Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Meditasi’ Category

Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang baik dan cinta damai. Masyarakat pada kerajaan tersebut saling menyayangi seperti satu keluarga besar. Mereka semua menghormati raja dan menjulukinya Raja Abadi.

Nama besar Raja Abadi tersebar sampai ke seluruh pelosok. Namun, reputasinya membuat raja tetangga yang memerintah iri hati. Raja tetangga ini memutuskan untuk berperang melawan Raja Abadi serta menaklukkan kerajaannya.
 
Ketika berita tersebut sampai ke istana Raja Abadi, para menteri menasehatinya untuk mempersiapkan perang sebaik-baiknya, tetapi raja menentangnya, “Perang itu kejam. Pihak mana pun yang menang, banyak orang yang akan benar-benar menderita dan tewas. Jika kita berperang dengan kerajaan tetangga, kerajaan kita akan jadi porak-poranda dan akan timbul kebencian yang tidak ada habis-habisnya. Saya akan turun takhta sebagai pertukaran untuk kehidupan yang damai bagi rakyatku.”

Dengan mengabaikan protes dari para menteri, raja dan puteranya, sang putra mahkota, pergi ke daerah pegunungan yang jauh dan menjalani hidup yang terpencil. Kemudian raja yang baru mengambil alih kerajaan tersebut tanpa perlawanan sedikit pun. Namun ia tetap merasa takut kalau sewaktu-waktu Raja Abadi akan kembali untuk merebut kerajaannya. Untuk mencegah hal tersebut , ia mengumumkan bahwa ia akan bermurah hati memberi hadiah kepada siapa pun yang dapat menangkap Raja Abadi.

Pada suatu hari, raja abadi berjumpa dengan pengembara yang sedang beristirahat di bawah pohon. Lalu ia bertanya kepada pengembara itu, “Kamu kelihatan sangat kurus dan lelah. Dari mana asalmu?” “Saya berasal dari negara yang sangat jauh, Saya sedang tertimbun dengan hutang dan tidak punya cara untuk membiayai isteri dan anak saya. Saya mendengar Raja Abadi adalah seorang yang murah hati, oleh sebab itu saya datang kemari untuk meminta pertolongannya,” jawab pengembara itu.

“Saya adalah orang yang kamu cari. Saya turut prihatin kepadamu yang sedang dalam situasi yang buruk, tapi saya kuatir tidak dapat membantumu lagi,” kata Raja Abadi. Mendengar pengakuan ini, pengembara tersebut berbicara sambil menangis, “Jika saya tidak dapat melunasi hutang saya, saya pasti akan dibunuh saat pulang ke rumah, dan isteri serta anak saya akan mati kelaparan. Apa yang harus saya perbuat?”

Iba dengan perkataan pria tersebut, Raja Abadi menghiburnya, “Janganlah berputus asa. Saya mendengar raja yang baru telah berjanji untuk memberi hadiah yang luar biasa bagi siapa pun yang dapat menangkap saya. Cukup serahkan saya saja dan kamu akan menjadi kaya raya.”

“Saya tidak tega melakukan itu. Kamu adalah orang yang sangat baik,” kata pengembara terkejut.

“Saya pernah bersumpah saya akan melakukan yang terbaik untuk menolong siapa pun yang sedang membutuhkan. Karena raja baru menginginkan saya, biarlah saya menggunakan yang terbaik dari sisa hidup saya dan membantumu melunasi hutang-hutangmu,” bujuk Raja Abadi.

Dengan segan, pengembara mengikat Raja Abadi dan membawanya ke istana. Ketika putera mahkota mendengar tentang hal itu, dengan tergesa-gesa ia menuju ke istana, namun ayahnya sudah dibawa ke tempat eksekusi. Pesan terakhir Raja Abadi, “Sudah menjadi kewajiban kita untuk bermurah hati dan memperhatikan sesama. Kita tidak boleh membiarkan kesulitan-kesulitan atau kesengsaraan mengubah cara kita memperlakukan orang.”
 
  Sang putera mahkota tahu pesan-pesan tersebut ditujukan padanya. Ia juga tahu kalau ayahnya tidak menginginkannya membalas dendam atas kematiannya, tapi hatinya dipenuhi rasa pedih. “Ayah saya telah dibunuh. Bagaimana mungkin saya dapat hidup dengan tenang mulai saat ini? Saya harus membalas dendam,” tekad putera mahkota.
 
Ia kembali ke kota, tempat ia tinggal dengan menyamar di rumah rakyat biasa. Putera mahkota membantu pemilik rumah menanam sayur-sayuran. Ia sangat mencurahkan perhatiannya saat menaman sayur-sayuran tersebut, dan sayur-sayurannya tumbuh dengan subur. Ketika seorang menteri dari pengadilan kerajaan menyantap sayur-sayuran yang dihasilkan putera mahkota, ia sangat memujinya dan meminta putera mahkota untuk menyiapkan santapan untuk raja yang baru.

