Artikel tentang Meditasi ini dibagi dalam 3 bagian. Semoga sahabat sekalian cukup rajin untuk menyimaknya sampai habis. Artikel ini saya kutip dan terjemahkan dari Situs http://www.jhanagrove.org.au/meditation.html
ditulis oleh Ajahn Brahm.
1.Perhatian terus menerus pada keadaan sekarang
“Tujuan dari meditasi ini adalah keheningan yg indah, dan kejernihan pikiran.”
Meditasi adalah jalan mendapatkan pelepasan. Dalam meditasi seseorang melepaskan kerumitan2 duniawi dengan tujuan mencapai kondisi yg tenang tenteram di dalam diri. Dalam semua tipe ilmu kebatinan dan tradisi, ini dikenal sebagai jalan setapak menuju pikiran yg murni dan kuat. Pengalaman pikiran murni, terlepas dari duniawi, adalah sangat luarbiasa dan bahagia. Sering dalam meditasi diperlukan usaha keras pada awalnya, tapi dgn punya keinginan bertahan dalam kerja keras tersebut dgn mengetahui akan membawa kita menuju pengalaman memasuki kondisi yg sangat indah dan penuh arti. Akan sepadan dgn kerja keras kita. Sudah hukum alam bahwa tanpa usaha maka tak akan mendapat hasil. Tak perduli orang biasa atau biksu, tanpa usaha tak akan kemana2 baik itu dlm meditasi ataupun hal lain.
Hanya usaha saja tentu tidak cukup. Usaha perlu dilakukan dgn keahlian. Artinya mengarahkan energi anda di tempat yg tepat dan mempertahankannya disana sampai tugas selesai. Usaha yg disertai keahlian tak akan mengganggu anda, melainkan menghasilkan kedamaian yg indah di kedalaman meditasi. Dalam rangka mengetahui kemana usaha anda akan diarahkan, mesti punya pemahaman yg jelas ttg sasaran utama dari meditasi. Sasaran meditasi ini adalah keheningan yg indah, penghentian dan kejernihan pikiran. Jika bisa mengerti sasaran tersebut maka tempat utk meletakkan usaha anda, atau bisa diartikan mencapai sasarannya, akan menjadi sangat jelas.
Usaha tsb. Di arahkan ke membiarkan, utk mengembangkan pikiran yg cenderung menuju pelepasan. Satu dari sekian banyak sabda yg sederhana tapi sangat bermanfaat dari Guru Agung Buddha adalah “Meditator yg pikirannya cenderung menuju pelepasan gampang utk mencapai Samadhi”. Meditator yg demikian hampir otomatis memperoleh kondisi kebahagiaan di dalam. Sabda Sang Buddha menjelaskan bahwa penyebab utama untuk mencapai meditasi yg dalam sehingga mencapai kondisi yg kuat adalah kemauan utk melepaskan, merelakan dan meninggalkan. Selama meditasi, kita tak boleh mengembangkan pikiran yg memegang pada suatu hal, melainkan kita mengembangkan pikiran yg mau utk melepaskan kemelekatan akan hal-hal, melepaskan beban. Diluar meditasi kita harus membawa beban dari banyak tugas-tugas kita, seperti begitu banyak kopor yg berat, tapi waktu meditasi tak perlu begitu banyak kopor yg dibawa. Jadi, dalam meditasi dilihat berapa banyak bawaan yg bisa kita tinggalkan. Pikirkan hal2 tersebut sebagai beban kelas berat yg menekan anda. Lalu anda harus punya sikap yg tepat utk meninggalkan benda2 tersebut, melepaskan mereka dengan bebas tanpa melihat lagi kebelakang. Kemauan, sikap, pergerakan pikiran seperti ini yg menuju kepada penyerahan, inilah yang akan menuntun anda ke dalam meditasi yg dalam. Walau selama tahap awal meditasi, coba apakah anda dapat menghasilkan energi pelepasan dari kemelekatan, kemauan utk melepaskan hal-hal sejauhnya, dan sedikit demi sedikit sikap pasrah akan muncul. Saat anda membuang sejauh2nya hal2 di pikiran maka akan terasa lebih ringan, tanpa beban dan bebas. Dalam cara meditasi, pelepasan hal-hal ini akan muncul dalam tahapannya langkah demi langkah.
