagi STNK dgn yg baru, dan saat itu mudah2an tidak salah ketik lagi.”

Pffff…….,  urusan STNK selesai.

Dan waktu-pun menunjukkan pukul 12 siang. Saya kembali ke loket BPKB.

“Besok sudah bisa diambil ya pak, krn besok jumat maka ambilnya kira2 jam 14.oo” begitu jawaban dari petugas.

Keesokan harinya saya mampir di Samsat tepat pukul 14.oo.  Customer Service yg cakep dan manis serta putih berambut panjang yg semalam sudah tak kelihatan di tempat. Sedang istirahat mungkin. Hampir semua loket kosong, syukurlah masih ada orang di loket BPKB.

Dalam hati saya berpikir,”Masa jumatan sampe jam segini belum masuk?”

Setelah bersopan-santun saya bertanya, dan ternyata BPKB sdh selesai di koreksi.  Koreksinya hanya dihapus bagian yg salah dgn penghapus bolpen lalu di print ulang. Serta terlihat kasar dan bisa jadi di kemudian hari saya yg dituduh mengobok2 BPKB tersebut.

“Koreksinya hanya begini ya mbak? Ga ada cap atau apa gitu yg menyatakan bahwa ini koreksi dari pihak Samsat?” saya bertanya heran.

“Memang seperti itu pak,”

“Wah, kalo begini saat saya mau jual kan pembeli jadi sangsi. Jangan2 saya dikira sindikat pencuri motor yg bikin BPKB palsu.”

“Ga mungkinlah pak, minta aja pembelinya cek ke sini.”

“Jiaaahh… mbak, yg namanya pembeli mana mau ribet2 gitu. Melihat gitu aja udah batal.  Lha kalo suatu hari saat saya perpanjangan STNK di sini terus ditanya kenapa saudara mengubah2 sendiri buku BPKB ini, gimana mau saya jawab?”

“Ya ga mungkinlah pak kami bertanya spt itu krn kami yg koreksi.”

“Mungkin saja mbak, kan tahun2 mendatang bisa saja petugas di sini pindah ke jabatan lain diganti dgn petugas baru”, jawab saya mulai gemes.

“Ini software samsat-nya khusus pak, printer dan hurufnya beda sendiri jadi tak bisa ditiru”, seorang petugas lain yg kebetulan datang ikut menimpali.

“Ya Pak kan ga mungkin tipe printer spt ini tak ada di pasaran dan cuman dibuat khusus utk Samsat.”  Saya yg background IT dan sehari2 berurusan dgn hardware dan software IT merasa spt dipecundangi anak kecil dgn jawaban spt itu.

“Ya namanya juga manusia pak, bisa salah ketik krn yg dikerjakan juga beribu-ribu buku.” kata petugas Samsat tsb minta pemakluman.

Dalam hati saya berpikir,”Memang betul manusia tak luput dari salah, tapi kalo sdh sadar salah ya diganti dong semuanya dgn buku BPKB yg baru tanpa biaya dan dgn pelayanan yg maksimal.  Ini mau minta cap pertanda sah (bahwa itu koreksi dari Samsat) saja tak bisa.”

“Ini software khusus yg dibuat utk Samsat pak. Jadi tak ada yg bisa sama tulisannya.” petugas yg wanita mencoba meyakinkan.

Ya sudahlah, sayapun pasrah dan berjalan pulang.

Mudah2an di reinkarnasi berikutnya saya tak terlahir lagi di negara seperti ini.

Read Full Post »