Raja sangat menikmati santapan tersebut, sehingga ia memutuskan untuk mempekerjakan putera mahkota yang masih muda ini untuk dirinya. Berangsur-angsur putera mahkota muda tersebut mendapat kepercayaan raja dan menjadi pengawalnya.

Suatu hari raja dan rombongannya pergi berburu ke pegunungan-pegunungan. Ia bersama sang putera mahkota terpisah dari rombongan lainnya dan tersesat. Setelah mengembara di pegunungan berhari-hari lamanya, raja kelelahan dan kelaparan. Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Ia mempercayakan pedangnya kepada sang putera mahkota dan tertidur lelap. Kepala raja bersandar pada pangkuan putera mahkota muda.

Inilah kesempatan amat baik untuk membalas dendam atas ayahnya! Tapi sang putera mahkota ragu-ragu. Hatinya berkata, “Sewaktu ayah masih hidup, ia selalu mengajarkan saya untuk mengasihi dan menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Meskipun raja yang baru tamak dan tidak berperikemanusiaan, melihatnya tertidur lelap di pangkuanku, ia tampak seperti ayahku sendiri. Lagipula, ia adalah ayah dari seseorang juga.”

Raja baru dengan bergegas terbangun. Ia berkata bahwa telah bermimpi kalau Raja Abadi dan putera mahkotanya sedang berusaha membunuhnya. “Meskipun ia seorang raja, ia masih tidak dapat tidur dengan lelap,” sang putera mahkota merenung sendiri, “Ia pasti benar-benar sudah dikuasai oleh rasa takut.” Putera mahkota tiba-tiba merasa iba terhadap raja tersebut. Ia berkata kepada raja, “Tidurlah kembali. Saya di sini untuk melindungimu. Kamu tidak perlu takut.”

Setelah tidur kembali, seketika raja terbangun kembali. “Saya bermimpi tentang sang puter mahkota lagi, dan ia mengatakan tidak akan memaafkan saya.” Ia bangun perlahan-lahan dan mulai bercerita, “Semenjak saya menyerbu kerajaan ini dan membunuh Raja Abadi, saya tidak melewati hari yang tenang. Seakan-akan saya hidup dalam neraka, terus-menerus disiksa oleh rasa takut dan kepedihan yang mendalam. Betapa menyesalnya saya atas apa yang telah saya perbuat.”

Sang putera mahkota dapat merasakan bahwa raja tersebut benar-benar menyesal. “Janganlah takut. Saya adalah putera mahkota yang kamu takuti. Saya harus mengakui bahwa saya berniat membunuhmu sewaktu kamu sedang tertidur. Tapi saya teringat ayah saya dan bagaimana ia selalu mengajarkan saya untuk melayani sesama dengan kebaikan. Saya tidak mau mencemarkan namanya, sehingga saya putuskan untuk melupakan semua dendam.”

Raja sangat terharu mendengar apa yang dikatakan putera mahkota, “Terima kasih banyak telah memaafkan saya. Saya tidak dapat mengungkapkan rasa terima kasih saya kepadamu, tapi saat ini kita berdua tersesat di dalam hutan. Jika kita tidak dapat keluar dari sini dengan segera, kita pasti akan tewas.”

Sang putera mahkota tertawa dan berkata, “Kita tidak tersesat. Saya dengan sengaja mengarahkanmu menjauh dari yang lainnya. Sekarang saya akan mengeluarkanmu dari hutan.”

Sewaku raja kembali ke istana, ia memanggil seluruh menteri-menterinya. Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada sang pangeran, ia mengumumkan bahwa ia akan mengembalikan seluruh kerajaan kepadanya. Melihat betapa baiknya dan murah hatinya sang putera mahkota, menteri-menteri bersuka cita mengelu-elukannya raja.

———————————————————-

Pesan Master Cheng Yen:

Kebaikan dan kejahatan hanyalah memiliki batas yang tipis. Meskipun sang putera mahkota menghormati ayahnya dan selalu mengingat pesan orangtua tersebut dalam pikirannya, namun ia tetap merasa sulit untuk memaafkan orang yang telah membunuh ayahnya. Untungnya, ia menemukan kekuatan pada kebaikan dan rasa menyayangi yang telah dicontohkan oleh ayahnya, hingga akhirnya ia mampu memaafkan dan melupakan dendamnya.

Pada umumnya orang sulit untuk menenangkan pikiran. Sewaktu hal-hal buruk terjadi padanya, kebajikan dan maksud-maksud baik hilang dari pikirannya. Sikap mereka menjadi aneh dan mereka menyimpang dari jalan yang benar. Oleh karenanya, sangatlah penting bagi kita untuk menjaga pikiran kita dan menghindari pikiran-pikiran buruk sehingga kita dapat kembali pada sifat dasar yang murni dan tetap pada jalan yang benar.