Anda boleh melalui tahap inisialisasi awal dengan cepat jika memang diinginkan, tapi berhati-hati bila melakukannya. Terkadang, ketika melalui tahap awal terlalu cepat, anda akan temukan bahwa persiapannya belum lengkap. Seperti membangun ruko dengan fondasi yg lemah. Strukturnya akan naik dengan cepat, namun turunnya juga cepat. Jadi lebih bijaksana menghabiskan lebih banyak waktu di fondasinya, membangun dasar yg kokoh dan stabil. Sehingga saat beralih ke tahapan lebih tinggi, yaitu kondisi meditasi yg membahagiakan, maka akan stabil dan kokoh juga. Setiap mengajarkan meditasi, saya suka mulai dari tahap yg paling sederhana yaitu melepaskan semua bawaan dari masa lalu dan masa depan. Anda boleh berpikir ini hal yang mudah dilakukan, terlalu mendasar. Namun bila anda memberi kemauan penuh dalam hal ini, tidak mendahului ke tahap meditasi yang lebih tinggi sampai tercapai sasaran mempertahankan perhatian pada saat sekarang, ke depannya anda akan temui bahwa anda telah membentuk fondasi yang sangat kokoh untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Membuang masa lalu artinya tidak memikirkan pekerjaanmu, keluargamu, komitmenmu, tanggung jawabmu, sejarahmu, saat2 buruk atau indah di masa kecil.., anda melepaskan semua pengalaman masa lalu dengan menunjukkan ketidak tertarikan pada hal-hal itu. Anda menjadi seseorang yg tanpa sejarah selama waktu meditasi. Bahkan tidak terpikir anda datang darimana, lahir dimana, siapa orangtua dan latar belakang pendidikan anda. Semua sejarah itu dilepaskan dulu dalam meditasi. Dengan cara ini, semua org yg ada dalam retreat meditasi menjadi sama, hanya seorang meditator. Menjadi tak penting sudah berapa tahun anda bermeditasi, seorang pakar atau pemula. Jika anda melepaskan semua sejarah maka kita semua akan menjadi sama dan bebas. Kita membebaskan diri dari perhatian2 ini, persepsi dan pikiran yg membatasi kita dan menghambat kita mengembangkan kedamaian dalam pelepasan. Jadi tiap bagian dari sejarahmu biarkan lepas, bahkan sejarah ttg apa yg dialami selama retreat, bahkan ingatan akan hal yg baru terjadi bbrp saat lalu. Dengan cara ini, anda tidak membawa beban dari masa lalu ke masa sekarang. Apapun yg baru terjadi anda tak tertarik lagi dan anda lepaskan. Tidak mengijinkan masa lalu berkumandang dalam pikiranmu.
Ada orang bilang masa lalu dapat dijadikan pelajaran untuk menemukan solusi. Namun, anda harus paham disaat menatap pada masa lalu anda melihat melalui lensa yg terdistorsi (kotor). Apa yg anda pikirkan, dalam kenyataannya tidak seperti yg anda pikir. Itu sebabnya orang2 berdebat tentang apa yg sebenarnya terjadi, walaupun baru bbrp saat lalu. Sering terjadi saat polisi menyelidiki kecelakaan lalu lintas yg walau baru terjadi setengah jam lalu, dua saksi mata yang berbeda, dua-duanya jujur, akan memberikan kesaksian yg berbeda. Ingatan kita tak cukup layak dipercaya. Jika anda sadar betapa tak bisa diandalkannya ingatan kita, maka anda tak akan menghargai pemikiran akan masa lalu. Lalu boleh anda lepaskan. Boleh anda kuburkan, seperti mengubur orang yang telah meninggal. Letakkan dalam peti mati dan kuburkan, atau di kremasi, lalu selesai sudah. Jangan bergantung ke masa lalu. Jangan dibawa lagi petimati kejadian2 lalu di kepala anda. Kalau masih dilakukan hanya memperberat diri sendiri dengan beban yg tak seharusnya untuk anda. Biarkan masa lalu pergi dan anda akan mampu terbebas di saat sekarang.
Demikian juga dgn masa depan, antisipasinya, ketakutan2nya, rencana2nya, dan pengharapan2, biarkan semua itu lepas. Sang Buddha pernah bersabda tentang masa depan, “Apapun yg engkau pikir akan terjadi, selalu akan berbeda dengan yg engkau pikir. Bagi yg bijak masa depan adalah tak pasti, tak diketahui dan tak bisa ditebak. Cukup bodoh rasanya untuk mengantisipasi masa depan, dan senantiasa memboroskan waktu utk memikirkan masa depan dalam meditasi. Saat anda bekerja dgn pikiran, anda akan temukan bahwa pikiran itu aneh. Ia bisa melakukan hal2 yg ajaib dan tak terduga. Sangat umum bagi meditator yg mengalami saat2 sulit mencapai kedamaian, duduk sambil berpikir, “Lagi-lagi jam-jam penuh frustasi”. Walau mereka mulai berpikir spt itu, antisipasi kegagalan, hal yg aneh muncul dan mereka masuk ke dalam meditasi yg damai.
Baru2 ini terdengar seseorang dalam 10 hari pertama retreat-nya. Setelah hari pertama tubuhnya ngilu disana-sini dan ingin pulang. Gurunya berkata,”Tinggallah sehari lagi dan rasa sakit akan menghilang, saya jamin.” Maka dia tinggal sehari lagi, rasa sakit bertambah parah sehingga ingin pulang lagi. Gurunya mengulangi,”Sehari lagi rasa sakit akan hilang”. Dia tinggal sampai hari ketiga dan rasa sakit bertambah parah. Selama sembilan hari, saat sore dia menghadap gurunya dengan penuh kesakitan, minta pulang dan gurunya akan berkata,” Sehari lagi rasa sakitnya akan hilang,” Sungguh diluar dugaan dia, di hari terakhir saat dia mulai duduk pertama kali utk pagi itu, rasa sakitnya hilang! Dan tidak kembali lagi. Dia bisa duduk cukup lama tanpa rasa sakit lagi. Dia sangat takjub akan keajaiban pikiran dan bagaimana pikiran bisa menghasilkan sesuatu yg tak terduga. Jadi anda tidak tau akan masa depan, bisa jadi masa depan itu aneh dan sama sekali diluar dugaan. Pengalaman seperti ini memberi anda kebijaksanaan dan keberanian membatalkan semua pikiran tentang masa depan dan semua dugaan.
Saat anda meditasi dan berpikir,”Berapa menit lagi harus dijalani?” Berapa lama lagi harus kutahan ini?” itu pertanda anda mengembara lagi ke masa depan. Rasa sakit mungkin hilang dalam beberapa saat. Saat berikutnya mungkin kebebasan. Anda tidak bisa mengantisipasi apa yg akan terjadi. Saat dalam retreat, setelah bermeditasi dalam banyak sesi, anda mungkin berpikir tak ada satupun sesi yg cukup bagus meditasinya. Di sesi meditasi berikutnya anda duduk dan semuanya menjadi penuh kedamaian dan mudah. Anda berpikir “Wow! Sekarang saya bisa meditasi!” Tapi yg berikutnya kembali jelek. Apa yg terjadi ?” Guru meditasi pertama saya memberitahu sesuatu yg terdengar agak aneh. Kata dia tak ada meditasi yg buruk. Dia benar. Semua meditasi yang anda sebut buruk, frustasi dan tidak memenuhi harapan anda, semua meditasi itu adalah saat anda berusaha keras untuk “gaji” yg akan anda terima.
Seperti seseorang yg pergi bekerja sepanjang hari Senin dan tak mendapat uang di penghujung hari tersebut. “Untuk apa saya lakukan ini?”, pikirnya. Dia bekerja sepanjang Selasa dan kembali tak mendapat apapun. Satu lagi hari yg buruk. Sepanjang Rabu, sepanjang Kamis, dan masih tak ada hasil dari kerja kerasnya. Empat hari yg buruk berturut-turut. Kemudian datanglah Jumat, dia melakukan kerjaan yang sama dan di penghujung hari itu boss memberi dia bayaran. “Wow! Kenapa tak setiap hari menjadi hari gajian?!”
Kenapa tak setiap meditasi menjadi hari gajian?” Sekarang pahamkah anda persamaannya? Dalam meditasi yg sulitlah anda membangun prestasi anda, dimana anda membangun penyebab kesuksesan. Sembari berusaha mencapai kedamaian dalam meditasi yg sulit, anda membangun kekuatan, momentum untuk mencapai kedamaian. Kemudian bila sudah cukup kualitas2 yang bagus, pikiran akan beranjak ke meditasi yang bagus dan rasanya seperti “hari gajian”. Dalam meditasi2 yg buruklah kebanyakan usaha-usaha yg anda lakukan. Dalam retreat baru2 ini di Sidney, selama waktu interview, seorang wanita memberitau saya bahwa dia pernah marah pada saya sepanjang hari, tapi untuk dua alasan yang berbeda. Dalam meditasi terdahulunya dia mengalami waktu yang sulit dan marah pada saya karena tidak membunyikan bel lebih awal untuk menghentikan meditasi. Dalam meditasi berikutnya dia memasuki kondisi kedamaian yang indah dan marah pada saya karena terlalu cepat membunyikan bel. Padahal sesi-sesinya semua sama panjang, satu jam pas. Jadi tak bisa salahkan guru karena membunyikan bel.
Inilah yang akan terjadi saat anda merencanakan persiapan untuk masa depan, dengan berpikir,” Berapa menit lagi bel akan berbunyi?” Itulah saatnya anda menyiksa diri sendiri, anda memikul beban berat yg seharusnya bukan urusan anda. Jadi berhati-hati jangan membawa kopor yg berat berisi “Berapa menit lagi akan berakhir?” atau “Mau ngapain lagi berikutnya?” Jika itu yang anda pikirkan berarti anda tidak memperhatikan hal2 yang sedang terjadi saat ini. Anda bukan sedang bermeditasi itu namanya. Anda kehilangan alurnya dan sedang mencari masalah. Dalam kondisi meditasi jagalah perhatian anda terhadap masa sekarang, pada titik dimana anda bahkan tak tau hari apa itu atau jam brapa, pagi? Sore? – tak perlu tau! Yang perlu anda tau adalah momen apa sekarang ini — saat ini! Dengan cara ini anda tiba di skala waktu biara yang indah dimana anda sedang bermeditasi saat ini, tidak menyadari berapa menit sudah berlalu atau yang masih tersisa, bahkan tidak ingat hari apa.
Dulu, saat menjadi biksu muda di Thailand, saya bahkan lupa tahun berapa saat itu! Luar biasa hidup dalam dunia tanpa waktu, dunia yang bebas dari kendali waktu seperti dunia normal dimana kita berada sekarang. Dalam dunia tanpa waktu, anda mengalami saat ini, sama seperti makhluk bijaksana yg telah mengalami saat yang sama ini selama ribuan tahun. Selalu seperti ini, tiada beda. Anda masuk ke dalam kenyataan sekarang. Kenyataan sekarang bagus sekali dan mempesona. Saat anda melepaskan semua masa lalu dan masa depan, rasanya seperti anda hidup kembali. Anda disini, anda sadar. Inilah kondisi pertama dari meditasi, kesadaran ini hanya terhadap saat ini. Mencapai sampai sini, anda sudah melakukan hal yg bagus. Anda sudah melepaskan beban pertama, yg menghentikan meditasi mendalam. Jadi berusaha keraslah untuk mencapai kondisi pertama ini sampai benar-benar terbentuk kokoh. Selanjutnya kita akan memoles kesadaran saat ini kedalam kondisi kedua dari meditasi — kesadaran hening saat ini.
Ditulis dalam Kisah | 1 Komentar »
Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang baik dan cinta damai. Masyarakat pada kerajaan tersebut saling menyayangi seperti satu keluarga besar. Mereka semua menghormati raja dan menjulukinya Raja Abadi.
Nama besar Raja Abadi tersebar sampai ke seluruh pelosok. Namun, reputasinya membuat raja tetangga yang memerintah iri hati. Raja tetangga ini memutuskan untuk berperang melawan Raja Abadi serta menaklukkan kerajaannya.
Ketika berita tersebut sampai ke istana Raja Abadi, para menteri menasehatinya untuk mempersiapkan perang sebaik-baiknya, tetapi raja menentangnya, “Perang itu kejam. Pihak mana pun yang menang, banyak orang yang akan benar-benar menderita dan tewas. Jika kita berperang dengan kerajaan tetangga, kerajaan kita akan jadi porak-poranda dan akan timbul kebencian yang tidak ada habis-habisnya. Saya akan turun takhta sebagai pertukaran untuk kehidupan yang damai bagi rakyatku.”
Dengan mengabaikan protes dari para menteri, raja dan puteranya, sang putra mahkota, pergi ke daerah pegunungan yang jauh dan menjalani hidup yang terpencil. Kemudian raja yang baru mengambil alih kerajaan tersebut tanpa perlawanan sedikit pun. Namun ia tetap merasa takut kalau sewaktu-waktu Raja Abadi akan kembali untuk merebut kerajaannya. Untuk mencegah hal tersebut , ia mengumumkan bahwa ia akan bermurah hati memberi hadiah kepada siapa pun yang dapat menangkap Raja Abadi.
Pada suatu hari, raja abadi berjumpa dengan pengembara yang sedang beristirahat di bawah pohon. Lalu ia bertanya kepada pengembara itu, “Kamu kelihatan sangat kurus dan lelah. Dari mana asalmu?” “Saya berasal dari negara yang sangat jauh, Saya sedang tertimbun dengan hutang dan tidak punya cara untuk membiayai isteri dan anak saya. Saya mendengar Raja Abadi adalah seorang yang murah hati, oleh sebab itu saya datang kemari untuk meminta pertolongannya,” jawab pengembara itu.
“Saya adalah orang yang kamu cari. Saya turut prihatin kepadamu yang sedang dalam situasi yang buruk, tapi saya kuatir tidak dapat membantumu lagi,” kata Raja Abadi. Mendengar pengakuan ini, pengembara tersebut berbicara sambil menangis, “Jika saya tidak dapat melunasi hutang saya, saya pasti akan dibunuh saat pulang ke rumah, dan isteri serta anak saya akan mati kelaparan. Apa yang harus saya perbuat?”
Iba dengan perkataan pria tersebut, Raja Abadi menghiburnya, “Janganlah berputus asa. Saya mendengar raja yang baru telah berjanji untuk memberi hadiah yang luar biasa bagi siapa pun yang dapat menangkap saya. Cukup serahkan saya saja dan kamu akan menjadi kaya raya.”
“Saya tidak tega melakukan itu. Kamu adalah orang yang sangat baik,” kata pengembara terkejut.
“Saya pernah bersumpah saya akan melakukan yang terbaik untuk menolong siapa pun yang sedang membutuhkan. Karena raja baru menginginkan saya, biarlah saya menggunakan yang terbaik dari sisa hidup saya dan membantumu melunasi hutang-hutangmu,” bujuk Raja Abadi.
Dengan segan, pengembara mengikat Raja Abadi dan membawanya ke istana. Ketika putera mahkota mendengar tentang hal itu, dengan tergesa-gesa ia menuju ke istana, namun ayahnya sudah dibawa ke tempat eksekusi. Pesan terakhir Raja Abadi, “Sudah menjadi kewajiban kita untuk bermurah hati dan memperhatikan sesama. Kita tidak boleh membiarkan kesulitan-kesulitan atau kesengsaraan mengubah cara kita memperlakukan orang.”
Sang putera mahkota tahu pesan-pesan tersebut ditujukan padanya. Ia juga tahu kalau ayahnya tidak menginginkannya membalas dendam atas kematiannya, tapi hatinya dipenuhi rasa pedih. “Ayah saya telah dibunuh. Bagaimana mungkin saya dapat hidup dengan tenang mulai saat ini? Saya harus membalas dendam,” tekad putera mahkota.
Ia kembali ke kota, tempat ia tinggal dengan menyamar di rumah rakyat biasa. Putera mahkota membantu pemilik rumah menanam sayur-sayuran. Ia sangat mencurahkan perhatiannya saat menaman sayur-sayuran tersebut, dan sayur-sayurannya tumbuh dengan subur. Ketika seorang menteri dari pengadilan kerajaan menyantap sayur-sayuran yang dihasilkan putera mahkota, ia sangat memujinya dan meminta putera mahkota untuk menyiapkan santapan untuk raja yang baru.
Raja sangat menikmati santapan tersebut, sehingga ia memutuskan untuk mempekerjakan putera mahkota yang masih muda ini untuk dirinya. Berangsur-angsur putera mahkota muda tersebut mendapat kepercayaan raja dan menjadi pengawalnya.
Suatu hari raja dan rombongannya pergi berburu ke pegunungan-pegunungan. Ia bersama sang putera mahkota terpisah dari rombongan lainnya dan tersesat. Setelah mengembara di pegunungan berhari-hari lamanya, raja kelelahan dan kelaparan. Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Ia mempercayakan pedangnya kepada sang putera mahkota dan tertidur lelap. Kepala raja bersandar pada pangkuan putera mahkota muda.
Inilah kesempatan amat baik untuk membalas dendam atas ayahnya! Tapi sang putera mahkota ragu-ragu. Hatinya berkata, “Sewaktu ayah masih hidup, ia selalu mengajarkan saya untuk mengasihi dan menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Meskipun raja yang baru tamak dan tidak berperikemanusiaan, melihatnya tertidur lelap di pangkuanku, ia tampak seperti ayahku sendiri. Lagipula, ia adalah ayah dari seseorang juga.”
Raja baru dengan bergegas terbangun. Ia berkata bahwa telah bermimpi kalau Raja Abadi dan putera mahkotanya sedang berusaha membunuhnya. “Meskipun ia seorang raja, ia masih tidak dapat tidur dengan lelap,” sang putera mahkota merenung sendiri, “Ia pasti benar-benar sudah dikuasai oleh rasa takut.” Putera mahkota tiba-tiba merasa iba terhadap raja tersebut. Ia berkata kepada raja, “Tidurlah kembali. Saya di sini untuk melindungimu. Kamu tidak perlu takut.”
Setelah tidur kembali, seketika raja terbangun kembali. “Saya bermimpi tentang sang puter mahkota lagi, dan ia mengatakan tidak akan memaafkan saya.” Ia bangun perlahan-lahan dan mulai bercerita, “Semenjak saya menyerbu kerajaan ini dan membunuh Raja Abadi, saya tidak melewati hari yang tenang. Seakan-akan saya hidup dalam neraka, terus-menerus disiksa oleh rasa takut dan kepedihan yang mendalam. Betapa menyesalnya saya atas apa yang telah saya perbuat.”
Sang putera mahkota dapat merasakan bahwa raja tersebut benar-benar menyesal. “Janganlah takut. Saya adalah putera mahkota yang kamu takuti. Saya harus mengakui bahwa saya berniat membunuhmu sewaktu kamu sedang tertidur. Tapi saya teringat ayah saya dan bagaimana ia selalu mengajarkan saya untuk melayani sesama dengan kebaikan. Saya tidak mau mencemarkan namanya, sehingga saya putuskan untuk melupakan semua dendam.”
Raja sangat terharu mendengar apa yang dikatakan putera mahkota, “Terima kasih banyak telah memaafkan saya. Saya tidak dapat mengungkapkan rasa terima kasih saya kepadamu, tapi saat ini kita berdua tersesat di dalam hutan. Jika kita tidak dapat keluar dari sini dengan segera, kita pasti akan tewas.”
Sang putera mahkota tertawa dan berkata, “Kita tidak tersesat. Saya dengan sengaja mengarahkanmu menjauh dari yang lainnya. Sekarang saya akan mengeluarkanmu dari hutan.”
Sewaku raja kembali ke istana, ia memanggil seluruh menteri-menterinya. Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada sang pangeran, ia mengumumkan bahwa ia akan mengembalikan seluruh kerajaan kepadanya. Melihat betapa baiknya dan murah hatinya sang putera mahkota, menteri-menteri bersuka cita mengelu-elukannya raja.
———————————————————-
Pesan Master Cheng Yen:
Kebaikan dan kejahatan hanyalah memiliki batas yang tipis. Meskipun sang putera mahkota menghormati ayahnya dan selalu mengingat pesan orangtua tersebut dalam pikirannya, namun ia tetap merasa sulit untuk memaafkan orang yang telah membunuh ayahnya. Untungnya, ia menemukan kekuatan pada kebaikan dan rasa menyayangi yang telah dicontohkan oleh ayahnya, hingga akhirnya ia mampu memaafkan dan melupakan dendamnya.
Pada umumnya orang sulit untuk menenangkan pikiran. Sewaktu hal-hal buruk terjadi padanya, kebajikan dan maksud-maksud baik hilang dari pikirannya. Sikap mereka menjadi aneh dan mereka menyimpang dari jalan yang benar. Oleh karenanya, sangatlah penting bagi kita untuk menjaga pikiran kita dan menghindari pikiran-pikiran buruk sehingga kita dapat kembali pada sifat dasar yang murni dan tetap pada jalan yang benar.
Ditulis dalam Kisah, Meditasi, Renungan | Dengan kaitkata Cinta Kasih, Master Cheng Yen, Tzu Chi | 8 Komentar »
Prolog :
Yadisam labhate bijam
Tadisam labhate phalam
Kalyanakari ca kalyanam
Papakari ca papakam
Sesuai dgn benih yang telah ditabur
Begitulah buah yang akan dipetiknya
Pembuat kebaikan akan menerima kebaikan
Pembuat kejahatan akan menerima kejahatan
(Samyuta Nikaya, 1.293)
Artikel ini saya tulis utk menambah wawasan ttg nasib, takdir, dan bagaimana merubahnya. Tulisan ini sekedar berbagi pencerahan untuk yang berminat, bagi yang tak berminat ga usah dibaca. Tentu saja nuansa Buddhisme nya cukup kental, namun aplikasinya universal dan bisa dilakukan siapapun dan dimanapun.
Mari kita mulai.
Banyak orang yang menghadapi berbagai rintangan dlm perjalanan hidupnya. Kegagalan dalam usaha atau kegagalan dalam perkawinannya maupun penderitaan karena penyakit. Dalam perjalanan hidup ini banyak sudah kita saksikan orang miskin menjadi sukses dan kaya namun tak kalah banyaknya orang sukses yang mengalami kegagalan dalam hidup. Manusia benar-benar terikat kuat oleh nasib yang telah ditakdirkan. Segala kesuksesan, kegagalan, kegembiraan dan kesedihan, pertemuan dan perpisahan, berbagai macam pengalaman semuanya dikendalikan oleh nasib dan takdir. Sedikitpun tak bisa meloloskan diri dari nasib yg telah di takdirkan. Tak sedikit orang berusaha merubah nasibnya namun lebih banyak yg tak tahu bagaimana dan apa prinsip utama merubah nasib. Dan memang tak mendapatkan cara yang tepat hingga akhirnya menjadi sia-sia belaka. Lanjut Baca »
Ditulis dalam info, Kisah, Renungan | Dengan kaitkata Buddhisme, Karma, Nasib, Tips | 23 Komentar »
Pernah menikmati film yg berisi bermacam rasa? Yang membuat kita tertawa, menangis, marah, tersenyum, geram dan berbagai perasaan lain sekaligus dalam waktu bersamaan? Kalau belum, silakan nikmati “Slumdog Millionaire” besutan sutradara Danny Boyle. Film yang memenangkan 8 piala Oscar dan meraup lebih kurang 326 Juta dollar Box-Office ini menyuguhkan pemandangan yang begitu alami tentang keadaan di pemukiman kumuh di Mumbai, India. Tak lupa membanjiri kita dgn berbagai macam problema yg dialami oleh kalangan miskin disana.
Film dimulai dgn dua orang polisi yg sedang menginterogasi seorang pemuda dengan berbagai siksaan brutal sampai pingsan. Berusaha memaksa pemuda itu mengaku kalau telah melakukan penipuan. Pemuda itu bernama Jamal, kontestan “Who Wants to be A Millionaire” versi India. Jamal telah berhasil memenangkan 10 Juta Rupee ( US$200.000) dan telah tiba pada pertanyaan terakhir utk memenangkan 20 Juta Rupee yg dijadwalkan berlangsung esok harinya. Pembawa acara merasa curiga karena seorang pemuda tak bersekolah dari kawasan kumuh berhasil menjawab berbagai pertanyaan sulit di acara favorit tersebut, sehingga melaporkan pemuda tersebut ke polisi atas tuduhan penipuan. Uniknya, jawaban setiap pertanyaan dalam acara tersebut ada hubungannya dengan pengalaman masa kanak-kanak Jamal yang tak terlupakan di kawasan kumuh tempat tinggalnya. Itulah kuncinya mengapa setiap pertanyaan berhasil dijawab dengan tepat. Dari potongan kisah ini sekaligus menyadarkan bahwa dalam mengadili seseorang kita selalu hanya memandang penampilan luarnya saja. Orang miskin tak bersekolah dari kawasan kumuh “pasti” bodoh dan tak tau apa2. Begitulah skema yg sudah terpatri dlm pikiran kita.
Film ini juga menyuguhkan sebuah dilema yang selama ini mungkin tak terpikir oleh semua orang. Sebuah potret kehidupan anak2 jalanan yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang tak bertanggung-jawab. Anak-anak yg seharusnya menikmati kehangatan keluarga di usia belia tersebut di latih dan dipaksa untuk mengemis. Ada penggalan film yg membuat kita berlinang airmata sekaligus marah, adegan dimana seorang anak dilatih agar mahir bernyanyi dengan suara emasnya namun setelah pandai anak tersebut di butakan matanya dgn air keras supaya membuat orang iba dan memberi sedekah saat dia menyanyi sambil mengemis. Hal tersebut bukan sekedar cerita karangan sutradara atau penulis naskah, melainkan kisah nyata yg sering terjadi di dunia anak2 jalanan. Jadi, dimana dilemanya? Tentu saja dilemanya saat kita hendak memberi sedekah, kalau kita beri maka organisasi anak2 jalanan akan makin kokoh menancapkan kakinya. Kalau tak kita beri, berat sekali siksaan yg bakal diterima anak2 tersebut kalau setoran hariannya tak cukup. Sementara para pejabat hanya sibuk dgn targetnya utk memenangkan pemilu berikutnya serta sibuk membagi2kan jatah koalisi partai.
Yang paling ironis adalah kehidupan nyata bintang2 cilik dalam film peraih Oscar tersebut. Coba Klik link ini, http://seattletimes.nwsource.com/html/entertainment/2009222264_slumdog150.html
Bocah 10 tahun pemeran “Slumdog Millionaire” diusir dari rumah kumuhnya oleh polisi dgn tongkat bambu. Beberapa menit kemudian gubuk reot yg dia sebut “rumah” itu di buldoser berikut lusinan gubuk2 ilegal lainnya di kawasan kumuh Mumbai, India.
Nasib gadis cilik pemeran Latika saat kecil tak kalah menggenaskan saat ayahnya mencoba menjual dirinya kepada penawar tertinggi. Klik saja beritanya di sini http://www.newsoftheworld.co.uk/news/271325/Slumdog-Millionaire-star-Rubina-Ali-who-played-Latika-is-offered-for-sale-by-dad-Rafiq-Qureshi-to-the-News-of-the-Worlds-Fake-Sheikh.html
Anak-anak tersebut dibawa dari dunia penuh derita dan kekurangan ke dunia gemerlap dan berjalan melalui karpet merah sebagai tamu di pesta meriah piala Oscar penuh keangkuhan dunia, diberi toss oleh seluruh Hollywood, kemudian dilempar kembali ke dunia nyata dimana mereka hidup bersama keluarganya dalam kemelaratan. Istilah kasarnya “Nama begitu populer tapi kantongnya cekak”. Kalau sudah begitu “Apalah arti sebuah nama??”
Kisah-kisah dalam film ini mirip sekali dengan kawasan-kawasan kumuh di Indonesia. Setiap adegan ttg kemelaratan dan penderitaan dalam film ini selalu mengingatkan saya tentang kondisi-kondisi rakyat miskin di negara kita. Oh ya, satu lagi gambaran yg mirip yaitu agama mayoritas menindas dan melakukan penganiayaan terhadap agama / aliran minoritas. Dalam film itu bahkan anak-anak yg berbeda kepercayaan dikejar dan diburu untuk dihabisi, sebuah potret kehidupan yg layak kita renungkan untuk mengoreksi gaya hidup beragama yg seperti tidak beragama.
Kesimpulannya, film ini benar-benar menyuguhkan semua sisi kehidupan level bawah yang kompleks dan penuh hiruk pikuk. Bahkan pemeran Latika cilik sepulang dari acara penyerahan piala Oscar di Hollywood mengatakan dirinya ingin bisa keluar dari lingkungan kumuhnya yg penuh teriakan dan makian, sangat jauh dibandingkan kondisi tenang hotel tempat dia tinggal selama acara berlangsung. Semua kisah dalam kehidupan nyata kalangan miskin dan perkampungan kumuh ada disini. Dari kwalitas pendidikan yang amburadul, minus air bersih, eksploitasi kanak-kanak, pelacuran, pengangguran, konflik agama, premanisme sampai jual-beli narkoba.
Dan di akhir film, saya hanya bisa menghela nafas melihat beratnya kehidupan yang harus dilalui anak-anak terlantar dikawasan kumuh kita. Kapan ada uluran tangan dari yang namanya “wakil rakyat” yang tinggal di istana berlantai granit dan bisa tidur nyenyak di kasur lateks serta bepergian dgn “kereta kencana” keluaran terbaru, yg jauh sekali dari dan bahkan jarang sekali melihat semua ke-kumuhan tersebut. Rupanya rakyat diwakili hanya di bagian-bagian senangnya saja, sementara bagian susahnya tanggung sendiri. Masih pantaskah menyandang nama “Wakil rakyat” ?? Silahkan mencari berbagai alasan pembenaran.
Ditulis dalam Kisah, opini, Renungan | Dengan kaitkata anak jalanan, Film, Renungan | 20 Komentar »
Nama Sun Go Kong bagi masyarakat kita sudah tidak asing lagi. Sebuah stasiun televisi swasta pernah menayangkan film serial “Kera Sakti” ini sampai berulang-ulang. Sun Go Kong dikenal karena kesaktiannya melawan segala jenis siluman. Selain dia, tokoh sentral lainnya dalam film ini adalah biksu Tong yang selalu mengendalikannya selama perjalanannya ke Barat mencari kitab suci.
Pertanyaannya, apakah tokoh Hsuan-tsang yang dalam cerita serial “Kera Sakti” terkenal sebagai biksu Tong itu benar-benar pernah hidup di Tiongkok? Lanjut Baca »
Ditulis dalam Kisah, Renungan, info | Dengan kaitkata Agama, Kisah, legenda, sejarah, Bhiksu Tong, Kera sakti | 174 Komentar »
Ketika membaca ttg robot Aiko di blog Kweklina. Terbaca komentar seperti ini :
gimana pun juga dia hanyalah robot yang diciptakan oleh tangan manusia – yang tak lepas dari ketidaksempurnaan.
Sesempurnanya karya cipta manusia tak akan ada yang menyaingi kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Apakah anda menemukan kontradiksi di kalimat tersebut? Lanjut Baca »
Ditulis dalam opini, Renungan | Dengan kaitkata bingung, ciptaan, Kontradiksi, manusia, Tuhan | 37 Komentar »