Iklan

Read Full Post »

Saya mohon maaf kalau ada tulisan-tulisan saya sebelumnya yang kesannya surga dan Nirwana adalah sama. Padahal kenyataannya, sesuai ajaran Buddha Nirwana itu sangat berbeda dengan Surga. Surga itu sendiri berasal dari kosa kata Sanskerta. Bahkan kata “Santo” dalam kamus nasranipun berasal dari kata Sanskerta. Santo, akar katanya “Santah” penggunaannya : Santo yang artinya pemuja Tuhan, pengabdi Tuhan. Kata Santo banyak dijumpai dalam kitab Bhagavad-Gita (lho koq jadi ngebahas Santo?? hehehe…). Sedangkan surga, disebut sebagai Swarga Loka. Swarga Loka adalah alam yang membahagiakan tempat tinggal para Dewa, dalam agama Samawi mungkin menyebutnya “malaikat” .  Sedangkan Nirvana tidak berada didalam ke 31 alam kehidupan, termasuk dalam alam surga tertinggi sekalipun. (lebih…)

Read Full Post »

Aku Cinta Padamu

Walau seribu pemuka agama melarang
mengucapkan cinta di hari kasih sayang
aku tetap akan berdiri tegak menantang
kuucapkan cinta padamu dgn airmata menggenang

aku akan berlutut mengecup wajahmu
aku akan memeluk mesra tubuhmu
ingin kubasuh luka dalam hidupmu
ingin kubunuh siapapun yg berani mengotorimu

Walaupun hari valentine sudah berlalu
belum terlambat rasanya bagiku
mengucapkan kata cinta dgn menggebu2
AKU CINTA PADAMU INDONESIAKU…

 

Kecup mesra dari CY utk Ibu Pertiwi
I Love You in my past, present, and future live

Read Full Post »

Pasangan Roh (Soulmate)

Peringatan !!

Postingan ini merupakan cuplikan dari buku “Journey of Souls” Michael Newton Phd. Ttg contoh kasus org2 yg menemukan pasangan hidup mereka berdasarkan petunjuk2 khas yg sudah disiapkan bahkan sebelum roh turun menghuni tubuh fisik. Jadi…, bagi yg takut setelah baca jadi terhipnotis, menjadi sesat, atau terancam dibakar dlm eternal flame dianjurkan utk tidak melanjutkan.  :mrgreen:

Dan… bila sakit berlanjut jgn segan menghubungi puskesmas terdekat. *halah..*

Pasangan roh adalah teman yg dirancang utk membantu anda dan diri sendiri guna meraih sasaran yg saling menguntungkan, yg paling baik diraih dgn cara saling mendukung dalam berbagai situasi.

(lebih…)

Read Full Post »

Masih Adakah?

Saat menonton potongan percakapan Steven Seagall dgn Kelly LeBrock dlm “Hard to Kill” semalam, teringat kata2 sensei saat pertama masuk INKAI dulu.

“Melukai seseorang itu gampang sekali, yg sangat sulit adalah menyembuhkannya”

(lebih…)

Read Full Post »

Saya pernah merenungkan kenapa ada agama2 berbeda di muka bumi. Tiba2 terlintas ide bahwa itu memang strategi Tuhan, bukan strategi agar ciptaanNya saling bunuh…, sabarrr…. dgr dulu saya, jgn protes dulu. (lebih…)

Read Full Post »

Reinkarnasi, Benarkah?

Hal2 yg berbau mitos sering menjadi daya tarik tersendiri bagi kita kaum manusia, ada apa sebenarnya? Terutama ttg reinkarnasi, yg kebenarannya sering jadi perdebatan. Tanda tanya besar mengapa hampir semua manusia punya rasa ingin tau ttg hal satu ini, rasa penasaran yg tak habis-habisnya? Persentase jumlah org yg ingin tau ttg kehidupan sebelumnya ini bahkan hampir menyamai persentase jumlah org yg  “takut mati” atau setidaknya keder bila dihadapkan dgn kematian yg normal (krn usia) apalagi kalau yg gak normal. 

Mungkin rasa ingin tau ttg kehidupan lalu dan rasa takut mati itu adalah normal, memang manusia diciptakan dgn dibekali dua hal tersebut, masalahnya bagaimana kita menggunakan akal kita utk mencari tau kebenarannya.

Saat Dalai lama ke-13 meninggal, Lama senior mencari tanda2 kemana dia bereinkarnasi berikutnya. Setiap Dalai Lama sejak berabad2 yg lalu sejak kelahiran yg pertama di 1351 AD mengikuti jalur proses yg sama, yg baru adalah inkarnasi dari yg sebelumnya. Mempertahankan setiap kebijaksanaan spiritual yg diperoleh dari setiap kehidupannya.

Mari kita ikuti ceritanya …
(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »